PRIORITAS DALAM HIDUP

Pernah gak, kejadian malam-malam kebangun habis gitu iseng liat BBM dan menemukan DP atau Status salah satu kontak BBM kita di recent updates menuliskan sesuatu yang menggelitik mata, menggetarkan jiwa raga, dan sempat membuat shock sampe gak bisa lanjut tidur. Lebay ya? Iya! Lebay banget emang. Itulah saya huhuhu...

Coba liat gambar di bawah ini :


Gambar di atas lah yang berhasil membuat saya jadi sukses 'kelap-kelop' di malam hari dan susah kembali tidur karena kepikiran. Ketahuan banget ya kalau saya tuh tipe pemikir satu arah yang kadang masih suka kaget karena banyak orang yang beda pemikiran di luar sana hihihi. Skip that. Saya cuma mau sedikit sharing tentang hal ini.

Seperti yang kita tahu, hanya segelintir orang saja di dunia ini yang bergelar konglomerat dan sanggup membeli rumah (yang tidak wajib itu) dengan cara kontan, sisanya adalah orang seperti saya dan suami yang bergelar pegawai dengan sebentuk keinginan mempersembahkan perlindungan dari panas dan hujan bagi anak-anak dengan cara memiliki rumah. Lalu kita punya duit cash gitu untuk beli rumah? Ya enggaklah, jalan satu-satunya adalah memanfaatkan sistem kredit yang ada di Indonesia untuk bisa membeli rumah meskipun tabungan kita baru beberapa persen dari total harga rumah. 

Kalau dihubungkan dengan kalimat pembuka pada Display Picture yang dipasang teman BBM saya itu, mungkin saya dan suami tergolong orang yang Gak Punya Uang Tapi Maksa dan Dibelain Hutang Biar Bisa Punya Rumah kali ya? Huhuhuhu. Yang jelas kalimat tersebut berhasil menyengat mata dan menusuk ke dalam kalbu *halah* saat itu juga. Lah gimana coba? Akhirnya jika sudah masuk dalam lingkaran hutang dan riba kredit, kewajiban kita mau tidak mau bertambah, dan Ibadah Wajib Haji jadi tergeser karena kita diwajibkan membereskan hutang-hutang kita terlebih dahulu.

Disitu dikatakan bahwa Umat Islam harusnya memasang prioritas KEWAJIBAN dalam hidup yang singkat ini, salah satunya adalah MENDAHULUKAN BERANGKAT HAJI ketimbang MEMBELI RUMAH. Wah! Sungguh Wah sekali. Tapi bener kan ya? Iya bener, saya aja yang gak nyampe untuk mikir ke sana. 

Seperti yang kita tahu, Agama Islam memiliki Rukun Islam (Rukun = syarat wajib yang harus dilakukan agar sah keislamannya), sekedar mengingatkan nih saya tulis lagi Rukun Islam yang dulu kita pelajari dalam Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam semasa SD :
  1. Membaca Kalimat Syahadat
  2. Melaksanakan Sholat 5 Waktu
  3. Menunaikan Zakat
  4. Menunaikan puasa Ramadhan
  5. Menunaikan Ibadah Haji (bagi yang mampu)
Dari ke 5 Rukun Islam itu, mengapa hanya nomor 5 yang Allah syaratkan dengan embel-embel Bagi yang mampu?? Hayo kenapa coba? Entahlah, mungkin karena Allah lebih tahu bahwa ukuran mampu nya seseorang itu berbeda-beda. Hal ini menjadi abu-abu saat di dunia ini kita dihadapkan pada ukuran mampunya seseorang adalah berbeda satu dengan yang lainnya. Lalu kalau sudah begitu, ukuran mampu tiap orang harus memakai patokan dari siapa? Itu masalahnya.

Al-Lajnah Ad-Daimah (Dewan Riset Ilmu dan Fatwa Ulama di Arab Saudi) berkata : 
"Mampu terkait dengan haji adalah berbadan sehat dan mempunyai biaya kendaraan yang dapat menghantarkan ke Baitullah Al-Haram baik melalui pesawat, mobil, hewan atau menyewa sesuai dengan kondisinya. Juga memiliki bekal yang cukup untuk pulang dan pergi. Dan biaya tersebut diluar  dari biasa nafkah orang-orang yang seharus dia nafkahi sampai kembali dari hajinya. Bagi seorang wanita, harus didampingi suami atau mahramnya untuk safar haji atau umrah."

Disyaratkan bahwa nafkah yang dapat menghantarkan sampai ke baitullah adalah kelebihan dari kebutuhan primer, nafkah syar’i dan pelunasan hutang. 

Maksud dengan keperluan pokok (primer) adalah apa yang diperlukan oleh seseorang dalam kehidupannya secara umum dan memberatkannya apabila tidak terpenuhi.

Lalu, memiliki/membeli sebuah rumah apakah termasuk dari kebutuhan primer yang harus dipenuhi terlebih dahulu? Saya tanyakan ini kepada Ibu saya, dan sahabat saya. Mereka sepakat memandang perlunya rumah sebagai kebutuhan Primer dan diniscayakan agar dipenuhi terlebih dahulu. Tapi saya menemukan jawaban lain yang juga masuk di akal saya. Lihat kutipan di bawah ini :

Yang diwajibkan bagi seorang suami adalah memberi nafkah dalam bentuk menyediakan tempat tinggal, tidak harus membeli. Bisa jadi tempat tinggal itu milik sendiri dengan cara membeli, atau dari warisan, atau hibah atau semacamnya, atau bisa jadi juga dengan menyewa, mengontrak, atau bahkan sekedar rumah yang gratis dipakai, asalkan layak bagi istri dan anak-anaknya, itu sudah memenuhi kewajiban suami memberi nafkah berupa tempat tinggal.

Selain itu hukum asal memiliki rumah adalah mubah (boleh), bukan wajib, karena memiliki rumah adalah perkara non-ibadah. Seseorang tidak berdosa jika seumur hidup tidak memiliki rumah. Memang tidak bisa disangkal lagi bahwa rumah adalah kebutuhan primer. Tapi untuk memenuhinya tidak harus dengan cara membeli.

Haji adalah maslahah, dan memiliki rumah juga maslahah. Sehingga dalam hal ini berlaku kaidah :

إذا تزاحمت المصالح قدم الأعلى منها فيقدم الواجب على المستحب والراجح من الأمرين على المرجوح

“ Jika ada beberapa maslahah saling bertabrakan, maka diutamakan yang paling besar maslahahnya. maka yang wajib didahulukan dari yang mustahab (sunnah), yang rajih (lebih kuat) dari dua perkara didahulukan dari yang marjuh (lebih lemah) ”

Haji maslahah-nya lebih besar karena terkait maslahah akhirat. Allah berfirman:

وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ لِلَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

Dan sungguh balasan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan mereka bertaqwa” (QS. Yusuf: 57).

Bagaimana tidak? Balasan bagi ibadah haji adalah surga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

Haji mabrur itu tidak memiliki balasan kecuali surga” (HR. Al Bukhari 1773, Muslim 1349).

Selain itu haji hukumnya wajib jika mampu, sedangkan membeli rumah hukumnya tidak wajib walaupun mampu, maka hendaknya haji didahulukan dari membeli rumah, selama masih bisa menyediakan tempat tinggal dengan cara lain seperti mengontrak.

Baiklah, saya rasa dari pembahasan di atas cukuplah menjelaskan bahwa kemarin-kemarin saya salah menempatkan prioritas dan terlanjur nyemplung ke dalamnya. Sehingga mau tidak mau, selain saya harus banyak-banyak beristighfar, saya juga harus segera menyelesaikan urusan hutang saya agar prioritas wajib selanjutnya seperti Naik Haji bisa segera terlaksana.

Buat teman-teman lain yang belum terlanjur nyemplung seperti saya, alangkah baiknya agar mendahulukan nabung dulu deh untuk berangkat Haji. Cuek amat sama regulasi haji yang harus ngantri bertahun-tahun agar bisa berangkat. Yang penting kita sudah daftar, bayar, dan dapat kursi untuk memenuhi kewajiban kita. Pekara kita mati sebelum berangkat, mudah-mudahan Allah sudah menghitung lunas Rukun Islam kita yang terakhir dan biarkan Panitia Penyelenggara Haji yang menanggung akibatnya jika kita belum juga berangkat haji hehehe.

Nanti kalau sudah berangkat, silahkan minta apapun termasuk dijadikan Haji yang Mabrur dan sekembalinya dari sana dapat rejeki yang barokah untuk memiliki rumah sendiri, seperti janji Allah yang disampaikan Rosulullah :

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا للهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

Sungguh, tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah ‘Azza Wa Jalla, kecuali Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik dari sesuatu itu bagimu” (HR Ahmad 23074, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 2/734).

Kalau dipikir-pikir bener banget ya, setan memang bisa menghembuskan bisikan halus agar manusia terpancing dengan gemerlapnya dunia seperti kegalauan saya di atas. Bahkan hal yang kita paham bahwa itu wajib sekalipun dapat dikesampingkan hanya karena kita memiliki tolok ukur pemenuhan kebutuhan primer yang salah kaprah. Memang bukan sepenuhnya salah setan juga sih, kadang kita juga perlu muhasabah bahwa Ilmu agama kita yang minim lah yang membuat setan nongkrong manis di dalam otak dan mempengaruhi pola pikir kita.

Ya Allah, semoga masih dicukupkan umur ini untuk melunasi kewajiban dan bersegera memenuhi panggilan ke rumah Mu. Amin Ya Rabbal'aalamiin.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
; //]]>