ANTIVAKS

Assalamu'alaikum warahmatullaah pemirsaahhh..

Mumpung bisa buka-buka blog ya, lanjut terus lah posting. Sebelum alarm dari anak kasep dan anak cantik bunyi wiuw wiuw, hehehe.

Pernah denger golongan orang yang menolak vaksin dan ramai-ramai mempropaganda dengan broadcast di BBM atau di facebook tentang keyakinan mereka? Tau kan ya? Nama keren mereka adalah ANTIVAKS. Widiihhh keren amat namanya.

But, eniwei.. nama mereka ternyata tidak sekeren kedengarannya loh. Karena terbukti mereka ini menolak vaksin hanya karena dua hal : MEREKA GAK PAHAM dan MEREKA DAPAT PEMAHAMAN DARI SUMBER YANG NGAWUR (bukan dari dokter atau yang spesialis mengurusi tentang vaksin, karena dokter umumnya hanyalah pengguna vaksin saja).

Memang ya, yang namanya emak-emak itu suka parno dan kelewat worry kalo menyangkut apa yang dimasukin ke tubuh anak-anaknya, dan itupun jadi sasaran empuk segolongan kaum yang pertama-tama menciptakan wacana tentang anti vaksin ini. Entah dibilang vaksin itu dari babi yang notabene barang haramlah, vaksin itu produk konspirasi Yahudi lah, sampai hal-hal yang mengatakan bahwa vaksin menyebabkan penyakit saraf salah satunya autisme.

bird onion head

Saya sendiri, pas jamannya Naell belum lunas vaksin juga sempet galau, karena saat itu marak banget di beranda facebook postingan para Antivaks ini dengan alasan-alasan di atas. Saya yang saat itu buta sama sekali tentang ilmu per-vaksin-an (sekarang juga masih gak ngerti sih T_T) mau gak mau juga ngikut puyeng mau lanjut vaksin si Naell apa enggak tuh. Kegalauan ini saya ceritakan sama salah satu sahabat saya, si Indah, dan akhirnya karena sama-sama gak ngerti, kita sepakat untuk berdoa ajalah sama Allah memohon petunjuk untuk ilmu yang satu ini.

Gak lama setelah itu, si Indah ngasih link ke facebook seseorang yang ternyata dokter spesialis anak. Pasti udah banyak yang tau deh orangnya. Yeuupp dokter Arifianto, nama bekennya dr. Apin.

Dari postingan si dokter, saya belajar banyak hal gak cuma tentang vaksin (beliau aktif mengkampanyekan pro vaksinasi), tapi juga tentang tumbuh kembang anak, dan gak jarang pula dokter ini posting dakwah atau kajian-kajian, juga posting keadaan terkini sodara-sodara di daerah konflik untuk menarik empati kita sebagai sesama muslim.

Sebenernya sih ya, vaksin atau gak vaksin anak itu urusan orang tua masing-masing, it's a choice. Tapi yang bikin masalah adalah, para antivaks ini dengan pedenya malah mengkampanyekan pilihan mereka itu, gak tanggung-tanggung dengan dibumbui  isu-isu yang bikin risau pula. Dan guess what? Dari daftar teman saya di facebook yang antivaks dan gemar menyebarkan postingan tentang kejelekan vaksin, ternyata semua sumber artikel itu gak jelas siapa penulisnya, bahkan ada artikel yang sampe totalitas gitu nyantumin data yang kayaknya ilmiah padahal zonk abis. Kenapa dikatakan zonk abis? Karena pernah dr. Raehnanul Bahraen (pengisi kajian di www.muslimafiyah.com, seorang dokter dan dosen, penulis, juga pendakwah hafidzullah ta'ala) sampai ngecek sendiri sumber-sumber artikel tersebut dan ternyata emang semua yang kayaknya ilmiah itu murni karangan. Laahhh takutnyaaaaa.. kalo ada ibu-ibu yang gampang kena gosip vaksin, maka berakibat berhentinya orang tua untuk mem-vaksin anaknya.

Padahal nih, dengan sebuah lingkungan yang 80% telah di vaksin saja cukup untuk membentuk Herd immunity alias kekebalan terhadap wabah, karena 20% yang tidak divaksin bisa terlindungi oleh yang mayoritas 80% ini tadi. Lah kalo makin banyak yang gak mau vaksin gegara berita yang dikampanyekan secara kejemnya oleh Antivaks, kan bisa berabe jika sampai jumlah antivaks melebihi 20%. Artinya apa? artinya vaksin sudah tidak akan berguna lagi untuk mencegah virus masuk ke tubuh manusia dan secara teoritis kemungkinan terjadi wabah.

Maraknya peredaran vaksin palsu akhir-akhir ini gak disia-siakan bagi kaum antivaks untuk kembali mengkampanyekan pemahaman mereka tentang vaksin, mereka viral seolah bersyukur karena pilihan mereka tidak memvaksin anak adalah benar. Dan bagaikan roda kehidupan yang berputar, kalau kemaren-kemaren provaks pada membully antivaks karena berpotensi merusak Herd Immunity yang susah payah di-ikhtiarkan petugas medis selama ini, maka sekarang giliran antivaks yang bertepuk tangan nyukurin kami yang provaks karena ada potensi kami memasukkan barang palsu ke tubuh anak kami.

Ini ada sedikit informasi dari sesama dokter juga, saya ambil dari facebook resmi punya dr. Raehanul Bahraen.

7 ALASAN TIDAK PERLU KHAWATIR BERLEBIHAN ATAS BERITA VAKSIN PALSU
  1. Jika anak Anda mendapatkan imunisasi di Posyandu, Puskesmas dan Rumah Sakit Pemerintah, vaksin disediakan oleh Pemerintah yang didapatkan langsung dari produsen dan distributor resmi. Jadi vaksin dijamin asli, manfaat dan keamanannya.
  2. Jika anak Anda mengikuti program Pemerintah yaitu Imunisasi Dasar Lengkap diantaranya Hepatitis B, DPT, Polio, Campak, BCG; pengadaanya oleh Pemerintah didistribusikan ke Dinas Kesehatan hingga ke fasyankes. Jadi dijamin asli, manfaat dan keamanannya. 
  3. Jika peserta JKN dan melakukan imunisasi dasar misalnya Vaksin BCG, Hepatitis B, DPT , Polio dan Campak; pengadaan vaksin didasarkan pada Fornas dan e-catalog dari produsen dan distributor resmi, jadi asli dan aman
  4. Ikuti program imunisasi ulang seperti DPT, Polio, Campak. Tanpa adanya vaksin palsu, imunisasi ini disarankan (harus) diulang. Jadi bagi yang khawatir, ikut saja imunisasi ini di posyandu & Puskesmas.
  5. Diduga peredaran vaksin palsu tidak lebih dari 1% di wilayah Jakarta, Banten dan Jawa Barat. Ini relatif kecil secara jumlah vaksin yang beredar dan wilayah sebarannya.
  6. Dikabarkan isi vaksin palsu itu campuran antara cairan infus dan gentacimin (obat antibiotik) dan setiap imunisasi dosisnya 0,5 CC. Dilihat dari isi dan jumlah dosisnya, vaksin palsu ini dampaknya relatif tidak membahayakan.
  7. Karena vaksin palsu dibuat dengan cara yang tidak baik, maka kemungkinan timbulkan infeksi. Gejala infeksi ini bisa dilihat tidak lama setelah diimunisasikan. Jadi kalau sudah sekian lama tidak mengalami gejala infeksi setelah imunisasi dapat dipastikan aman. Bisa jadi anak Anda bukan diimunisasi dengan vaksin palsu, tetapi memang dengan vaksin asli.
Kesimpulannya:
  1. Hati-hati itu harus, tapi berita vaksin palsu tidak perlu disikapi berlebihan dan merasa khawatir yang tak beralasan. Maraknya berita tidak mencerminkan maraknya fakta peredaran vaksin palsu.
  2. Pemalsuan vaksin merupakan tindakan tidak berperikemanusiaan, karena sama saja dengan sengaja membiarkan anak-anak tidak kebal atas penyakit yang mematikan. Semoga pelakunya dihukum maksimal sesuai ketentuan Undang-Undang.
  3. Bicara barang palsu, barang apa sih yang tidak dipalsukan? Sepanjang punya nilai ekonomi, motif bisnis dan manusia bermental curang, apa saja dipalsukan. Demikian juga vaksin, tak luput dari pemalsuan. Sikapi saja dengan hati-hati dan tenang tanpa khawatir berlebihan.
Dari dr Meinani Sitaresmi SpA(K)


Saya sendiri provaks, tapi juga pelaku Thibbun Nabawi. Sunnah rosul adalah tuntunan yang kami lakukan sebagai umat muslim. Sedangkan pemberian vaksin dan imunisasi adalah urusan duniawi yang mengandung kemaslahatan dan merupakan ikhtiar untuk menjemput kesehatan.

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

…kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.” (HR. Muslim)

Apalagi nih ya, program imunisasi dan vaksinasi adalah program wajib pemerintah, dimana jika ada kemaslahatan di dalamnya, kita wajib mengikuti. Ada dalilnya loh.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مَنْ أَطَاعَنِى فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ يَعْصِنِى فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ يُطِعِ الأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِى وَمَنْ يَعْصِ الأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِى
Barangsiapa mentaatiku, maka ia berarti mentaati Allah. Barangsiapa yang  tidak mentaatiku berarti ia tidak mentaati Allah. Barangsiapa yang taat pada pemimpin berarti ia mentaatiku. Barangsiapa yang tidak mentaatiku berarti ia tidak mentaatiku.” (HR. Bukhari no. 7137 dan Muslim no. 1835).

Soal halal-haram vaksin, atau vaksin itu produk konspirasi Yahudi, sampai hal-hal yang mengatakan bahwa vaksin menyebabkan penyakit saraf salah satunya autisme, semua bisa dibantah secara ilmiah oleh tulisan-tulisan 2 orang dokter di atas di situs resminya atau di buku yang telah mereka buat. Dan menurut saya, sebagai Ibu kita harus cerdas, wajib menerima informasi dari sumbernya, bukan dari "katanya".
Wallahu'alam bi shawab. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
; //]]>