Madu untuk bayi dibawah 1 tahun???

Tulisan ini akibat tergelitik oleh pembahasan grup AIMI yang masih saya ikuti, dimana ada seorang Ibu menanyakan pemberian madu pada anak dibawah 1 tahun. Well, sudah banyak penelitian yang menerangkan bahwa dalam madu terdapat kandungan Clostridium Botulinum atau Botulinum Toxin dalam madu memiliki efek yang berpotensi merusak tubuh anak di usia bayi. Senyawa tersebut berperan melumpuhkan otot-otot dan memiliki efek botoks untuk menghilangkan kerutan di wajah. (sumber : https://www.ibudanbalita.com/diskusi/bahaya-madu-murni-bagi-anak-di-bawah-1-tahun)


Tapi ada yang tetep memaksakan diri ingin memberikan madu disebabkan oleh salah satu ayat dalam Al Qur'an An-Nahl: 69 "Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan"


Hmmm... okey, begini analoginya. Anda tahu ikan di laut? Allah menghalalkan segala makanan yang berasal dari laut. Sepakat??

“Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan”   (Qs. al-Maidah : 96)

Tapi apa jadinya jika orang-orang yang memiliki kolesterol tinggi kemudian memakan seenaknya ikan-ikan tersebut dengan bermodalkan ayat di atas dan bacaan "Bismillah pasti selamet" ?? Kira-kira kolesterolnya malah turun, atau malah merusak dirinya sendiri??
 
Coba cek potongan ayat dari QS Al A’raf ayat 157 di bawah ini :

……………وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ ……………


Artinya : ………….Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk……………

Makna “ At-Thoyyibaat” bisa berarti lezat/enak, tidak membahayakan, bersih atau halal. [Lihat Fathul Bari (9/518) oleh Ibnu Hajar] Sedangkan makan “Al-Khabaaits” bisa berarti sesuatu yang menjijikan, berbahaya dan haram. Sesuatu yang menjijikan seperti barang-barang najis, kotoran atau hewan-hewan sejenis ulat, kumbang, jangkrik, tikus, tokek/cecak, kalajengking, ular dan sebagainya sebagaimana pendapat Abu Hanifah dan Syafi’i. [Lihat Al-Mughni (13/317) oleh Ibnu Qudamah]. Sesuatu yang membahayakan seperti racun (membahayakan tubuh), narkoba dengan aneka jenisnya, rokok dan sebagainya. Adapun makanan haram seperti babi, bangkai dan sebagainya
.

Anda pasti tahu penyakit kolesterol itu ditemukan  melalui penelitian yang panjang untuk mengetahui apa penyebabnya dan bagaimana cara sembuhnya. Hal itu dilakukan oleh manusia karena Allah memberikan kelebihan akal pada manusia untuk dapat hidup lebih baik dari masa ke masa. Dan dari ilmu tersebut, para peneliti menemukan bahaya mengkonsumsi beberapa jenis ikan di laut bagi penderita kolesterol tinggi karena dapat membahayakan jiwanya. Lantas jika sudah ada teori dan praktek ilmu seperti ini, apa kita lalu mengesampingkannya??
 
Sama halnya dengan madu, melalui penelitian yang panjang, para ahli menemukan bahwa madu tidak baik dikonsumsi untuk bayi di bawah usia 1 tahun karena pada masa tersebut bayi belum cukup memiliki antibodi  untuk melawan bakteri Botulinum Toxin yang terdapat dalam madu. Lalu jika ada resiko membahayakan bayi seperti itu, lantas apa susahnya menunda pemberian madu (dengan segala resikonya) hanya sampai anak kita di atas satu tahun??

Ingatlah, segala resiko buruk pada tubuh titipan Allah yang kita terima adalah akibat ketidakhati-hatian kita dan karena diri kita sendiri, bukan karena Allah mengijinkan kita sakit. Jangan menyalahartikan kata “Bismillah” karena Allah pun telah mengijinkan manusia untuk mengembangkan ilmunya demi kebaikan manusia-manusia di dunia, asal ilmu tersebut tidak menyenggol hukum yang diharamkan Allah, maka bukankah sebaiknya kita lakukan? Segala yang baik asalnya dari Allah, sedangkan segala hal yang buruk asalnya dari diri kita sendiri.

Hal ini dikecualikan dengan contoh kasus berupa TAHNIK. jika Nabi pernah mencontohkan suatu kasus yang (mungkin) sedikit berseberangan dengan keilmuan manusia. Maka sebagai muslim, menjadi sunnah hukumnya mentaati perintah Rosul dan mengesampingkan apa yang sedang difatwakan manusia. 
Dari Abu Musa, beliau berkata,


وُلِدَ لِى غُلاَمٌ فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ وَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ.

“(Suatu saat) aku memiliki anak yang baru lahir, kemudian aku mendatangi Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau memberi nama padanya dan beliau mentahnik dengan sebutir kurma.” HR. Muslim no. 2145

Sunnah Tahnik terdapat dalam 3 hadis shohih muttafaq’alaih seperti salah satu hadis yang disebutkan di atas. Arti dari tahnik sendiri menurut Imam An Nawawi  adalah : menyuapkan kunyahan kurma bagi bayi yang baru lahir. Jika tidak ada kurma, maka dengan yang mendekati kurma yaitu mendekati manisnya. Caranya adalah yang mentahnik mengunyah kurma sampai hancur sehingga mudah ditelan. Kemudian setelah itu mulut bayi dibuka, lalu diletakkan di ‘hanek‘ (langit-langit mulut), lalu akan masuk ke dalam tubuh. (Syarh Shahih Muslim, 14: 110).

Dalam kesepakatan para konselor laktasi sekalipun, hal seperti ini tidak dianggap sebagai pemberian MPASI (Makanan Pendamping ASI) dini, karena hanya diberikan SEKALI saja. Dengan begitu, banyak yang telah sepakat bahwa keilmuan kesehatan modern (kedokteran) dengan Thibun Nabawi bisa berjalan berdampingan bukan? Wallahu’alam bi showab.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
; //]]>