ADA YANG SALAH DENGAN SHOLAWAT??


Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Well, saya gak bermaksud apa-apa dengan memasang judul yang mungkin bagi sebagian kalian sedikit bernada kontroversial yak.

Yang mendasari tulisan adalah akibat saya gerah juga ada beberapa oknum dari agama lain yang suka menanyakan hal serupa tentang Sholawat, dan bagi saya gak mutu. Baiklah, kita mulai dengan beberapa pertanyaan klise yang selalu mampir di komentar-komentar yang memposting tentang Nabi kami Sallaahu'alaihi wasalam (ﷺ).


KF = Kafir
MS = Muslim

KF : Kenapa Nabimu Muhammad menyuruhmu bersholawat padanya? Bahkan Tuhanmu Allah dan malaikat-malaikatnya pun bersholawat padanya. Masa iya Tuhan merendahkan diri dengan bersholawat pada makhluknya? Bukankah itu artinya Nabimu sendiri belum tentu selamat? Tuhan pun seakan tidak mampu menyelamatkannya karena ikut bersholawat. Kalau belum jelas selamat tidaknya, lalu kenapa kamu mengikuti semua ajarannya??

MS : Anda punya Bos besar yang sangat anda hormati, dia hidup sehat, tidak pernah sakit, serta kaya raya. Saat anda bertemu dengannya, anda berkata : Pak Bos, semoga anda sehat selalu dan rejekinya melimpah.

Lalu, apakah artinya doa anda tersebut menunjukkan bahwa Bos anda sedang tidak sehat dan tidak kaya? Tidak kan?! Bos anda tetap sehat, bos anda tetap kaya raya walaupun anda saat itu mendoakannya atau tidak mendoakannya .

Jika Bos anda dipuji oleh Presiden, apakah artinya Presiden sedang merendahkan dirinya sendiri dihadapan Bos anda? Logika yang anda pakai terbalik. Justru seharusnya, jika Presiden saja menghormati dan memuji Bos besar anda, bukankah mau tidak mau anda harus mengakui bahwa memang Bos anda tersebut adalah orang yang spesial? Betul?

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” [Al-Ahzaab: 56]

Bisa dianalogikan sendiri kan dengan spesialnya Nabi Muhammad ﷺ di hadapan Allah dan di mata kami?
cool onion head


KF : Ooh.. jadi, mengucapkan sholawat kepada Nabimu hanya sekedar basa-basi seperti yang dilakukan terhadap Bos besar saya?

MS : Terserah kalau anda menganggap suatu doa hanya sebuah basa-basi. Tapi.. dalam keyakinan kami, sholawat adalah basa-basi yang berpahala, dimana di dalamnya menunjukkan penghormatan kami, serta kecintaan kami terhadap Nabi ﷺ. Dan dengan sholawat yang anda katakan basa-basi tersebut, kami punya kesempatan untuk mendapatkan syafa'at di hari kiamat kelak.

Sholawat kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah salah satu bentuk ibadah, dan karenanya Allah memerintahkannya, bukan karena Allah tidak bisa menyelamatkan beliau, tapi karena Allah sendiri ingin mengajarkan agar kami menghormati seseorang yang Dia muliakan karena diciptakan untuk jadi Rosul di akhir jaman. Dimana pada jaman tersebut peradaban "keras" telah terbentuk, kejahiliyahan bertumpuk, dan Nabi kami harus rela hidup di tengah-tengah masyarakat yang seperti itu, lengkap dengan ujian yang tidak berhenti bahkan hingga beliau dihadapkan pada kematian.

Seperti yang kita semua tahu, masuk surga itu butuh usaha loh. Dan salah satu usahanya adalah dengan ibadah yang diterima Allah ta'ala. Terlepas dari apapun arti sholawat bagi kalian, kami meyakini bahwa Rosul ﷺ menggolongkan sholawat sebagai salah satu bentuk ibadah yang ringan, agar kami bisa dengan mudah mengucapkannya di berbagai waktu dan kesempatan, dan selanjutnya, kami insyaAllah bisa mendulang banyak pahala 'hanya' dengan bersholawat saja.

Sholawat kepada Nabi, itu menunjukkan posisi beliau memang hanya MANUSIA BIASA, bukan utusan yang tiba-tiba jadi Tuhan dan berhak disembah sama pengikutnya. Enggak! Dengan sholawat, Allah membatasi eksistensi Rosulnya agar berhenti pada kewenangan menjadi jembatan menuju Allah. Coba kalau Allah melalui Rosul gak mengajarkan sholawat, sepeninggal Nabi nih, bakalan banyak yang mengelu-elukan Rosul dan tiba-tiba menjadikan beliau sebagai sesembahan karena saking mulianya beliau di mata para sahabat, tabi'in maupun tabi'ut tabi'in. Wong meskipun ada sholawat aja nih, masih ada kok oknum yang bikin sholawat ala-ala untuk menyaingi sholawat yang beliau ajarkan, yang tanpa mereka sadari, dalam sholawat ala-ala itu terdapat kalimat kesyirikan yang tersembunyi. 

 لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ

“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagai-mana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji ‘Isa putera Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka kata-kanlah, ‘‘Abdullaah wa Rasuuluhu (hamba Allah dan Rasul-Nya).’”[1]

Duuhh.. beliau rendah hati banget yaaaa.. Jadi makin cintaaaaa...admire2 onion head


KF : Okelah, katakan itu bentuk ibadah. Lalu kenapa kata-katanya harus mendoakan Nabimu? Apa tidak ada orang lain yang bisa diberikan sholawat itu?

MS : Wah, pelafalan sholawat itu berasal dari Nabi ﷺ, dan dalam keyakinan kami, semua bentuk ibadah baik apa yang diucapkan Rosul atau apa yang dilakukan beliau, itu adalah wahyu yang asalnya dari Allah. So, gak ada yang mesti dipermasalahkan bagi kami mengapa lafal sholawat itu hanya mendoakan beliau maupun Nenek moyangnya yaitu nabi Ibrahim. Seandainya Rosul nyuruh kami bersholawat atas nama Nabi Isa, tentu kami juga akan lakukan. Artinya, yaaaa pelafalan salam, itu sudah sepaket sama konsekuensi kami meyakini Islam sebagai agama, tanpa banyak mempertanyakan, kenapa begini, kenapa begitu, asal ada dalil shahih, yaaa kerjakan. Kalo kebanyakan nanya, itu karena akal kita aja yang gak mampu mencerna setiap perintah Allah dan Rosulnya untuk saat ini.

Kita woles-woles aja, asal dikatakan itu ibadah, dan kami bisa dapat pahala dari sana, akan kami lakukan. Dan lagi nih, semua ibadah dalam agama kami, tidak akan sampai kepada Allah tanpa melalui tata cara yang telah diajarkan Rosul, ibaratnya, Rosul ﷺ itu freepass lah ya untuk bertemu Allah azza wa jalla di surga. 

Sholawat itu, gak usah dipermasalahkan kenapa Rosul minta bunyinya begini atau begitu, itu urusan kami dan konsekuensi kami sebagai muslim yang wajib mengikuti apa yang beliau perintahkan. Toh hasil dari sholawat itu kembali pada diri kami sendiri yang mengerjakan, sesuai dengan sabda Rosul ﷺ :


أَكْثِرُوا الصَّلاَةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةَ الْجُمُعَةِ، فَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا.

“Perbanyaklah kalian membaca shalawat kepadaku pada hari dan malam Jum’at, barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.”[2]

Well, Rosul ﷺ sayang banget ya sama kami. Menunjukkan ibadah 'ringan' agar kami bisa senantiasa dekat dengan surga. "Hanya" dengan membaca sholawat aja nih, Allah ikut mendoakan kita dengan bersholawat atas kita sebanyak 10 kali loh. UWAOOWW gak sih?!
embarrassed1 onion head


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

“Ya Allah, berikanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahamulia. Ya Allah, berikanlah berkah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Maha-mulia.” [3]


Footnote :
[1] HR. Al-Bukhari (no. 3445), at-Tirmidzi dalam Mukhtasharusy Syamaa-il al-Mu-hammadiyyah (no. 284), Ahmad (I/23, 24, 47, 55), ad-Darimi (II/320) dan yang lainnya, dari Sahabat ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu.

[2] HR. Al-Baihaqi (III/249) dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, sanad hadits ini hasan. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 1407) oleh Syaikh al-Albani rahimahullah.

[3] HR. Al-Bukhari (no. 3370/Fat-hul Baari (VI/408)), Muslim (no. 406), Abu Dawud (no. 976, 977, 978), at-Tirmidzi (no. 483), an-Nasa-i (III/47-48), Ibnu Majah (no. 904), Ahmad (IV/243-244) dan lain-lain, dari Sahabat Ka’ab bin ‘Ujrah Radhiyallahu anhu.
Untuk mengetahui lafazh-lafazh shalawat lainnya yang diriwayatkan secara shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat dilihat dalam buku Do’a dan Wirid (hal. 178-180), oleh penulis, cet. VI/ Pustaka Imam asy-Syafi’i, Jakarta, th. 2006 H.

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
; //]]>