may you think....

Entahlah.. tulisan saya kali ini rasanya sedikit frontal, mungkin...

Well.. it's just about RELIGION. FAITH.

Kasus Pertama : 
Beberapa tahun yang lalu saya sempat membaca sebuah blog yang isinya seorang gadis berkerudung yang kaget ketika melihat temannya tidak menggunakan lagi kerudungnya, si empunya blog ini masih tetap berkerudung sementara hatinya ada keragu-raguan dan seolah suatu hari nanti tidak menutup kemungkinan untuk mengikuti jejak sang teman, teman yang katanya sekarang merasa lebih 'free' karena lebih bebas tanpa kerudungnya.


Komentar saya :
Kok bisa ada seorang wanita yang kepikiran untuk melepas kerudungnya yang bahkan belum syar'i sih??? Sementara saya yang juga saat itu masih berkerudung biasa, tidak pernah sekalipun terpikirkan untuk menanggapi bisikan setan untuk meninggalkan kerudung saya di depan umum, bahkan senakal apapun saya saat itu. Boro-boro meninggalkan kerudung, justru yang berkecamuk dalam pikiran saya sehari-hari adalah gimana saya bisa berani keluar dengan jilbab syar'i yang saat itu masih saya khawatirkan pandangan orang lain terhadap saya.

Tentang teman si empunya blog yang katanya lebih merasa free itu, saya faham apa maksudnya sekarang. Dengan hijab, semua kelakuan buruk memang harusnya tertahan karena minimal kita malu dengan apa yang kita pakai, malu bergaul dengan orang-orang yang 'tidak baik', because a shame is one of the part as a muslimah woman who has a faith, malu terhadap konten 'what we wore' adalah perasaan minimal jika kita sulit membayangkan bahwa segala sesuatunya ada Allah yang melihat, ada Allah yang menilai. Nah dengan melepas kerudungnya, maka dia yang tanpa sadar berteman dan disayang sama setan merasa lebih free untuk berbuat hal-hal yang nyeleneh, lebih bebas untuk melakukan hal-hal lain yang juga dilarang agama, sebut saja selain membuka aurat, bergaul dengan orang-orang yang mendukungnya melepas hijabnya, dan merasa tidak mempunyai tanggung jawab untuk berbuat baik karena dia tidak berhijab. Hmmm... gitu kira-kira.

Dan kenyataannya adalah : teman kuliah saya sendiri melakukannya, seorang wanita cantik yang ceria, yang baik, dan pernah menduduki jabatan penting di organisasi Islam kampus saya, yah dia melepas kerudungnya demi.. entah demi apa.... Entahlah apa masalahnya hingga dia seberani itu menantang perintah Allah, kenapa menantang, karena dia meninggalkan kerudungnya bahkan setelah tahu apa yang diwajibkan baginya, apa namanya kalau tidak menantang?? Yang jelas saya hanya bisa mendoakan dia setelah saya mencoba mengingatkan tapi juga tidak berhasil.


Kasus Kedua : 
Lalu ada lagi teman SMA saya yang demi pasangannya rela meninggalkan agama Islam, Mungkin mereka mengelak kalau masuk ke dalam agama barunya adalah karena cowok. Tapi demi apa coba kalo bukan karena itu? Karena mendadak dipertemukan dengan agama yang lebih menyenangkan? Agama yang tidak menuntut banyak dalam tingkah laku sehari-hari? Agama yang tidak mewajibkan pengikutnya sujud mulu tiap 5x dalam sehari??

Komentar saya :
Sebelum meninggalkan Islam, apa pernah mereka mempelajari dulu Islam itu dalamnya seperti apa? Apa pernah mereka mencoba ikhlas dalam beribadah karena mereka tahu ilmunya? Tidak hanya sekedar pertanyaan pertama 'apakah' Islam itu? Atau pertanyaan terakhir 'Bagaimana' Islam itu? Tapi 'kenapa'.. ya.. harusnya yang mereka tanyakan adalah 'kenapa' harus Islam, 'kenapa' harus beribadah dengan cara seperti ini? 'Kenapa' harus seluruhnya sedetail ini diatur dalam Islam? 'Kenapa' harus Allah Tuhan yang harus kita sembah, dan 'kenapa' harus Nabi Muhammad sebagai pembawa Rahmat dari Allah yang harus kita jadikan panutan?

Jika sudah terlintas pertanyaan 'KENAPA', maka pastinya dia akan tergerak untuk mengetahui lebih dalam apa yang bisa membuatnya yakin tentang agamanya sendiri. Coba pikirkan saja, kitab kami Al Qur'anul Karim, sejak dari dulu menjadi dasar penelitian di seluruh dunia, kesehatan, masalah keturunan dan proses pembentukan manusia, sistem tata surya, kejadian-kejadian terdahulu, sampai kejadian-kejadian yang akan datang. Apa pernah sekalipun mereka membuka kitab mereka, bukan sekedar membaca tapi meresapi maknanya? Dari kitab yang tak pernah berubah sedikitpun sejak jaman dibukukannya Al Qur'an hingga sekarang, itu saja.. apa tidak cukup membuat mereka menjadi kaum yang berfikir, siapa yang sesungguhnya benar??

Kadang saya penasaran, ingin coba berdiskusi dengan sahabat yang mengambil langkah 'kelewat' berani ini. Saya ingin mencoba mengerti kenapa mereka melakukannya? Lalu setelah itu saya ingin juga mengetahui apa masih ada kesempatan untuk hatinya membuka diri pada Islam? Tapi lalu saya teringat bahwa agama kami mengajarkan 'Lakum diinukum waliyadiin'. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.. Saya hanya bisa berdoa, semoga Allah belum menutup rahmat atas mereka semua. Semoga Allah masih belum murka dan membiarkan pintu hati mereka tertutup sehingga tidak menemukan jalan untuk bertaubat. Saya juga tidak bisa berbuat terlalu banyak karena saya sendiri adalah manusia yang juga baru belajar Islam, baru belajar agama yang sudah saya anut sejak lahir ini. Manusia yang jelas jauh dari kesempurnaan apalagi muslim ideal yang punya kemampuan untuk itu.

Hopely... hopely...



Ya memang semua ini kembali kepada HAK, dan menurut saya, memang adalah hak manusia untuk masuk ke surga, atau ke neraka. Dan sekarang, sebagai orang tua, saya punya KEWAJIBAN untuk menjadikan dan mendidik anak saya menjadi anak yang Sholeh, agar dia tidak sembarangan menggunakan HAK nya yang menyebrangi syari'at ALLAH, Nauzubilaahimindzaalik. Kumpulkan kami kelak di SurgaMu ya Allah, matikanlah kami dalam kematian yang khusnul khatimah, Amin Ya Rabbal'Alamiin..

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
; //]]>