And... Welcome my beauty : RUMAYSHO ELNALIA SYAINDRA part 3.

#LATEPOST 3 Mei 2016

Saat saya pendarahan untuk kesekian kalinya pada hari Senin (2 Mei 2016) pukul 23.55 WIB, dokter sempat mengatakan pada saya untuk mempersiapkan diri jika si dedek terpaksa dilahirkan lewat Emergency SC, diagnosis IUGR pun membuat si dedek akan masuk NICU jika benar dedek terlahir dengan berat kurang. Subhanallah.. rasanya dada ini semakin sesak, rasa panik dan cemas bercampur jadi satu, bibir ini cuma bisa mengucap istighfar berkali-kali dan memohon ampun atas segala kesalahan. Memohon agar kami berdua dapat melewati pertempuran ini dengan selamat.


Saat saya sudah dipindah di VK, kebetulan ada saudara jauh yang jadi perawat di RS Haji menjenguk saya. Kita sempat ngobrol-ngobrol dan Bulek Nanik sedikit membuat saya tenang dengan cerita pengamatannya tentang bayi yang terpaksa berakhir di NICU. Bulek Nanik bilang, berat badan kurang bukan satu-satunya alasan bayi masuk NICU, jika berat bayi saya memang kurang dari 2,5 kg saat lahir tetapi bisa menangis kencang maka kotak inkubator NICU bisa saja terlewati. Fiuuhh.. padahal menurut agama, bayi terlahir dengan menangis karena mendapat tusukan dari syaitan, tapi ternyata dari segi medis tangisan bayi justru menjadi keharusan sebagai pertanda matangnya paru-paru dan dapat berfungsi dengan baik.


Pukul 07.50 WIB saya dibawa ke ruangan bedah yang di dalamnya sudah bersiap beberapa dokter dan satu orang perawat. Setelah suntik anestesi, dr. Atika memulai melakukan pembedahan terhadap bekas operasi lama saya, pukul 08.30 WIB saya merasa tubuh bagian bawah seperti ditarik-tarik, perkiraan saya si dokter sedang mencoba mengeluarkan si dedek dari dalam, dan 5 menit kemudian terdengar tangisan kencang. Kencang sekali. Tidak lama si dedek ditimbang dan diukur. Teriakan perawat memberitahukan bobot dan panjang si dedek membuat saya merinding dan seketika mengerti bahwa Allah selalu mengabulkan doa hambaNya yang pasrah setelah berusaha, yang yakin akan terkabulnya doa tersebut.



"Beratnya 2.5 kg dan panjang 50 cm, dok", kata perawat waktu itu.

Speechless.. Seneng.. Bersyukur..

Welcome to the world RUMAYSHO ELNALIA SYAINDRA...

Setelah dokter mulai menjahit luka SCnya, saya merasa menggigil hebat. Rasanya lebih parah dibanding saat melahirkan Naell dulu. Dan itu berlanjut sampai saya diantar ke ruang observasi. You know what? Dulu saat operasinya Naell, saya langsung tidur loh setelah dijahit. Tapi kali ini saya dibiarkan melek dan ternyata efek obat pasca SC ini membuat badan menggigil parah. Setelah hampir setengah jam tubuh saya gemetaran dan membuat kasur yang saya tiduri sampai mengikuti irama tubuh ini, akhirnya saya beranikan bertanya ke perawat yang dari tadi menemani saya sejak di ruang bedah sampai di ruang observasi, saya menanyakan kenapa tubuh saya sampai menggigil hebat begini, sampai sesak nafas rasanya. Dan dengan santainya ibu perawat itu bilang kalau reaksi tubuh pasien pasca SC memang beda-beda, termasuk yang menggigil macam saya begini.


Mungkin karena melihat muka saya udah jadi bermacam-macam warna karena kedinginan, akhirnya si ibu Perawat tadi memberikan saya semacam selang dengan diameter kira-kira 10 cm yang ternyata mengeluarkan uap panas. Awalnya cukup membuat saya merasa nyaman karena selain selimut selapis tipis yang membalut tubuh saya ini, ada uap panas yang bisa saya gunakan untuk menghangatkan diri, tapi itu tidak berlangsung lama, beberapa menit kemudian tubuh saya kembali berguncang dan merasa kedinginan lagi.

Ibu Perawat itu bolak-balik memasukkan suntikan obat ke dalam selang infus saya, karena penasaran tentang kondisi saya, si Ibu Perawat akhirnya bertanya juga pada saya apakah belum berkurang rasa dinginnya? Sambil gemetaran saya jawab belum. Lalu tidak lama Ibu itu kembali memainkan selang infus dan berkata bahwa obatnya akan dipercepat supaya saya bisa tidur. Hadeehhh... kenapa gak dari tadi aja sih Bu saya dibikin tidur.


Saya akhirnya punya ide yang saya rasa mungkin bisa mengatasi dingin yang sedang saya alami, selang uap panas tersebut saya letakkan di dada dan saya hadapkan ke wajah, sambil tangan bersedekap di dekat leher lalu saya tutupi dengan selimut. Berhasil. Rasa hangatnya cukup mengurangi dingin yang menyerang tubuh. Dan tidak lama kemudian saya tertidur.


Saya terbangun sekitar pukul 23.30 WIB, masih tetap di ruangan observasi bedah yang ternyata beberapa perawat dari VK sudah bersiap akan memindahkan saya ke ruang observasi milik VK. Setelah sampai di sana, si dedek Elna diantar ke saya untuk melakukan proses IMD. Alhamdulillah bayangan seram tentang dedek harus nginep di NICU akhirnya gak terjadi. Semalaman saya dan suami mencoba untuk IMD tapi belum berhasil, sudah masuk mulut mungilnya sih, tapi si do'i belum bisa ngenyot, hehehe. 

Bismillaah.. jadi anak sholeha ya nak, jadilah wanita yang tangguh, yang mampu menjaga harga diri dan agamamu seperti nama depan yang kami sematkan sebagai doa kami untukmu.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
; //]]>