FULLTIME MOM

Assalamu'alaikum warahmatullaah mantemaann...

Bulan baru, status baru. Yup! Saya membuka lembaran baru sebagai emak-emak sejati, yaitu emak-emak yang mempunyai visi dan misi menjaga dan memelihara aset dunia akherat, BUAHAHA!! Lebay banget sih.

Baidewai, saya mau sedikit cerita nih tentang farewell party ala temen-temen kantor saya kemaren, standart laahh.. cuma ya tetep bikin terharu, lha wong emang udah barengan selama 7 tahun lebih loh, bo'ong kalo gak ada rasa "kehilangan".

Saya mah aselliiii gak ngarepin apa-apa pas perpisahan kemaren, eehhh ternyata temen-temen diam-diam nyiapin farewell party di Hotel Bumi, makan buffet di sana dengan menu yang masyaAllah enaknyooooo, gak mikirin berat badan mah kalo udah di sana. Dari mulai Japanesse Menu sampai Ndesoisasi semua ada. Habis makan, saya hampir aja dipaksa untuk speech, tapi saya nya gak mau. Ya kaliiiiii.. bisa mewek gak jadi speech ntar kalo dipaksain. Cuma ya tetep sih, pas pulang dari Hotel Bumi saya mewek juga pas melukin temen satu-satu (khusus cewek ya!), hehehe.



Kadoan farewell dari temen-temen kantor 1

Kadoan farewell dari temen-temen kantor 2

Daaannn.. here i am, at home, with two cutest little kiddos, doing all those household cores.. trus abis gitu apa? Saya jadi hebat gitu?? Mendadak jadi wonder women? Bangga-banggain status baru? Enggaklaahhh... gak se-ekstrim itu, hehe.

Seperti tulisan yang sebelumnya, saya gak bisa nge-judge siapa yang lebih baik, Ibu Pekerja, atau Ibu Rumah Tangga. Karena masing-masing punya alasan yang kita gak harus paham. Siapa tahu Ibu pekerja itu harus bekerja karena ada uzur Syar'i, siapa tahu juga Ibu Rumah Tangga itu lebih diridhoi suaminya di rumah daripada di luar. Who knows?

Masalahnya, di era medsos sekarang ini, banyak sekali tulisan-tulisan yang kadang bernada tendensius terhadap salah satu status Ibu-ibu itu. Meskipun yang membagikan tulisan di medsos gak bermaksud menyindir siapa-siapa, gak jarang banyak juga yang merasa tersindir lalu membuat berbagai pembelaan sebagai wujud legitimasi terhadap justifikasi tersebut.

Nih, saya kasih tau ya bocorannya. Jadi Ibu rumah tangga emang rawan stress kalo gak punya iman yang kuat. Ini jadi lazim terjadi meskipun tanpa angka statistik yang membuktikan demikian. Kenapa? Ya itu tadi, jaman sekarang, Ibu-ibu yang sudah kenal internet akhirnya punya perbandingan dan penilaian terhadap status mereka sendiri, bahwa mereka harusnya patut menerima ini itu, patut diperlakukan seperti ini dan itu. Lalu kalau dihadapkan pada kenyataan yang gak sesuai dengan hayalan idealis mereka, jadinya apa coba? Stress kan??

Lha, munculnya tulisan yang terkesan tendensius terhadap status masing-masing Ibu, apakah itu pekerja atau rumah tangga, itu hanyalah sebatas hiburan agar mereka mampu menghargai status mereka sendiri. Ibu-ibu rumah tangga yang jarang dihargai profesinya, serentak memposting karya tulis online yang mendukung nilai-nilai positif menjadi Ibu rumah tangga. Gak jarang, Ibu Pekerja merasa tersindir dengan hal itu lalu terpicu untuk membuat tulisan serupa dan tersebar pula oleh Ibu Pekerja yang lain, gituuuu terus deh. Gak bakalan abis.

Balik lagi, gak ada yang lebih hebat. Apakah itu Ibu Pekerja atau Ibu Rumah Tangga. Karena di mata manusia, tetaplah hasil akhir yang akan di nilai. Apa itu hasil akhirnya? Ya penciptaan karakter dan kesuksesan anak di masa depan lah yang jadi tolok ukur.

Toh meskipun Ibu pekerja, mereka gak jarang sukses membentuk anak mereka menjadi orang yang berprestasi. Sebaliknya, meskipun berprofesi sebagai Ibu Rumah tangga, gak jarang gagal juga membentuk anak minimal menjadi pribadi yang sukses. Atau bahkan sebaliknya. Jadi, terlalu dini kalau bangga sama status-status itu sekarang, karena nilai akhir ditentukan oleh "akan jadi apa anak-anak nanti"

Kalau saya sih, tetep.. gak peduli sama penilaian manusia. Sukses enggaknya seorang anak di masa depan hanyalah NILAI PLUS. Yang terpenting sekarang, saya lebih memilih penilaian Allah yang menciptakan wanita pada fitrahnya yaitu sebagai Madrasatul'Ula. Eittsss, jangan dikira gampang ya profesi sebagai Madrasatul'ula ini! Sampai sekarang anak dua aja, saya masih gak ngerti harus mulai dari mana untuk mendidik anak saya agar sejalan dan sesuai dengan syari'at Islam.

Bangga menjadi Ibu rumah tangga sih Iya. Tapi bingung juga iya. Nah loh! Bangga nya bukan karena saya merasa lebih baik daripada Ibu-ibu pekerja yang meninggalkan anak-anak mereka untuk bekerja loh ya! Bukan! Tapi saya merasa lebih beruntung karena saya punya kesempatan untuk mencoba menjadi the real housewife, the real mom, and the real me! Bayangin, gak semua Ibu Pekerja dapat kesempatan kaya saya. Atau mungkin kesempatan ada, tapi kemauan yang belum kuat. Dan kesempatan menjadi The Real of those things itu gak saya dapatkan saat saya masih bekerja.

The Real Housewife : Saya berpotensi besar mendapatkan pahala dengan mengerjakan semua pekerjaan rumah untuk mendapatkan ridho Allah juga suami, ini sebagai salah satu bentuk pelayanan terhadap suami.

The Real Mom : Saya berpotensi menjadikan anak saya sukses dunia akhirat dengan bekal keilmuan dari Allah, saya bentuk karakter mereka dengan tangan saya sendiri, dan mereka menjadikan saya orang tua yang siap di segala waktu untuk jadi tempat sandaran sekaligus panutan.

The Real Me : Jujur nih, saya emang bosan banget kerja. Hehehe. Saya pengen cari suasana yang baru sebagai diri saya sendiri. Entah belajar ber-enterpreneur, atau hal kreatif lainnya kaya nge-blog gini. Dan salah satu yang bisa saya gali selama beberapa hari jadi Ibu rumah tangga adalah : Saya jadi menghargai berapapun yang suami kasih untuk saya, karena itulah rejeki saya.

Sudah dulu lah curhatnya, nanti kalau ada waktu luang bakalan dilanjut lagi. Annyeong Higyeseoooo...
Wassalamu'alaikum warahmatullaah..


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
; //]]>