MIE INSTAN BERSAUDARA

Keempat gadis berseragam SMP itu melangkah gontai di sepanjang jalan. Tiga diantaranya memasang wajah bingung saat melihat salah satu diantara mereka tengah cemberut. Ketiga gadis SMP itu mengenal betul watak si Cemberut itu, kalau sudah seperti itu, jelas ada sesuatu yang mengganggunya dan akan jadi buruk jika ada yang sok ikut campur.

Si Cemberut berbalik menghadap ketiga temannya yang dari tadi sudah gatal ingin becanda-canda seperti biasanya. Jika boleh jujur, mood si cemberut ini sangat merusak suasana. Untuk melawan teriknya sinar matahari siang hari mereka biasanya menghabiskan waktu jalan kaki dengan becanda, dengan begitu jarak sekolah ke rumah tak pernah jadi masalah. Tapi kali ini? membuka pembicaraan saja mendadak menjadi hal yang paling malas mereka lakukan.


Ketiga temannya, si Pirang, si Kotak, dan si Bundar bersiap akan mendengar curahan hati si cemberut yang sedari tadi membuatnya enggan berbicara. Belum sepenuhnya dia mampu mengeluarkan satu kata, mendadak mata si Cemberut berkaca-kaca, pelan tapi pasti mulai keluar suara dari tenggorokannya, tapi bukan suara lincah seperti biasa, melainkan suara lengkingan tangis yang kian detik kian menjadi.

si Pirang, si Kotak, dan si Bundar makin panik melihat reaksi berlebihan dari si Cemberut, mau tidak mau mereka bergantian menenangkan. Si Cemberut sudah mau bercerita meskipun sedikit sesenggukan. Hal-hal yang mengganggu pikirannya dia ungkapkan semuanya agar tidak menjadi beban. Sedang asyik-asyiknya bercerita, tiba-tiba...

"Prettt. Preeett!"

Keempatnya saling berpandangan, si Cemberut yang tadinya nyerocos pun ikut shock mendengar bunyi kentut yang tiba-tiba menggelegar. Sedetik kemudian, meledaklah tawa keempat gadis SMP itu, mereka ingin tetap menghormati si Cemberut yang tadi bercerita sambil berlinangan air mata, tapi sungguh bunyi kentut itu tampaknya lebih menarik untuk dinikmati. Bahkan saat mereka berhenti tertawa karena tersadar bahwa tawa mereka sudah melebihi batas, dan mengundang reaksi berpasang-pasang mata yang seolah ingin memastikan suhu normal di jidad mereka berempat, tak urung mereka kembali tertawa saat melihat si Cemberut malah tidak bisa berhenti hingga air mata kesedihan yang keluar tadi tertutup oleh air mata tawa yang tak kunjung berhenti. 

Si Kotak merasa bersyukur, ternyata kentut yang mati-matian ditahannya itu bertuah. Bisa membalikkan suasana hati si Cemberut dan mengembalikan suasana riang diantara mereka. Thank's a lot kentut.

****

Sedikit cerita singkat. mungkin banyak yang berfikir, apaan sih maksudnya cerita ini? Gak penting juga dijadikan prolog dalam blog sekaliber ini *WAKAKAKAKA*. No no no.. it's just not about the 'geje' story.. tapi itu penggalan kenangan yang indah menurut kami.

Kami? Ya kami. Siapa itu? Saya a.k.a si Cemberut, Anik a.k.a si Pirang, Yani a.k.a si Kotak, dan Aan a.k.a si Bundar. Kami dalam masa silam yaitu 14 tahun yang lalu, hanya seonggok gadis-gadis 'kere' yang tanpa sengaja berteman karena dipertemukan dalam satu sekolah menengah pertama yang sama.

Awalnya dulu, saya yang selalu bersepeda sendirian ke sekolah merasakan kesepian. Entah kenapa saya tiba-tiba ingin berangkat bareng sama si Anik. Gadis berambut pirang (nama lebay karena rambutnya saat itu kecoklatan hampir mengarah ke dark blonde asli) itu punya jarak rumah sekitar 2 kilo dari rumah saya, kalau berangkat sendiri seharusnya saya cukup menempuh sekitar 3 kilo saja dengan hanya bersepeda. Tapi karena saya kesepian, saya lebih memilih untuk bersepeda sejauh 2 kilo ke rumah Anik dulu, lalu jalan kaki bersamanya ke sekolah sejauh 3 kilo lagi. Kenapa harus jalan bareng Anik? Entahlah, saya hanya tau bahwa dialah yang menjadi teman pertama saya saat MOS (Masa Orientasi Siswa).

Tiap saya akan berangkat sekolah dari rumah Anik, ada 2 makhluk ajaib lain bernama Yani dan Aan yang mereka berdua selalu bersepeda bareng dan melewati rumah Anik. Sebelumnya kami hanya sebatas bertegur sapa kalo ketemu di jalan. Entah mengapa (mungkin karena kuatnya daya tarik saya saat itu) lama-lama mereka berdua juga memutuskan untuk berjalan kaki bersama kami berdua dan ikut-ikutan menitipkan sepeda di rumah si Anik. Sejak saat itu, jadilah rumah Anik sebagai tempat penitipan 3 sepeda butut, dan kami berempat memutuskan untuk berjalan bersama mengarungi jalan beraspal demi menuntut ilmu #HALAH#

Kalo dipikir-pikir sekarang ya. Dari kami berempat hanya Anik yang gak punya sepeda, kami yang punya pilihan lebih enak dengan mengayuh sepeda ke sekolah kan sebenernya? Tapi kenapa akhirnya kami memutuskan untuk ikut jalan kaki bareng Anik, demi apa coba?? capek-capek'in diri sendiri, bikin kulit item, bahkan kaki saya sama Aan sampe belang karena sebagian ketutup kaos kaki. Yah saya juga masih heran sampai sekarang kok bisa kami bego begitu. Tapi ya itu tadi, saat kami remaja dulu, kami hanya tau bahwa kami butuh teman dan tidak ingin kesepian. Kami butuh teman untuk iseng-isengan, lucu-lucuan.

Tidak menarik?? Hmmm.. mungkin iya, karena setiap cerita punya sisi kenangan sendiri yang menarik bagi para pelakunya. Banyak kenangan, banyak cerita. Bagi kami, ada cerita tentang lelaki kece yang tinggal di peternakan kambing (dekat arah kami ke sekolahan), dan kami menjulukinya "mas kambing", dengan sok centilnya kami berusaha caper biar Mas Kambing itu melirik ke arah kami, menggelinjang gak jelas biar mas itu senyumin kami, dan tebak. Itu benar-benar murahan kan?? Ckckckck. Ada lagi saat kami berempat memasang tampang melas (muka sok memprihatinkan, lelah, letih, lesu) untuk menarik simpati teman kami yang biasanya dianter / dijemput pake mobil, dan itu kadang berhasil juga membuat kami jadi nebengers. Tapi menurut saya hal yang paling berkesan adalah, kami yang saat itu masuk ke dalam golongan berkasta sudra dengan uang saku pas-pasan, jika ingin jajan saat perjalanan pulang, entah makan bakso, beli es wawan, atau sekedar beli es nutrisari, maka kami harus rela tidak jajan saat istirahat.

Seringkali kami bela-belain bawa bekal mie instan yang kami siapkan sebelum berangkat sekolah, dan mie itu kami makan saat perjalanan pulang sekolah. Kebetulan memang perjalanan yang kami lewati di kawasan bumi marinir banyak pepohonan yang rindang kaya di kebun-kebun gitu, dan disanalah kami berandai-andai seolah sedang piknik lalu duduk sambil makan mie instan di bawah salah satu pohon yang ada di sepanjang jalan. Bercerita tentang apa saja, berargumen ngawur, berakhir saling mengolok, lalu tertawa-tawa lagi. Dan tebak, mie instan saat itu adalah mie instan terenak yang pernah kami makan! Best Ever!

Tidak akan spesial kalo saja kami masih in contact. Dengan Aan okelah, karena ternyata kami satu SMA. Untuk Anik oke juga, kita masih telfon-telfonan lewat flexi, tapi sejak flexi kami wafat (innalillahi) sekitar 2 tahun kami lost contact juga, apalagi posisi saya yang saat itu masih tinggal di Ngagel, bukan di Maritim yang jaraknya hanya 1,5 kilo dari rumah Anik.

Untuk Yani? Dialah yang selama 12 tahun tidak ada kabar sama sekali. Gimana mukanya? Masih suka cengengesan kaya dulu? Atau tiba-tiba muka kotaknya itu sudah berubah tirus? Who knows?

Sampai akhirnya Ramadhan tahun ini, saat saya absen masuk kantor karena sakit dan diam cantik di rumah. Tiba-tiba ada telfon yang saya kira dari kantor dan berhubungan dengan pelelangan yang saya urus, tapi ternyata di seberang sana terdengar suara asing sedang nyerocos gak karuan.

di sana : "Hello.. ini beneran Wida??"

saya : "Iya bener, ini siapa?"

di sana : (tidak menjawab dia siapa) "Ya Ampun Widaaaaa.. unbelieveble! i found you! Thank's God! Gimana kabarmu sekarang? Kamu sehat-sehat aja kan?"

saya : (curiga, takut digendam) "Iya baik-baik aja. Eh ini siapa ya?"

di sana : "Yaelah masa kamu lupa sama aku??! Ini aku wid! Aku!"

saya : (menaikkan satu alis, tambah curiga, beristighfar takut dihipnotis disuruh jalan ke ATM)

disana : "Ini MELING wid! Yani.. Yani.. Meling Indayani!!"

saya : (memutar otak. YANI? Kaya pernah denger)

sedetik kemudian "Oh Gosh!! Yaniiiii... si kotak????"

blablabla.. dan semua-semua yang bisa kami katakan untuk saling memastikan bahwa orang yang kami kira Yani dan Wida ini adalah Yani dan Wida yang sesungguhnya, orang yang sama yang ada dalam bayangan kami. Teman SMP, teman Gila, teman Growing Up (yang tidak dapat saya ceritakan di sini *ROTFL*)

Begitu dramatisnya, ternyata si Yani yang saat itu di meja kerjanya sedang menelfon seseorang, tiba-tiba dia memainkan kalkulator di tangannya sementara nada sambung orang yang sedang dihubunginya itu masih berbunyi. Tanpa sadar tangannya bergerak memencet angka dalam kalkulator sehingga membentuk rangkaian 7 angka yang selama ini hampir dia lupakan.

Yani mengingat-ingat rentetan angka yang ada di layar kalkulatornya. Keisengannya memencet-mencet kalkulator membawanya tanpa sadar pada sebuah kenangan masa lalunya. Ini kan nomer telepon rumah WIDA??!!

Akhirnya pada hari itu, hari dimana saya kebetulan absen kerja dan di rumah, dia menelfon saya, membangunkan saya dari masa sekarang dan kembali ke masa lalu kami. Padahal beberapa minggu sebelum si Yani menghubungi saya, Aan sempet BBM dan menanyakan nasib si kotak pada saya. Saya juga hanya bisa memberikan emoticon straight face tanda saya juga tidak tahu dimana keberadaan bocah satu itu.

Inilah kami sekarang. Bertemu lagi, face to face, berempat, mengejar cerita masa lalu, menyongsong cerita masa depan, bertukar pikiran dengan wawasan yang lebih luas dan tentunya lebih dewasa. Saya tidak perlu berkecil hati hanya karena saya satu-satunya emak-emak diantara 3 gadis (gadis = belum kawin) ini #HALAH#. Karena yang penting, bertambah 3 orang lagi yang membuat saya nyaman menjadi diri saya sendiri. Saya tidak perlu setiap hari bertemu mereka, karena saya tahu kami dekat bukan karena "pernah".. tapi "akan selalu"..

Di bawah sini adalah foto kami kemaren malam pas hangout di Royal Plaza (dengan konsekuensi si Naell udah bobok pas saya pulang, paginya merajuk gak mau ditinggal kerja, dan akhirnya saya telat). Oooooo... saya berharap punya foto-foto kalian pas SMP dulu, membandingkan betapa culun nya saat itu kami.

Tryin to be ababil 'again'

3 komentar:

  1. si bunder :: hey,ayam cemberut,niat terkenal secara instant ya ampe mencantumkan nama si bunder and si kotak?wakwakwakwak..(lopheyousomuchasalways)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huahaha.. kudet banget sih gueh.. kowe nulis komentar dari tahun 2014 eehh baru tak bales sekarang. Ckckckck..

      Hapus
  2. love you too Mak Deeerrrrr......

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.
; //]]>