Masjid dan Anak-anak


Pernah dengar kutipan dari Muhammad Al Fatih yang bunyinya gini :


Pernahkan ya?

Saya sempat tertohok dengan quote dari sang penakluk konstatinopel ini sebelumnya. Dan saya pun sempat galau, ya iyalah! Saya punya anak cowok, di mana kewajiban dia setelah baligh nanti adalah mengerjakan sholat 5 waktu di masjid, dan saya belum mengenalkannya pada masjid saat usianya sudah 2 tahun?? What theee.... mama macam apa saya ini?!

Sebenernya bukannya sama sekali saya gak mengenalkan masjid sih, si Naell juga sering saya ajak ke masjid komplek rumah saat ada kajian Tauhid. Maksud saya belum mengenalkan masjid di sini adalah masjid sebagai tempat dia akan melaksanakan sholat 5 waktu kelak. Dimana harusnya dia mulai mengenal dan berdiri bersama para jama'ah lainnya kalau bisa sejak dini.

Kenapa saya tidak mengenalkannya saat itu? Simple. Naell masih kecil. Masih belum ngerti sholat. Dan takut lari-larian atau teriak-teriak ganggu orang sholat.

Dan setelah baca quote di atas, saya jadi berpikir. Sebenernya ada benarnya juga ya, mengenalkan anak dengan masjid sejak dini, lalu iseng saya coba mendiskusikan ini sama Ibu saya. Dan tebaklah apa kata beliau : "Nak, Naell itu masih kecil, belum baligh, belum ngerti baik dan buruk, dan belum ngerti juga kalo dibilangin kan? Kalo diajak ke masjid, tujuanmu memang bagus, tapi ingat! Hanya demi tujuanmu kepada 1 orang yaitu anakmu, kamu jadi mengesampingkan hak orang banyak yang mungkin terganggu kekhusyukannya".

Makjleb!

Yang ini bener juga. Ya Allah.. jadi tambah galau..

Akhirnya, saya berdoa sama Allah agar ditunjukkan hal yang benar tentang kegaulauan anak VS masjid ini. Saya buka websitenya Ustad Abduh Tuasikal www.rumaysho.com yang kebetulan membahas masalah ini, disitu juga ada penjelasan tentang fatwa syekh Al Utsaimin meyangkut anak dan masjid.

Dan ternyata, perkataan Ibu saya tentang membawa anak yang belum tamyiz (belum tau mana mudharat dan mana manfaat) ke masjid untuk sholat jama'ah memang bukanlah hal yang diperbolehkan, jika anak tersebut memang berperilaku yang menganggu kekhusyukan sholat jama'ah lainnya. Malah nih, pas kebetulan saya ikuti kajian Ustad Syubhan Bawazier beliau mengatakan, jama'ah yang sholatnya tidak khusuk akibat anak-anak yang belum tamyiz tersebut akan mendapat dosa, begitupun orang tua yang mengajak anaknya juga ikut menanggung dosanya. Ya Allah ya Rabb... dosa diri kita sendiri aja kagak kuat nahan, apalagi ikut nanggung dosa jama'ah segitu banyaknya yang mungkin jadi gak khusuk akibat perilaku anak kita. 

Baiklah. Jadi intinya, kita sebagai orang tua wajib membekali anak kita dulu dengan ilmu sebelum sampai pada perintah pergi ke masjid. Dan jika ternyata anak kita di masjid memang berperilaku menganggu jama'ah lain, maka kita sebagai orang tua tidak boleh merasa kesal atau jengkel sama yang menegur. Teguran kan juga sebagai pembelajaran buat anak kita supaya ngerti bahwa masjid bukan tempat untuk main-main, dan mencintai masjid harus dimulai dengan rasa hormat, bukan dengan gelak tawa yang diartikan sebagai kata lain dari cengengesan.

Kalaupun ada yang mengingatkan anak-anak kita dengan cara yang tidak mencerminkan akhlakul karimah misalnya dengan menjewer, membentak atau lainnya, biasanya anak-anak bakalan males kan pergi ke masjid, entah takut atau bahkan trauma, nah di sini lagi peran kita sebagai orang tua untuk mengingatkan anak.

Kita mengingatkan kepada mereka bahwa seseorang menjadi marah terhadap perilaku anak di masjid karena memang perilaku mereka tidak tepat. Kita ajarkan kepada mereka bahwa perilaku yang tidak tepat memang akan berdampak buruk, dan dampak buruk tersebut akan mereka rasakan sendiri dan harus mereka terima sebagai konsekuensi. Kalau belum-belum kita sebagai orang tua sudah sakit hati saat orang lain menegur anak kita (karena anak kita memang salah ya), artinya kita sebagai orang tua gak siap melepas anak kita untuk belajar tahapan konsekuensi.

Setelah itu, tahapan selanjutnya adalah tahapan memberi pengertian bahwa marahnya manusia itu gak ada apa-apanya dibanding marahnya Allah, karena masjid merupakan rumahnya Allah yang harusnya gak dipake buat becandaan, lari-larian, dan ganggu jamaah lain, bahasa yang dipakai bisa sesantai mungkin, misalnya : "Kamu dimarahin orang paling dibentak, dijewer. Coba kalau Allah yang marah? Kan hasilnya masuk neraka? Hiii serem ya masuk neraka". Seperti itu misalnya. 

Nah, setelah anak tau dimana letak kesalahannya, selanjutnya bisa deh anak diarahkan ke tahapan solusi, yaitu tahapan dimana anak diajarkan caranya biar gak dimarahin saat ada di masjid. Bukan dengan mangkir dari panggilan sholat jama'ah (yang malah mengakibatkan konsekuensi yang lain yaitu dapet dosa), melainkan ikut sholat jama'ah dengan khusuk dan gak boleh ganggu jama'ah lain. Kita jelaskan keuntungan bersikap demikian, yaitu gak akan dimarahi, serta insyaAllah akan dapat pahala yang bisa mengantarkan masuk ke surga. Kadang memang dalam tahapan solusi perlu didampingi dengan iming-iming berupa sebuah keuntungan agar anak merasa perlu melakukan solusi terhadap konsekuensi yang dihadapinya itu.

Lagipula, kalau saya memandang dari sudut pandang lain tentang kalimat "gelak tawa anak-anak di masjid", bisa jadi maksudnya bukan anak-anak yang tertawa-tawa pada saat sholat jama'ah, tetapi pada kebiasaan anak-anak yang berada di masjid dengan maksud mengaji, atau belajar lainnya. Karena lain dengan masa sekarang, jaman dahulu, selain untuk sholat berjamaan, masjid adalah pusat dakwah dan kegiatan keagamaan, juga belajar mengajar. Bahkan untuk merancang strategi perang saja, Rosul dan sahabatnya kerap memakai masjid untuk rapat.
Terlepas quote di atas bener gak dari Sultan Mehmed II, saya sih tidak mempermasalahkan, kan itu hanya sekedar quote, beliau bukanlah ulama yang bisa memfatwakan bahwa membawa anak-anak ke masjid hanya untuk mendengar gelak tawa mereka adalah sebuah keharusan. Saya lebih percaya pada fatwa ulama dan dalil yang ada di dalamnya.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
; //]]>