Second Pregnancy : Pemeriksaan ke 9 kami ( 34 Weeks ); Masih seputar BPJS

Hwoohh.. tau-tau pemeriksaan ke 34W aja nih. Maafkan mama ya dek karena gak rajin nge-post kamu di blog tiap bulan kaya mas Naell dulu, hihihi. Maklum dek, bawaan mama males itu loh yang gak ketulungan. Tapi jangan khawatir, rasa sayang mama ke adek juga gak kalah gede kok dari mas Naell, itu yang penting kan.. iya kan.. iya kaann.. #NgerayuDedekBiarGakNgambek

Kehamilan ini, dari awal memang berbeda dari yang saya rasakan sebelumnya. Sebelumnya saya memang sangat menginginkan hamil lagi, padahal sebelumnya saya punya prinsip kalau mau hamil lagi kudu nunggu Naell sampe umur 4 tahun dulu, maksudnya sih biar Naell puas karena saya temani di masa kanak-kanaknya, selanjutnya dia bisa bebas meng-eksplore kemampuan di lingkungan sosialnya saat memasuki bangku sekolah (TK) sementara saya bisa menikmati waktu ideal saya untuk kembali punya momongan.
Tapi.. Allah lah maha pembolak-balik hati yak. Saya kok tiba-tiba merasa sombong sekali mau menunda-nunda punya anak, padahal sebelumnya sampe nangis-nangis pengen punya momongan, padahal menunda pun belum tentu dikasih lagi, padahal.. dan padahal lain yang tiba-tiba memenuhi alam bawah sadar saya. Sehingga saat itu saya memutuskan untuk tidak akan menunda punya anak setelah usia ideal saya pasca SC Naell terlewati.

Hasilnya, subhanallah ya.. sesuatu.. begitu tau triknya, langsung deh tekdung. Hehehe, artinya Allah masih mengijinkan saya menerima amanah si dedek satu ini.

Masih ingat kan tentang postingan complain saya tentang BPJS beberapa waktu lalu? Yup, ini juga berhubungan dengan itu.

Di saat membahas perkara Skor Resiko Kehamilan saya yang memang tinggi, dan pihak Puskesmas sebagai Faskes tingkat 1 saya di BPJS yang terkesan alot memberikan rujukan agar saya diperiksa oleh Dokter spesialis dan bukannya Bidan, maka sekarang lah saatnya saya harus benar-benar geleng-geleng kepala terhadap kondisi ruwetnya sistem ini.

Saya akhirnya tetap memilih memeriksakan kehamilan saya ke dokter dengan BIAYA SENDIRI tanpa mengemis pada Puskesmas lagi agar memberikan rujukan. Dan Qodarullah, dari pantauan tiap bulan kehamilan ini, pada pemeriksaan ke 8 kemaren (31 Weeks) melalui mesin USG saya ternyata terkena placenta previa, dan kabar lain yang tidak kalah membuat hati saya berdegup kencang adalah kurangnya berat badan si dedek padahal sudah menginjak bulan ke 8 kehamilan.

Kemaren pas pemeriksaan 31 Weeks karena saya masih shock, saya gak bertanya banyak hal tentang placenta previa itu sendiri, sehingga pas saya kerja barulah saya browsing tentang apa itu istilah Placenta Previa, apa penyebabnya, dan bagaimana solusinya. Sedangkan untuk menambah berat badan si dedek yang saat itu cuma seberat 1,8 kg Dokter menyarankan agar banyak konsumsi yang manis-manis, es krim, alpukat, atau perbanyak makan.

Daannnn karena menjelang lahiran, saya akhirnya memutuskan untuk usaha lagi ke Puskesmas guna meminta rujukan agar pemeriksaan kehamilan menjelang persalinan ini bisa ditangani dokter. Jiaahhh.. padahal kemaren-kemaren gaya banget yak gak mau mengemis-ngemis lagi ke Puskesmas katanya, tapi nyatanya melihat kondisi sebab-akibat (baca : Kondisi Keuangan yang belum terlalu stabil pasca renov rumah), saya dan suami akhirnya memutuskan untuk mencoba lagi datang ke puskesmas.

Dan dengan rasa pede tingkat tinggi, juga dengan coretan dokter di buku kontrol RS tentang placenta previa dan keluhan lain sejenis nyeri ataupun berat badan bayi yang kurang, saya pikir saya akan dengan mudahnya dapat surat rujukan. Nyatanya?? Tentu tidak pemirsaaahhh..

Bidan di sana malah bilang : " Nanti akan saya rujuk bu, setelah dokter memberikan keterangan yang lebih lengkap di buku kontrol bahwa memang harus SC, bukan SC karena kemauan sendiri. Pemeriksaan selanjutnya kan dijadwalkan dokter pada hari Selasa, lah sabtunya nanti ke sini lagi supaya saya bisa kasih rujukan."

Buset dah! Tau apa yang ada dalam pikiran saya?
1. Kondisi saya tidak hanya butuh penanganan dokter pada saat melahirkan. Tapi juga pada saat kontrol bulanan seharusnya. Mereka juga tau saya ibu hamil dengan skor resiko tinggi, dan jelas tidak mungkin kalau saya yang meminta proses SC kan??. Hellooowww.. dan saya men-skip pemeriksaan rutin tiap bulan dengan BPJS karena memang peralatan di Puskesmas ini tidak memadai untuk memantau kondisi saya. Tapi pihak Puskesmas saat itu tetap ngotot bahwa saya harusnya dirawat dulu di Puskesmas karena keadaan saya saat itu BAIK-BAIK saja.

Aneh! Iya aneh. Wong peralatan gak lengkap kok bisa bilang keadaan saya saat itu baik-baik saja. Mungkin dari luar iya, tapi bukankah perlu pemeriksaan lanjutan yang bisa benar-benar memastikan bahwa saat itu sampai menjelang persalinan seperti ini saya benar-benar baik-baik saja? Dan dokter UMUM di sana dengan arogannya bilang kalau saya tidak perlu dirujuk hanya karena saya ingin. Padahal saat itu saya sudah mencoba menjelaskan bukan hanya karena saya ingin, tapi memang secara skoring seharusnya bukan Bidan yang menangani pemeriksaan rutin kehamilan saya. Tapi yaaa.. gitu deh, tetap tidak membuahkan hasil saat itu.

2. Daaannnn seandainya saya waktu itu nurut untuk memeriksakan kehamilan saya hanya di Puskesmas saja, dan dengan keterbatasan alat (termasuk mesin USG) ternyata kondisi Previa dan Bayi saya yang kecil ini gak ketahuan, trus gimana coba? 

Seandainya saya tiba-tiba kontraksi menjelang lahiran padahal saya sebenernya gak boleh kontraksi trus gimana coba? Mereka akan menanggung resiko kondisi saya? Tentu tidak. Mereka baru akan secepat kilat mengirim saya ke rumah sakit karena ternyata TIDAK BISA menangani kondisi saya yang sebelumnya TAMPAK baik-baik saja. Padahal jika dari awal sudah bisa terpantau kondisi previa saya pastinya penanganan yang cepat bisa segera dilakukan tanpa harus ngendon sekarat dulu di Puskesmas, iya gak? 

...... Atau ini cuma pikiran lebay saya ya? Toh saya juga belum melahirkan atau melewati kondisi kritis seperti yang saya takutkan di atas. Akhh.... Entahlah hayyy..

Jadinya saya ini bingung ya, karena dari cerita beberapa teman sebenernya penggunaan BPJS ini bisa mudah tergantung bagaimana faskes 1 nya memprioritaskan kondisi pasien, tapi saya rasa di Puskesmas saya ini prioritas mereka bukan keselamatan pasien tapi memang goal dari oknum tertentu untuk bisa merawat pasien sebanyak-banyaknya mungkin. Semoga saja tidak, semoga saja ini hanya akibat rasa kecewa atas pelayanan BPJS di faskes 1 saya ini.

Pemeriksaan ke 9 tadi malam (34 weeks) barulah saya mendapat beberapa penjelasan dari dr. Ninuk tentang Placenta Previa saya yang sebetulnya menutupi sebagian besar jalan lahir. Jadi ceritanya si ari-ari ini dari awal memang nempelnya udah terlalu ke bawah, bukannya gak ketahuan di awal tapi dr. Ninuk memang memperkirakan bahwa si placenta akan ikut tumbuh ke atas bukan malah ke bawah (ke arah jalan lahir). Ketika pemeriksaan ke 8 kemaren barulah dokter positif menyebut saya Placenta Previa karena memang placenta tidak lagi bisa berpindah tempat mengingat kondisi rahim juga sudah penuh dengan badan bayi yang semakin besar dan kesulitan untuk bergerak. Untuk itu, seperti sebuah keputusan akhir bahwa kelahiran kedua anak saya harus melalui meja operasi lagi.

Dokter meminta saya agar tidak terlalu memikirkan tentang Previa saya, karena saya harus fokus untuk menaikkan berat badan si dedek yang saat itu hanya berbobot 2 kg pas katanya. Idealnya harus di atas 2,5 kg pada saat lahir nanti, sehingga dr. Ninuk menunggu batas maksimal kehamilan saya hanya sampai tanggal 15 Mei saja.

Well.. karena saya juga sudah capek di jalan dengan kondisi hamil tua begini, maka saya memutuskan untuk memulai masa cuti di awal mei nanti, saya harus merelakan waktu 15 hari untuk istirahat di rumah (gak cuti mepet kaya dulu), memanfaatkan waktu untuk memenuhi bucket list yang sudah saya buat di buku agenda, dan menemani mas Naell di hari-hari terakhir ke "single" annya sebagai anak kami, hihihi.

Sehat-sehat terus ya adek. Ayo kita berjuang bareng untuk bisa naikin berat badan. Mama akan berusaha pasrah terhadap Previa atau apapun itu, yang penting kita berdua bisa melalui semuanya dengan aman, sehat, dan berbobot ideal. Amiinnn...

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
; //]]>