MUNGKIN INI LUCU...



Ada yang lucu saat mengingat pemikiran lama saya tentang PENCERAMAH SEREM. Kelakuan saya yang dulu suka malas mendengar penceramah yang gak lucu dan dan terkesan serem memang harusnya membuat saya banyak-banyak beristighfar saat ini. Baru saya sadari bahwa ilmu yang disampaikan Penceramah Serem ini biasanya lebih banyak menambah wawasan saya dalam beragama ketimbang hanya mendengar yang lucu-lucu saja, karena pada kenyataannya kalau ketemu sama penceramah lucu, yang saya ingat hanya guyonannya saja, ilmu agama yang justru jadi selingan malah saya gak ingat sama sekali, hehehe.

Dan ternyata, gak cuma saya dulu yang anti sama metode ceramah serius ini, banyak temen-temen yang sok-sok mengkritisi metode dakwah yang gak cocok sama keinginan mereka, karena dibawakan dengan genre yang horor. Hadeuh mamen, mestinya kan enak atau gak enak yang namanya ilmu itu kita butuh dan kita datang kan ya? Kalau ceramah cuma pengen denger sambil lawakan, kita harusnya sadar kalau agama itu enggak kaya Lenong? #NgomongSamaKaca.



Pssstt.. okey, ada bebereapa statement dari temen yang kurang suka sama Penceramah Serem, dan itu  menggelitik jari jemari saya untuk menulis ini tanpa bermaksud untuk "keminter" atau "menggurui".

  1. Ceramah Agama itu harusnya juga untuk menarik minat agama lain agar tertarik juga dengan Islam, kalau ceramah saja banyak bahasa Arabnya, orang mana ngerti, apalagi tertarik? Ini kan Nusantara, bukan Arab. Pakai bahasa Indonesia lah.
Catatan versi saya : Islam itu diturunkan menggunakan bahasa Arab, makanya kitab suci dan kitab hadisnya juga berbahasa Arab. Allah dan Rosulnya mewajibkan umat Islam untuk mempelajari ilmu agamanya sendiri, wich means bahasa Arab include di dalamnya. Lalu siapa yang harus disalahkan jika kita sebagai umat Islam sampai lebih paham bahasa Inggris atau bahasa Korea *Not You But Me* dibanding bahasa Arab? Masa iya agama yang berbasis bahasa Arab harus "mengalah" pada orang-orang yang malas mempelajari bahasa agamanya sendiri?

Yakaliiii wajar kalau orang-orang di pedalaman Papua atau di negeri antah berantah yang minim jalur komunikasi mereka GAK MAMPU belajar Bahasa Arab. Tapi jika para penceramah menghadapi audience yang notabene pintar-pintar, yang memiliki waktu sangat luang untuk menuntut ilmu dunia, tapi tidak sempat atau bahkan enggan mempelajari Bahasa Arab, apa pantas jika kita menyalahkan sang penceramah? Iihhh salah sendiri lo gak ngerti Bahasa Arab. Ya kaann...
Kalau yang dimaksud "ceramah banyak bahasa arabnya" itu mengacu pada penyampaian dalil berupa ayat suci Al Qur’an maupun Hadist, ya menurut saya wajar saja jika disampaikan dalam bahasa aslinya, karena pastinya para penceramah akan menjelaskan terjemahannya beserta tafsirnya, tidak mungkin para penceramah kemudian berhenti pada kalimat bahasa Arab tanpa menjelaskan maknanya jika mengetahui audience yang rata-rata kebanyakan kaum “awam”. Iya kan? 

Mungkin jika kita mau sedikit ber-muhasabah (mengoreksi diri), justru kita harusnya merasa malu karena tersindir oleh ceramah yang berisi bahasa Arab tersebut. Masa iya kita sebagai orang yang MAMPU mencari ilmu baik dari segi fisik maupun finansial maunya hanya menguasai ilmu-ilmu yang bersifat duniawi saja? Maunya hanya belajar inggris-inggris saja, pengennya Cuma belajar bahasa korea, jepang, atau mandarin?
Lalu apakah kalimat panjang saya ini menandakan bahwa saya pintar Bahasa Arab? Jangankan pintar, mengerti kata saja hanya sepotong-potong.Wekekeke.
Balik lagi, saya hanya ingin menyampaikan kalau posisi saya juga sebagai orang awam, yang juga gak ngerti kalimat panjang ke-Arab-Araban itu. Bedanya adalah : saya tidak seberani mereka untuk mengkambing-hitamkan orang lain melalui metode dakwah Bahasa Arabnya, hanya karena saya gak ngerti cas-cis-cus Bahasanya. Karena saya menyadari betul kesalahan terletak pada diri saya yang lemah dalam mempelajari bahasa Agama sendiri.
Udah gak mengakui kelemahan diri untuk belajar Bahasa agama sendiri, tapi pake sok-sok'an bilang : ceramah itu seharusnya dapat menarik minat non muslim agar menjadi muslim, kalau bahasanya saja Arab, orang bakalan males dengerinnya, hmm… agak gimanaaa gitu ngeyelnya, hehehe.

Tau negara Jepang kan ya? Atau Korea deh yang lagi nge-Hits. Kalo dipikir-pikir, darimana kalian bisa lebih tertarik mempelajari budaya, bahasa, kulinernya? Tanpa kalian sadari, kalian tertarik dengan Jepang, Korea atau negara lainnya adalah karena karakteristiknya. Karena mereka punya ciri khas, karena mereka unik, dan mereka menjunjung tinggi eksklusifitas budaya, bahasa, maupun kulinarimya. Bahkan pembuatan karakter utama dalam sebuah cerita pun kadang dibikin eksklusif dan anti mainstream, tujuannya ya membuat orang yang baca cerita minimal jadi punya pandangan yang sama dengan penulis bahwa karakter tokoh ini memang lovely.

Coba aplikasikan itu semua dalam agama. Gak usah nuntut orang lain deh lewat gaya dakwahnya, kalian sendiri harusnya bisa kok menarik minat agama lain terhadap Islam jika kalian konsisten menjalankan syariat Agama Islam melalui akhlak, ilmu, juga cara berpakaian yang menunjukkan ciri keislaman kita. Artinya, justru kalo kita totalitas menampilkan keislaman kita, orang akan segan, orang akan penasaran.

Buang jauh-jauh deh pemikiran kalau Pluralisme itu keren dan mencerminkan Islam Rahmatal lil'alamin.. Buang jauh-jauh deh pikiran kalau tampil sesuai syari'at itu mencerminkan ke-Sangar-an dan dapat membuat orang lain antipati sama kita, itu pikiran KUNO Gaess.. plis deh.

Eh tapi tapi tapiiii.. buktinya orang yang totalitas pake kerudung besar, pakai celana cingkrang, berjenggot, dan bercadar, tetep aja tuh dikatain. Helooo sadar gak sih justru kebanyakan yang ngatain itu saudara seagama sendiri loh. BUKAN AGAMA LAIN. Dan berita baiknya, orang-orang jenis kaya begini nih yang dikatakan Nabi adalah Jenis manusia Bodoh dan Munafiqin. Nabi loh ya yang bilang, bukan saya. Itu artinya, jenis spesies manusia begini sudah ada sejak 1400 tahun yang lalu, dan itu artinya mereka juga KUNO Gaesss..

Lagian ya, masalah menarik minat agama lain untuk tertarik dengan Islam itu bukan pekara personal ataupun komunitas, tapi Allah lah yang bagian buka tutup pintu hati lewat jalan yang dinamakan HIDAYAH. 

Kaya misal (balik ke Jepang dan Korea lagi), kalau sebagian besar orang tertarik dengan negara-negara tersebut karena ke-EKSKLUSIFITASAN-nya, maka akan TETAP ada orang yang gak memprioritaskan hal tersebut dalam menyenangi satu negara, dan itu hanya sebagian KECIL, apa sebagian kecil itu? Ya orang yang gak melek informasi dunia karena keadaan, atau karena ya emang cuek aja.

Sama seperti agama, jangan bilang itu salah pendakwah yang gemar berbahasa Arab yang menyebabkan umat lain jadi gak tertarik sama Islam. Dengan metode apapun termasuk membangun eksklusifitas jati diri keislaman, kalau Allah belum ketuk hati mereka untuk cari hidayah, ya percuma aja kali Boo'.. Zonk abis kalau ngeladenin yang gak demen sama Islam.

Eh tapi tapi tapiiiiii.. katanya kalau kita jadi eksklusif gitu, pakai pakaian gede-gede, kerudung kaya taplak meja, celana kaya kebanjiran, atau bahkan jenggot kaya nyapu jalanan jadinya kita malah gak menghormati budaya sendiri alias budaya Indonesia.

Hmmm begini ya, Allah dan Rosulnya sudah menciptakan agama ini beserta syariatnya yang lengkap baik wajib maupun sunnah sudah lebih dari 1400 tahun yang lalu, dan beratus ribu tahun sebelumnya syariat itu sudah di desain Allah di Lauful Mahfuz. Sedangkan budaya, siapa sih yang bikin? Manusia kan? Rugi apakah kalau kita sedikit aja mensejajarkan keistimewaan syariat kita dengan budaya? Apa coba yang ditakutkan kalau Budaya jadi lebih kaya? Toh banyak kebudayaan yang nyatanya berseberangan dengan syari'at kan? Takut amat disebut gak punya jati diri karena tidak berbudaya luhur? Beuh.. itu cuma ketakutan yang disela-sela nya ada bisikan setan supaya syariat Islam tidak tegak dimanapun.

Ya iya sih.. tapi meskipun gak sampe nge-look-in kaya gitu jadi sangar-sangar gitu, yang penting kan kita tetep sholat, kita tetep puasa, gak jahatin orang..

Loh.. tadi katanya pengen bisa menarik minat agama lain? Ya jadi eksklusif dong. Ya salah satu jalan selain menunjukkan pada DUNIA (Beuhh) hal-hal wajibnya adalah dengan menunjukkan hal-hal yang sifatnya sunnah. Biar orang itu tertarik, dan biar mereka paham : Oooo in toh Islam. Sunnah itu milik Islam, kalau bukan kita yang jalanin, mau siapa coba? 

Lagian nih ya, kalau kita terlalu menuhankan pluralisme bo'ongan seperti kebanyakan dilakukan saat ini, wajar dong kalau justru umat agama lain malah bilang : Ah Islam mah sama aja kaya kita, ya cipika-cipiki, ya gak nutup rapat aurat, ya gaul abis. Kagak ada istimewanya ah.. sama aja. Laahhh mau apa dinilai kaya gitu?

Dan satu lagi. Perbanyak ilmu agama biar gak asal nyeplos tentang budaya arab yang dibilang meracuni budaya nusantara, jahat banget dibilang meracuni, padahal yang katanya Budaya Arab itu nyatanya masih lebih bagus daripada budaya Barat yang lebih dihormati di Nusantara sini. Kalau kalian sudah memperbanyak ilmu agama, akan banyak ditemukan bahwa yang dilakukan saudara muslim yang mencolok tersebut asalnya adalah dari perintah Allah dan Rosulnya, jadiiiii... jangan-jangan kalian anti sama Islamnya, bukan Arabnya
  1. Kenapa yang dijadikan contoh Penceramah selalu orang-orang di jaman Nabi? Selalu vertikal, tidak pernah dari sisi kemanusiaan yang ada di jaman sekarang?
Catatan versi saya : Memangnya di jaman sekarang adakah manusia yang keimanannya, kezuhudannya, ketaqwaannya, kecintaannya terhadap Islam sama seperti sahabat-sahabat di Jaman Nabi? Kalau mau main tebak-tebakan, mungkin ada.. tapi siapakah yang bisa menilai kalau seseorang itu setara kualitas keimannya dengan sahabat-sahabat di jaman Nabi? Masa manusia yang menilainya? Gak lah! Cuma Allah yang berhak menilai manusia.
Manusia itu makhluk yang penuh dengan keterbatasan, dan keterbatasan itupun mempengaruhi nilai ukur mereka terhadap manusia lain. Penilaian Allah lah yang seharusnya dijadikan pedoman terhadap golongan manusia yang dikatakan golongan terbaik dan tentu harus dijadikan contoh, itu sebabnya melalui Firman Allah (QS Al Hujarat : 7 dan QS At Taubah ayat 100) dijelaskan bahwa sebaik-baik manusia yang Allah ridho pada mereka adalah manusia yang hidup di jaman Rosulullah, lalu setelahnya, lalu setelahnya lagi.

Kenapa mereka para sahabat Nabi? Jelaslah kita wajib mengacu pada mereka, wong mereka hidup dekat dengan Nabi, mereka tabi'in hidup dekat pula dengan jaman kehidupan Nabi, sehingga jalur pemahaman mereka terhadap agama adalah langsung dirujuk oleh Nabi.
Jadi, bukankah wajar jika dalam setiap tindakan yang berhubungan dengan ibadah dan akhlak maka manusia di jaman Nabi dan sahabatlah sebaik-baik pedoman? Wajar kan?

  1. Kenapa Penceramah selalu mengutamakan larangan? Jarang sekali yang menunjukkan keutamaan perintah agar lebih termotivasi untuk meningkatkan ibadah, bukan hanya takut dihukum dosa?
Catatan versi saya : Kembali lagi ke masalah hidayah. Apakah manusia yang sedang tidak mencari hidayah, yang keras hatinya akan nasehat, yang dalam hatinya terdapat kesombongan karena merasa “sudah benar kok” akan terpanggil untuk giat beribadah sekalipun hal itu berbau motivasi? Enggak kan? Karena mereka akan menyiapkan berbagai alasan sebagai pembenaran mengapa mereka tidak peduli.
Sebaliknya, manusia yang sedang mencari hidayah, mereka akan senantiasa melembutkan hati untuk mendengarkan nasehat baik lewat dakwah motivasi atau larangan sekalipun. Karena dia menyadari kalau dia yang BUTUH ceramah untuk meningkatkan kualitas ibadahnya.

Dan satu lagi, penyampaian larangan, hukuman, atau yang serem-serem begitu bukannya gak ada sumbernya, tapi Rosul sendiri yang menyampaikan hal tersebut untuk memotivasi kita agar menjauhi hal-hal yang dilarang. Sebagai manusia cerdas, kalau sudah bisa menjauhi larangan karena takut dihukum, maka selanjutnya kita perbanyak ibadah yang sifatnya gak cuma wajib aja untuk memperberat timbangan.



Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
; //]]>