ME TIME

Assalamu'alaikum pembaca yang budiman ataupun pakdiman.. yang ketcheh ataupun julid, hehehe.. Saya bukannya semedi loh karena lama gak muncul, tapi yaaa.. maklum lah ya, emak-emak fulltime macam saya gini kan hampir gak pernah nganggur, adaaaaa ajaaaa yang dikerjain, ya ngerjain anak, ngerjain suami, hohoho. Skip! Sebelum badai galfok (gagal fokus) melanda lebih parah.

Me Time.. judul di atas sepertinya diharapkan bisa mewakili suara hati emak-emak yang anaknya pathing kececer #Hush! Maksud saya, yang anaknya masih kecil nrithil gitu, tau arti nrithil? artinya anak yang banyak, masih kecil, plus jarak lahirnya berdekatan.

Emang sih, anak saya baru dua, tapi jarak mereka cuma 2,5 tahun aja. Artinya mereka masih menjadikan saya sebagai makhluk yang most-wanted di rumah, Jargon andalan mereka simple, "Mamaaaaa..!!". Keliatannya cuma satu kata, tapi intonasinya cerdas, kuat dan beringas saat gak direspon cepat. 

Balik ke topik. Me Time, menurut bahasa saya artinya adalah waktu bagi diri sendiri, entah dengan cara benar-benar menyendiri di suatu kegiatan, di suatu waktu, atau di tempat tertentu, atau dengan teman-teman di luar rutinitas keseharian yang tidak biasa ditemui.


Baiklaahh.. lalu, "Me Time" yang kayak gimana yang kau mau, Mak? Ke Salon and Spa? Belanja emas-emasan? Atau mengunci diri di kamar? Ngg.. Atau datang ke Kajian Ustadz sunnah dan ngikutin beliau seharian pindah dari masjid satu ke masjid yang lain? Setdah, itu stalking apa niat kajian tuh?

*Choice yang terakhir gak boleh masuk kategori me-time kayaknya, datang ke kajian pan kudu sekeluarga yak, biar masuk sorga bareng-bareng gitu ceritanya. Aamiin..

Menurut Psikologi Tiara Puspita, "me-time" Ibu gak harus mewah, bergantung pada waktu, kebutuhan, dan budget masing-masing. Budget?! Iyalah! Kalo masih sekelas isteri buruh Jepang gini ya jangan disamain sama isterinya Ardi Bakrie lah. Bisa terjangkit penyakit Desperate dini nanti karena gak mampu terima realita yang di luar ekspektasi.

So, karena pentingnya me-time dari sisi psikologis kaya penjelasan di atas, makanya saya curi-curi kesempatan untuk menulis wish-list tentang kegiatan me-time ala saya yang bener-bener pengen diwujudkan. Separuhnya sambil ngarep semoga Suami baca tulisan ini (Amin ya Allah), baca secara kebetulan kaya di drama-drama, lalu tergerak hatinya memberikan me-time impian saya sebagai salah satu kejutan langka.

Akh elah mbak, tinggal colek dikit pak Suami suruh buka blog aja pake ribet bayangin adegan drama segala

Aiihhh.. gak ngerti sih situ, tingkat sensitifitas emak-emak kaya saya tuh tinggi loh ya, ngalah-ngalahi testpack! Gak jarang segala sisi mau dibikin dramatis dikit biar kerasa efek melankolisnya, HAHAHA.

So, shall we get started yak..
  1. Bebersih rumah

    Jangan heran dengan "me-time" ala Nginem kaya gini, buat saya yang masih tersisa OCD (Obsessive Compulsive Disorder), bebersih rumah sering terganggu saat anak-anak riweuh panggil-panggil. Konsentrasi jadi buyar, detail yang harusnya kinclong jadi kelewatan karena anak-anak gak bisa ditinggal agak lama. Saya kadang suka puyeng kalo ngeliat sesuatu bukan pada tempatnya, apalagi kalau ngeliat debu yang udah tebel di permukaannya meja atau rak macam foundation yang dipake bebanci di pinggir jalan, rasanya gatal pengen ngelap. So, saya bener-bener butuh waktu paling tidak sekali dalam sebulan untuk bisa bebersih rumah mulai dari ujung depan sampai ujung belakang, ALONE.
    .
    .
  2. Menulis

    Hobi saya dari SD adalah menulis, otodidak sih, gak pernah belajar secara formil, cuma modal baca-baca gaya penulisan bebas dari penulis novel, atau artikel di majalah, atau yang sekarang freestyle-writing yang banyak tersebar di medsos. Penulis yang saya tau pun sangat sangat terbatas. Banyak rekomendasi penulis yang bagus, tapi keterbatasan saya lah yang menghalangi sampainya karya-karya penulis itu pada saya. Makanya peningkatan kemampuan menulis saya pun lambat walau saya sudah mulai suka menulis sejak SD.

    Tapi... walaupun begitu, saya tetap suka menulis, random thought sih, tapi sekedar untuk menyalurkan hobi saya rasa bukan masalah kan? Dan menulis bagi saya juga kegiatan yang membutuhkan waktu "sendiri" alias me-time. Tanpa gangguan dari orang lain. Karena kalau nekad menulis apalagi yang berbau filosifs-filosofis gitu maka yang terjadi adalah : sekali kalimat yang tersusun rapi di pikiran akan dituangkan ke dalam bentuk tulisan, bisa langsung buyar saat mas Naell bilang : "Ma, adek kayaknya eek. Bauk!". Untuk itu, "me-time" menulis paling gak harus bisa saya dapatkan saat mood menulisnya lagi bagus.
    .
    .
  3. Membaca

    Basicnya, saya emang suka baca. Bacaan apapun yang bisa dijelaskan secara general ya, bukan bacaan yang membutuhkan keahlian spesifik macam mata kuliah spesialis Kulit Kelamin misalnya, hehehe. Bacaan yang saya suka ya umum lah.. Novel, Buku panduan kesehatan anak, buku sirah, baca website agama, baca beranda fesbuk, postingan grup WA, atau baca caption foto yang ada di Instagram, semuanya suka.

    Tapi masalahnya, kesempatan untuk leha-leha baca santai kaya gitu sangat jarang, boro-boro baca novel Harry Potter yang tebelnya ratusan halaman, baca WA dari grup arisan kampung aja suka telat-telat, lha gimana wong emang jarang pegang HP kalo gak nunggu si krucil tersibukkan oleh maenan, atau lagi maen ke rumah Yangti. Dan, saya pastikan saya kadang butuh "me-time" untuk bebas membaca seharian penuh. Dua harian juga gak nolak.
    .
    .
  4. Melukis

    Saya juga suka sama seni lukis, meskipun gak ngerti-ngerti amat sama jenis apalagi metode lukisan, dan gak jago-jago amat melukis, tapi saya suka aja. Gak dilarang kan orang awam gemar melukis? Dan kegiatan satu ini juga butuh konsentrasi yang lumayan tinggi, bentuk akurasi dengan model atau dengan foto yang akan di re-paint bisa kacau kalau lagi-lagi anak-anak saling berteriak memanggil seseorang yang mereka sebut dengan MAMA, dan itu saya (-_-)". Maka dari itu, berikanlah saya "me-time" kalau emang lagi mood untuk melukis. Pehliss..
    .
    .
  5. Menjahit

    Ibu saya adalah tukang jahit dulunya, pernah kerja di konveksi kecil-kecilan membawa beberapa pengalaman yang cukup untuk diturunkan ke saya. Awalnya gak begitu tertarik sama yang namanya mesin jahit, tapi begitu kenal sama yang namanya Pak Suami, saya jadi termotivasi pengen jahitin baju untuk dieee.. *ciyeehhh*

    Sejak saat itu saya menemukan keasyikan tersendiri lewat menjahit, proses aplikasi ukuran ke pola, cutting, sampe puyengnya mikirin jahitan yang mengsle. Dan hasilnya adalah beberapa pakaian yang saya dan suami kenakan adalah buah dari jahitan saya, saya juga membuat baju untuk Naell ataupun Elna sebagai bentuk nyata ketertarikan saya pada seni menjahit. Dan lagi-lagi menjahit butuh konsentrasi tinggi, salah aplikasi ukuran ke pola bisa mengakibatkan pasangan kain selegenje alias gak nyambung, dan itu sering terjadi saat saya nekad menjahit ketika anak-anak gak ada yang jagain selain saya. So, Me Time Please..
    .
    .
  6. Gambar desain arsitektural

    Kalian pasti berfikir saya beneran multitasking yeekaann,, ngakuu hayooo.. HAHAHA.

    Saya emang tertarik sama design jauuhh sebelum saya kuliah. Seingat saya dulu saat masih SD, saya suka banget lomba sama si Gendus Riska gambar rumah-rumahan, ceritanya sih rumah masa depan kami masing-masing gitu, cuma yang digambar hasilnya lebih mirip istana barbie yang lengkap sama printilan-printilas girlie nya. Kalau itu rumah beneran, bisa jadi emang rumah horang kayah kali ya. 

    Baidewei, saya pertama kali lewat di Kertajaya, rada dejavu pas ngeliat rumah gedongan yang berdiri jejeran di sana, karena ada satu rumah yang detail pagarnya kayaknya dulu pernah saya gambar gitu, tadinya saya ngira itu dejavu saya pernah mimpi jadi orang kaya gitu, gak taunya emang beneran saya pernah berimajinasi menggambar tampak depan rumah yang persis kaya gitu. Weh.. mengesankan ya saya ini..

    Untuk sekarang, karena sudah tau ilmu tentang design, dan dengan aplikasi Sketch Up yang mempermudah mewujudkan imajinasi desain saya, bolak-balik saya melatih diri untuk menggambar detail rumah impian saya, yang aseliiiii pengen saya wujudkan jika nanti ada rejekinya. Cuma ya gitu, meskipun tampak fun tetep aja menggambar desain butuh kesendirian dalam menjaga konsentrasi, sekali diajak ngomong saat kita lagi mikir gaya desainnya, hasilnya muka kita jadi kaya orang bego, nge-hank gak karuan. Dijawab enggak, ngerti pertanyaan atau omongan lawan bicara juga enggak.
    .
    .
  7. Nonton tayangan favorit

    Tayangan favorit di tivi lokal mah gak ada, tapi saya seneng liat acara di TV kabel, entah acara kuliner, memasak, reality show, discovery channel, atau drakor. Khusus yang terakhir sudah mulai dikurangi lah, gak enak sama Allah yang lewat pak Ustadz udah sering ngingetin kalo gak baik keseringan nonton drakor, bisa menjerumuskan wanita ke dalam sifat kufur suami katanya. Ya iyalah, orang yang imajinatif kaya saya kan suka baper sama adegan mesra pasangan drakor, dan tanpa sadar membandingkan sama muka suami yang jauuhh dari sifat romantis.

    Tapi untuk tayangan lain, saya tetep butuh waktu untuk menikmati tivi itu sendirian, lagi-lagi tanpa diinvasi sama Mas Naell yang jadi penggemar sejatinya Upin Ipin, Tayo, Pororo, Pada jaman dahulu, RobocarPoli dan sejenisnya.
    .
    .
  8. Salon and Spa

    Yang ini adalah "me-time" yang bisa terbilang butuh budget agak lebih, makanya saya taruh urutannya di paling akhir. Me-time jenis ini adalah impian semua wanita, terutama yang jadi Fulltime Mom kaya saya. Enaknya dipijit, dihilangin daki nya, di krimbat, si spa, seolah menjadi penawar lelah rutinitas yang dijalani dengan anak-anak setiap harinya. Jadi.. berharap ada kesempatan untuk bisa merem-merem cantik di Salon dan Spa khusus muslimah adalah salah satu resolusi yang belum pernah terwujudkan sejak punya anak.
    .
    .
  9. Memasak

    Tadinya masak bagian dari me-time, tapi karena udah dilakukan tiap hari, jadi dihapus aja kali yak. Karena terbukti dapat intervensi dari anak-anak atau enggak, masakan saya tetep jadi dan enak tuh. Hohohoho.

Me Time, kalimat yang sederhana namun sangat berarti bagi wanita. Jangan bilang kami manja atau bilang kalo "Me-time" adalah bentuk kurang ikhlasnya kami mendedikasikan hidup sebagai Fulltime Mom ya, tapi lihat dari sisi humanisnya, apakah ada pekerja kantoran (yang notabene digaji sekalipun) harus bekerja 24 jam tanpa libur dan tanpa diselingi kegiatan yang variatif di luar rutinitasnya? Kalau ada, dan orangnya masih hidup, suruh temuin saya, saya akan meguru ke dia. Gimana caranya dia bertahan hidup dan tetep konsisten menjalankan tugasnya.

Sekali lagi, ini emang curcol ya.. i'll get over itu, i just gotta be dramatic first untuk membumbui tema tulisan yang di-mupengin banyak emak-emak di dunia ini.

Ah.. seandainya gak cuma variety show I Can See Your Voice yang diadaptasi dari Korea ke Indonesia, melainkan reality show The Return Of Superman juga, saya pasti akan nyuruh suami saya untuk daftar paling awal. Enak kali ya dapat jatah free dan memaksimalkan "me-time" selama weekend, hehehe. Sekali-kali biar suami merasakan lelahnya kerja di kantor, tapi weekend masih harus ngurusin anak-anak tanpa bantuan isteri. Jajal pengen ndelok pak Bojo semaput po ra yo? hehehe.

Ya sudah lah, udah malam.. ikan bobok.. *singing*, Mata udah mulai sepet karena mengerjakan tulisan ini di malam hari saat nak-kanak sudah mulai terlelap, kan jarang banget saya bisa tahan melek sampe jam segini. Biasanya kalo udah ngelonin juga ikut bablas dan baru bangun keesokan harinya.

Ya sudah, mohon doanya ye Mak, sapa tahu Suami tiba-tiba terjangkit penyakit KEPO dan meriksa tulisan di blog ini, lalu goal nya adalah memberikan saya Me Time seminggu full, Hehehe, Ngipiiii...


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
; //]]>