ANAK ITU.. AMANAH.. (Working Mom VS Full Time Mom)

Kalo lagi aktif-aktifnya nulis mah, sebulan bisa tahan gitu mengutak-atik blog dan menumpahkan semua isi di kepala, giliran lagi kumat malesnya, mau melek aja males pengennya bobok mulu. Hihihi, ah itu mah alesan biar bisa bobok dimana-mana keles mbak, mentang-mentang hamil ini.

Curhat dong Maaaa... Hehehe. Iya Doongsss...

Banyak berseliweran di Beranda atau Timeline medsos tentang polemik Ibu Rumah Tangga VS Ibu Pekerja. Saya bukannya mau bikin pembelaan diri tentang benarnya Ibu Rumah Tangga, atau benarnya Ibu Pekerja, yang jelas masing-masing pilihan ada alasannya sendiri dan kita tidak bisa menuntut orang lain untuk menerima alasan kita.


Tapi saya, saya adalah seorang Ibu Pekerja yang benar-benar menginginkan menjadi Ibu Rumah Tangga, fulltime mom istilah kerennya. Jujur, bekerja memang dulu adalah impian saya untuk bisa membahagiakan kedua orang tua yang sudah capek-capek menyekolahkan saya sampe ke bangku kuliah. Saya melihat sekali perjuangan Bapak mencari nafkah dan pengorbanan Ibu yang mengatur keuangan agar tetap cukup untuk membiayai hidup kami semua. Yess! Ibu saya juga Ibu Rumah Tangga biasa. I'm proud of her too. Karena saya melihat beratnya perjuangan mereka itu, menjadikan saya termotivasi kuat untuk bekerja selepas kuliah agar bisa membantu memenuhi impian-impian mereka yang belum tercapai.

Ada kepuasan tersendiri saat saya bisa membantu mereka memenuhi kebutuhan rumah tangga, ada rasa syukur tersendiri saat saya juga bisa membantu saudara-saudara yang lain lewat rejeki yang dititipkan Allah pada saya, dan kesenangan saya bekerja tetap berlanjut saat saya menikah. Tujuannya bukan untuk membantu suami memenuhi kebutuhan rumah tangga ya! Karena apa, karena saya tau suami saya bukan tipe laki-laki yang memiliki harga diri rendah yang menikmati sepeser uang dari isterinya yang bekerja. 

Lantas saya bekerja untuk apa? Selain agar bisa tetap memberi pada orang tua ataupun saudara-saudara dengan uang milik saya sendiri, saya juga memiliki keinginan untuk menyenangkan diri sendiri. Saya tekankan sekali lagi bahwa saya adalah anak dari keluarga yang sangat sederhana, bahkan mungkin saya belum bisa menikmati banyak hal saat teman-teman seusia saya sekolah dulu dapat fasilitas dari orang tuanya, rasanya mental untuk "balas-dendam" saat itu benar-benar ada di genggaman saya, saya mulai memiliki life style yang menuntut untuk dipenuhi karena dulu saya tidak bisa seperti itu, saya mulai memiliki impian-impian tanpa mau melibatkan kemampuan suami saya yang pasti "berat" kalau saya menuntutnya memenuhi impian saya. Saya akhirnya punya anggapan "ahh udah kerja ini, gak pa pa lah beli ini itu, kalo duit habis ya cari lagi", kira-kira gitu lah prinsip saya saat itu.

Kenapa saya bisa berfikir seperti itu? Wajar! Karena saya merasa sombong terhadap rejeki yang mudah saya dapatkan, meskipun dikatakan saya juga shodaqoh, tapi saya juga bersikap boros, bersikap menyia-nyiakan harta untuk sesuatu yang sebenernya belum terlalu perlu. Apalagi yang paling parah nih, kesombongan saya kadang berlanjut dengan cara tidak menghargai nafkah yang diberikan oleh suami, berapapun yang didapatkan oleh suami tanpa sadar dalam hati saya mencelanya dan mengatakan : "Nih duit buat ini itu masih kurang, untung gue kerja jadi bisa buat tambahan". Astaghfirullah.. Jahat banget emang saya.

Lalu sampai saat saya dibenturkan dengan kenyataan bahwa pernikahan saya belum juga dikaruniai oleh seorang anak. Saya sempat menyesali kondisi saya yang mungkin capek bekerja. Saat itu kondisi kerjaan memang membutuhkan fisik dan pikiran yang harus selalu on, sedangkan fisik saya (dari dulu) terkenal ringkih dan gampang banget sakit. Di situ saya mencoba untuk melembutkan hati dan memilih untuk resign saja kalau memang hal tersebut yang memicu saya tidak bisa hamil hingga saat itu. Setengah mati saya berusaha mengeraskan kepala kala membayangkan sebenernya sayang kalau penghasilan yang lumayan itu harus saya tinggalkan demi punya anak. Dan pikiran untuk resign akhirnya sirna saat Allah mengijinkan saya mengemban amanah dengan melahirkan Naell.
Lalu dimana sih masalahnya? Masalahnya ada pada kesadaran saya sendiri yang seolah makin menguat untuk menjadi Fulltime Mom. Mendidik anak-anak di rumah, menemani masa kecil mereka, memasakkan dan menyiapkan makan mereka, mengantarkan mereka ke sekolah, membantu kesulitan mereka belajar, dan sungguh.. saya sangat menginginkan melakukan itu semua.

Kehamilan yang kedua ini juga menguatkan keinginan itu dan berusaha mempercayakan rejeki saya dari Allah melalui tangan suami. Selain alasan klasik kalau Ibu tetap maksa ingin membantu merawat cucu-cucunya tanpa bantuan rewang (pembantu), saya juga punya beban mental tersendiri jika ibu yang sudah tidak muda lagi seperti beliau harus bersusah payah membesarkan dua amanah yang seharusnya itu adalah tanggung jawab saya. Mau ditaruh di mana muka saya di hadapan Allah nanti? Makanya kenapa keputusan seperti itu harus saya ambil sembari menimbang-nimbang kapan waktu yang tepat saya memulai pensiun dini jadi Ibu Pekerja.

Ada lagi yang baru-baru ini memotivasi saya lebih untuk berhenti bekerja di luar dan menjadi Ibu Rumah Tangga di rumah. Sejak tanggal 24 - 27 desember kan sudah libur kantor-kantor karena Natal, Naell akhirnya bersama saya lebih lama dari biasanya, minggu depannya lagi kantor hanya masuk 4 hari saja dan libur lagi tanggal 1 - 3 januari pas week-end lagi. Kesempatan menghabiskan waktu bersama Naell jelas lebih banyak dari hari-hari biasanya. Disitu saya mulai mempelajari watak anak saya sendiri yang ternyata berbeda dari hari-hari normal ketika saya bekerja, dimana dia hanya bertemu saya saat bangun tidur hingga saya berangkat kerja kira-kira 3 jam, dan saat saya pulang kantor hingga tidur lagi yang kira-kira hanya 2 jam saja. Iya, total saya bersamanya hanya 5 jam saja selama 5 hari aktif, disitu saya menyadari betul bahwa dia belum mendapatkan cukup waktu untuk memperlihatkan karakteristik yang sebenarnya pada saya. Itu baru anak satu, bagaimana kalau nanti adiknya lahir sementara saya masih tetap bekerja? Saya khawatir 5 jam selama sehari itu tidak bisa saya bagi dengan baik untuk Naell maupun adiknya.

Qodarullah, tanggal 4 - 5 Januari saya harus ijin tidak masuk karena Ibu saya sakit dan tidak memungkinkan bagi beliau untuk ditinggal sendiri, beliau harus bedrest dan membutuhkan orang lain untuk membantu aktifitas seperti menyiapkan makan atau minum. Otomatis karena saya di rumah, waktu bersama Naell pun bertambah lagi, dan saya semakin menyadari bahwa selama ini saya kurang sekali memperhatikan gerak-geriknya. Bahkan tanggal 6 - 7 Januari saya terpaksa membawa Naell ke kantor karena tidak tega meninggalkannya di rumah saat Ibu baru masuk tahap penyembuhan, jumatnya atau tanggal 8 Januari saya kembali tidak masuk karena Naell sedikit tidak enak badan, dan otomatis sabtu dan minggu tanggal 9 dan 10 Januari saya kembali bersama Naell. Waktu yang cukup lama bagi saya untuk menghabiskan waktu selama Naell melek sampe bobok lagi.

Selama saya di rumah, Naell memperlihatkan sikap manja yang lebih dari biasanya, saat dia ingin membuat atau mengambil sesuatu namun tidak bisa, Naell selalu tidak sabaran dan membanting atau memukul-mukul barang tersebut sekenanya, sikapnya yang emosional juga terlihat saat sedikit saja saya berpaling dan tidak menemani atau menuruti keinginannya. Subhanallah.

Saat saya tanyakan pada Ibu saya apakah Naell selalu seperti itu? Ibu saya menjawab kalau tidak pernah separah ini. Itu artinya selama ini tanpa saya sadari Naell menyembunyikan ekspresi watak yang sesungguhnya karena saya tidak punya banyak waktu untuknya. Anak sekecil dia memang biasanya bisa jujur dalam bersikap hanya kepada Ibunya sendiri, itulah sebabnya meskipun seharian sama Yangti tapi Naell tetap tidak bisa nyaman menunjukkan karakter yang sesungguhnya. Dan nyatanya saya tidak punya banyak waktu untuk memberikan Naell kesempatan menunjukkannya.

Saya masih harus merasa beruntung karena saya menyadari sikap terdalam Naell sejak saat ini, itu bisa menjadikan saya jadi ibu yang lebih peka terhadap karakteristik anaknya sendiri, kalau sudah paham tentang karakter asli sang anak, otomatis solusi bagi sikap ekspresif Naell tersebut bisa saya temukan sedini mungkin. Bayangkan jika sampai dia dewasa tapi saya tidak pernah mengetahui hal ini, betapa sangat menyesalnya saya nanti?? MasyaAllah..

Okey Fix! Saya benar-benar sudah membulatkan tekad untuk resign awal tahun 2017 nanti (semoga dimudahkan). Lalu kenapa mesti nunggu tahun depan? kenapa gak habis melahirkan aja sekalian besok Mei? Eitss kalo itu saya juga punya alasan sendiri dan tidak ingin saya share, khawatir hanya jadi bahan justifikasi yang lainnya, yang jelas saya dan suami sudah membicarakan hal ini dan insya Allah sepakat untuk mengawali hari baru di tahun 2017.

Gak takut kalau gak kerja penghasilan bakalan berkurang? Enggaklah, justru saya akan semakin belajar hidup hemat dan gak boros lagi, penghasilan dari saya sudah Allah titipkan ke suami nanti, itu yang saya yakini. Rejeki itu Allah yang jamin, tapi kalau amalan sholeh, Allah tidak jamin dan kita sendiri yang harus rajin mencarinya. Semoga keputusan saya resign nanti adalah salah satu bentuk amalah sholeh ya. Amiin..

Utangmu kan masih banyak? Rumahmu juga belum beres kan? Iya, saya dan suami memang berhutang karena rumah, tapi saya yakin keputusan saya resign adalah untuk tujuan yang lebih baik agar mencapai jalan yang diridhoiNya, semoga Allah akan mengganti rejeki saya kepada suami agar dapat segera melunasi hutang-hutang itu. Kalau rumah mah, yang penting bisa ditempati dulu, sambil jalan kalau ingin memenuhi dalam-dalamnya.

Nanti kalau kamu gak kerja sementara suamimu meninggal gimana? Hadeeehhh... kok pede kalau suami yang bakal meninggal duluan, lha kalo saya yang meninggal duluan gimana coba?? Kan serem kalau saya meninggal tanpa pernah berusaha menjadi Ibu dan isteri yang sesuai syari'at. Iya kan?

Hehehe, itu pertanyaan Umum saat saya mengatakan pada teman-teman kalau saya pengen resign. Dari kesemuanya, mungkin bisa saya ringkas alasannya, saya telah diberi 3 amanah : Suami, anak, dan calon anak di rahim saya. Dan saya menyadari betul kemampuan saya yang tidak bisa menjalani kehidupan Rumah Tangga sekaligus menjadi Ibu Pekerja. Karena pada kenyataannya, setelah saya konsen bekerja hal itu selalu terbawa saat saya sudah di rumah, entah hasilnya adalah capek, atau males menanggapi ocehan Naell karena udah gak seberapa konsen. Ditambah lagi, kesadaran saya bahwa dalam Islam wanita dianjurkan untuk di rumah dan menjadi madrasah bagi anak-anak, menjadikan hal itu sebagai semangat untuk menjadi bagian dari wanita impian tersebut.

Saya bukan ingin berdebat, tapi ini adalah cerita saya, Ibu Pekerja yang memang tidak memiliki bakat khusus untuk menjajaki dunia karier, Ibu Pekerja yang mengakui bahwa dia tidak mampu menjadi adil di dua tempat berbeda, Ibu Pekerja yang menyadari bahwa tanggung jawab terbesarnya di akhirat nanti adalah menjadi pendidik bagi anak-anaknya agar jadi orang sholeh. Lagipula saya bekerja tidak sedang dalam posisi yang membuat kemaslahatan banyak umat seperti dokter, psikolog, atau perawat atau yang membutuhkan profil seorang wanita dalam dunia karier. Saya cukup yakin kemaslahatan saya yaitu berada di rumah dengan anak-anak.

Jika masih ada Ibu-Ibu Pekerja di luar sana yang lebih baik dari saya, maka saya sangat mengapresiasi kemampuan ganda yang diberikan Allah padanya, saya tidak akan menjustifikasi Ibu Rumah Tangga itu lebih baik atau Ibu Pekerja itu lebih baik, itu adalah pilihan masing-masing dalam hidup, dan dibalik sebuah pilihan selalu ada alasan yang tidak harus dimengerti oleh orang lain.

I am a working mom, and soon will be a fulltime mom.

Bismillaah..

8 komentar:

  1. Ibu windiraa super sekali tulisannya. Dan serupa tapi tak sama cerita.. akhirnya saya juga mantap awal 2017 akan resign..
    Jauh dr anak jauh dr suami membuat saya hrs mengalah dan tentunya menjalankan syariat agama menjadi alasan utama selama ini :) semoga pilihan ini diridhoi Allah. Aminn

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah ada yang maen dimari, hehehe. Bismillah ya Bu Dian, semoga kita bisa memantapkan langkah kita jadi fulltime mom, dan mudah-mudahan usaha kita diridhoi Allah. Amiin..

    BalasHapus
  3. Salam kenal bunda, suka banget ama tulisannya.
    Pemikirannya beda banget dengan yang lain.
    Semoga apa yang dicita2kan tercapai ya...

    Mau sharing juga nih, kali aja bermanfaat.
    Saya juga pernah menjadi IRT atau yang sekarang lebih di kenal SAHM stay at home mom :D
    Berbeda dengan bunda yang memang di rencanakan, saya malah nekat tanpa rencana pasti sebelumnya.
    Atau dengan kata lain, langsung resign karena gak kuat lagi dengan kondisi yang tidak memungkinkan di kantor.

    Saat saya memutuskan jadi IRT, saya terbilang sangat berani, gimana gak? saat itu penghasilan saya dan suami itu masih kadang kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari2.
    lah kok saya malah memutus separuh penghasilan yang merupakan sumber dari separuh pengeluaran utama rumah tangga?

    Namun ternyata, di situlah kebesaran Allah terlihat 'nyata' oleh saya.
    Gimana gak? setelah saya resign di bulan pertama kami memang akhirnya menutupi pengeluaran dengan uang pesangon saya (Alhamdulillah dapat pesangon, padahal yang lain jika resign duluan gak dapat)
    dan bulan kedua? gaji suami saya naik 2 kali lipat, masya Allah....

    Semua tulisan bunda yang mengatakan kalau kadang seorang wanita jadi sombong saat menjadi working mom, memang benar saya alami.
    Saya juga jadi kadang gak menghargai suami.
    Sebesar apapun yang beliau berikan, selalu kurang bagi saya.

    Setelah saya jadi IRT, barulah semua hal itu saya sadari.

    Memang benar...

    Suami kerja = 1 rezeki
    Istri kerja = 1 rezeki

    Suami bekerja + istri bekerja = 2 rezeki
    Suami bekerja + istri di rumah = 2 rezeki.

    Mengapa? karena rezeki Allah gak bisa di hitung pakai kalkulator :D

    Semoga lancar ya bun resignnya.... :)

    oh ya btw jangan lupa main2 ke blog saya www.reyneaea.blogspot.com :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Subhanallaah.. kalau ketemuan pengen aku ajak toss deh Bunda ini, hehehe.. Iya Bunda, memang segala sesuatu yang berhubungan sama ketakutan-ketakutan yang belum terjadi malah bikin susah move on.

      Saya harus meyakinkan diri dengan teori rejeki yang ALLAH janjikan pada kita Bun. Semangaaattsss Bun, makasih udah bagi-bagi cerita buat saya yang baru akan melangkah ke babak baru. Hehehe

      Hapus
  4. Hebat sekali keputusan ibu ..semoga dilancarkan yaaa.aq juga dulunya working mom.tp sekarang juga jd full time mom.memang kadang kangen kerja.tapi sekarang saya bs liat perkembangan anak setiap hari.bersyukur atas keputusan saya.semangat ya mom

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua ibu yg memperhatikan keluarga adl ibubyg hebat bunda, artinya kita semua hebat insyaAllah.

      Iya nih, setelah resign memang ada rasa nikmat tersendiri jadi penunggu rumah, hehehe. Dan yg lebih penting, ladang pahala utk mengurus rumah tangga sudah menunggu.

      Hapus
  5. Terimakasih sudah sharing ya mba. Sy sejak nikah ngga kerja, jadi lagi mempelajari gimana para ibu ibu yang sambil bekerja di luar.
    Skrg gmn kabarnya mba ? ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama ya mbak.. Semoga dg jadi fulltime mom bisa full jg mendedikasikan hidup buat ngurus keluarga, insyaAllah dpt pahala..

      Alhamdulillah udah 8 bulan saya di rumah nungguin anak2, dan rasanya seneng bisa banyak bereksperimen di dapur, juga kreativitas lainnya.. Bisa ngikutin perkembangan anak2 juga merupakan anugerah tak terhingga mbak 😍😍

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.
; //]]>