WELCOME OUR BELOVED “EYJAZ NAELL SYAINDRA” TO THE WORLD.. part 4



IMD AGAIN….

Seperti di film-film, saya terbangun sambil celingukan ngeliat ke semua sudut ruangan. Saya ada di ruangan berukuran kira-kira 5m x 5m dengan 2 pasien lain yang juga tergeletak lemah tak berdaya pasca operasi seperti saya. Perut bawah bekas jahitan udah mulai terasa nyeri, dan itu artinya bius lokal lewat tulang belakang itu sudah berangsur hilang efeknya. Cuma saya masih belum bisa bergerak bebas sepenuhnya, karena kaki saya juga masih mati rasa.

Lewat suster yang datang meriksa, saya baru tau bahwa saya sedang ada di ruang recovery pasca operasi, dan saya masih harus di sana menahan lapar sampai 6 jam sejak saya di ‘tidurkan’. Tidak boleh makan atau minum sebelum saya kentut, kalau saya nekad makan atau minum, maka perut saya akan kembung dan bisa menimbulkan efek baru untuk kondisi labil pasca operasi. Well, okey lah.. lewat suster pula saya titip pesan untuk memanggilkan suami saya. Dan begitu suami saya datang, saya langsung memberondongi dia dengan berbagai pertanyaan tentang si dedek. Sudah diadzani belom? Sudah di sunnahi mengecap sari kurma belom? Trus gimana wajahnya? Sekarang dia dimana?

Suami langsung menunjukkan beberapa foto pasca si dedek diantarkan ke dia untuk diadzani, duh lucunya, wajahnya masih wajah asli gitu, jadi bengkak sana-sini, hehehe. Kata suami juga si dedek saat itu lagi di ruang bayi dan katanya nanti akan segera diantar ke sang ibu kalau sang ibu sudah sadar.

Tepat saat HP suami saya bunyi adzan maghrib, si dedek diantar ke saya. Senengnya melihat wajah cowok kece yang masih belum dimandikan itu, melek-melek males bikin gemes saya. Kalo saya sudah bisa bergerak, pasti sudah saya ciumi tuh cowok mungil.

Perawat membantu saya untuk meletakkan si dedek agar bisa IMD lagi. Tapi dasar pelor kaya papanya, mau diotak-atik kaya apapun si dedek tetep gak bangun apalagi berharap dia bisa belajar ngenyot. Saya sempat khawatir kalo nih anak tetep kaya gini, stimulasi ASI saya gak bakalan bisa dimulai malam ini.

Kenapa saya ngotot sekali ingin memberikan ASI untuk anak saya? Emangnya masih perlu alasan lagi ya? ASI adalah hak mutlak untuk seorang bayi, bahkan hak nya pun diatur dalam undang-undang, bahkan WHO dan UNICEF sendiri merekomendasikan para ibu untuk memberikan ASI eksklusif kepada bayinya selama 6 bulan pertama. Sudah merupakan kewajiban para ibu yang dianugerahi seorang anak oleh Allah untuk memberikan hak itu kepada darah dagingnya sendiri.

Kenapa 6 bulan? Karena ilmu kedokteran anak DUNIA telah mengkaji ulang bahwa dalam masa 6 bulan bayi tidak membutuhkan makanan lain selain ASI, enzim-enzim yang terdapat dalam lambung bayi pun belum mampu mencerna dengan sempurna makanan lain. Sedangkan kandungan dalam ASI sudah cukup untuk memenuhi nutrisi nya selama 6 bulan sebelum perut sang bayi bersiap menerima makanan pendamping lainnya.

Saya juga sering sekali gugling tentang baiknya ASI untuk perkembangan bayi jauh sebelum saya hamil tua. Lewat AIMI, dan lewat teman-teman saya yang PRO ASI. Banyak memang ibu-ibu yang kurang teredukasi untuk pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama umur bayi, mereka cenderung percaya bahwa sufor itu lebih mengenyangkan atau lebih baik kandungannya ketimbang ASI, alasan lain pun seperti tidak keluarnya ASI sehingga anaknya kurang ‘kenyang’ atau alasan ibu-ibu muda lainnya tidak mau memberikan ASI hanya karena takut bentuk payudaranya tidak indah lagi, merupakan alasan yang menurut saya dibuat-buat, and SELFISH!

Menurut ahli laktasi pada AIMI, tidak ada ASI yang tidak keluar jika di stimulan, tidak ada ASI dalam jumlah sedikit jika distimulan, bahkan tidak perlu repot-repot minum jamu atau obat apapun,  hisapan bayi atau alat perah ASI membuat otak ibu terstimulan untuk memproduksi ASI lebih banyak lagi untuk menggantikan ASI yang telah dikeluarkan.

Selain dari sisi ekonomis dimana ASI jauuuhhh lebih murah dibanding susu formula, banyak kandungan yang tidak didapat di susu formula dan hanya terdapat di ASI, kandungan ASI yang pertama kali keluar dari ibu disebut kolostrum, umumnya berwarna sedikit kekuningan dan itu mengandung banyak sekali immunoglobulin lgA yang bagus buat pertahanan tubuh bayi, serta mengandung jutaan sel darah putih untuk mencegah bayi kuning. ASI juga mengandung laktosa atau karbohidrat paling tinggi dari spesies lain yang berfungsi sebagai salah satu sumber energi untuk otak. Jumlah laktosa dalam ASI sekitar 7% atau hampir 2x lipat dibanding laktosa yang ada pada susu sapi atau susu formula.

Kandungan lain yang gak kalah penting adalah AA dan DHA, meski dalam beberapa sufor ada kandungan 2 asam lemak tersebut, tapi dalam ASI terdapat enzim lipase yang membuat penyerapan AA dan DHA itu lebih optimal.

Alasan ibu-ibu muda yang takut bentuk payudaranya jadi jelek akibat menyusui itu benar-benar hanya alasan yang keliatan banget tuh ibu-ibu gak melek ilmu. Payudara mulai berubah bentuk menjadi lebih besar dengan areola yang juga bertambah luas adalah saat kehamilan, otomatis bentuk payudara sudah jauh berbeda dari semenjak masa kehamilan sendiri itu terjadi, bukan pada saat menyusui. Jadi kalau tidak ingin bentuk payudara berubah ya jangan hamil.

Alasan lain ibu-ibu muda tidak memberikan ASI mereka pada anak yaitu pengen segera mengembalikan badan ke bentuk semula dan tidak sabar kalau harus menunggu waktu 6 bulan (saja). Mereka meminum obat diet atau sejenisnya, atau melakukan diet ketat demi bentuk badan ideal sebelum hamil. Lalu menurut kalian itu namanya apa? So selfih kan?? 

Sedihnya, kalau para ibu-ibu ini diingatkan perihal pentingnya pemberian ASI kepada bayi, mereka rata-rata selalu ketus. Menganggap bahwa memangnya kalau anak sudah minum ASI, lalu anak-anak itu tidak bisa sakit?? Well, sakit atau tidak, yang penting kewajiban sebagai ibu harusnya dilakukan dulu. Sama seperti sekolah, memangnya kalau anak sekolah, sudah pasti anak itu akan pintar atau kaya?? Jawab saja sendiri! Atau kalimat ketus lainnya seperti : “Anak-anak gue? Hidup juga hidup gue? Lo mau apa?”. Kalau sudah gitu, mau diapain lagi coba? Ya sudah, bener juga, hidup ya hidup elo, so hiduplah dengan cara anda dan ajarkan anak anda keegoisan sejak dini. 

Kembali lagi ke NIAT. Keluarnya ASI untuk sang buah hati itu tergantung hanya pada NIAT, kalau memang sejak awal para ibu tidak mau atau tidak punya keinginan kuat memberikan yang terbaik bagi bayinya termasuk pemberian ASI, maka tidak kaget kalau ujung-ujungnya sang anak akan mengkonsumsi susu formula.

Memang ada beberapa kondisi khusus yang dialami sebagian KECIL (kecil banget ya! Jadi bukan dialami oleh wanita-wanita yang mengaku gak bisa keluar ASI nya hanya karena kurang telaten atau alasan yang dibuat-buat) wanita di dunia yang mengalami penyakit tidak bisa memproduksi ASI karena BREAST HYPOPLASIA seperti yang dialami artis Marshanda, dimana setelah melahirkan, payudara mengecil kembali seperti sebelum hamil. Kondisi ini membuat stimulan apapun tidak berhasil membuat ASI keluar.

Saya bukannya anti sufor ya! Tolong digaris bawahi. Susu formula juga bukan hal yang ‘haram’ diberikan pada bayi. Hanya saja pemberian sufor harusnya diatur saat bayi sudah boleh mengkonsusmi MPASI (Makanan Pendamping ASI) setelah usianya 6 bulan. Saya sendiri juga akan memberikan makanan pendamping salah satunya susu formula di usia bayi ideal, agar pertumbuhannya yang membutuhkan banyak asupan dan vitamin lebih maksimal. Tapi ini pendamping loh ya, bukan pokok! Karena saya tetap akan memberikan ASI saya hingga anak berusia 2 tahun.

Balik ke si dedek yang juga belum mau bangun untuk mengenyot, tapi saya tetap sabar dan yakin bahwa si dedek pasti bisa menghisap nipple mamanya, dan harus diakui butuh ketelatenan khusus apalagi saya masih belum bisa bergerak bebas akibat sisa bius yang belum sepenuhnya hilang. Sampai mulut si dedek saya buka dan saya cuek saja memasukkan nipple ke mulutnya. Tetap diam, dan masih sambil kriyep-kriyep dia nya mungkin mencoba mengenali benda apa itu dalam mulutnya.

Dedek dianter ke saya sekitar waktu maghrib, dan baru jam 9 an malem dia berhasil mengenyot, awalnya dia hanya menarik-narik puting saja, lalu pelan tapi pasti dia mulai menghisap apa yang ada di mulutnya. Sakit? Jelas, orang bilang lidah bayi itu masih kasar, jadi wajar kalo terasa geli-geli ke arah sakit. Trus ASI nya keluar? Sayangnya saat itu belum, karena mungkin stimulannya belum cukup. Tapi tetep Alhamdulillah, akhirnya si dedek bisa juga!! Hebat dek!

Tapi ada kabar sedihnya. Si dedek positif terkena infeksi ketuban yang sudah terkontaminasi lebih dari 24 jam. Leukositnya juga tinggi di atas normal, entah itu akibat dari ketuban juga atau emang bawaan? Yang jelas, si dedek yang juga dipasang perantara suntikan di tangan mungilnya itu harus rela menerima suntikan antibiotik selama 3 hari sejak kelahirannya, dan dalam sehari harus ada 2 suntikan untuk menghindari efek infeksi berkelanjutan. Sabar ya sayangku.

Karena si dedek mengkonsumsi ASI dari saya, maka sejak malam itu di rumah sakit, si dedek tidur sama saya agar saya bisa memberikan ASI kapanpun si dedek mau. Malam itu dimulai saat si dedek usrek gak bisa tidur, saya terus memberikan nipple saya untuk dihisap buah hati tercinta. Masih keluar sedikit sekali dan tentu membuat si dedek belum terlalu kenyang. Tapi yang bikin senang adalah, si dedek masih terus berusaha menghisap nipple saya. Bagus dek! Kita memang harus sering kerjasama seperti ini.

Besoknya, ASI perlahan sudah mulai keluar, dan siang menjelang sore, tanpa diduga ASI saya keluar sangat banyaaaakkk sampe si dedek kewalahan. Alhamdulillah ya Allah atas nikmatmu!!! Hari-hari berikutnya saya malah berjuang untuk menyiasati banyaknya ASI yang terbuang percuma saat si dedek belum bangun untuk minum, saya pun mulai merasakan sakitnya payudara saat isinya sedang penuh, dan nyamannya saat payudara di kompres dengan air hangat yang ujung-ujungnya malah membuat ASI nya keluar tanpa dikenyot sekalipun, hehehe. Bener-bener pengalaman seru!!

Ohya satu lagi, anak-anak yang mengkonsumsi susu formula dan ASI kadang perbedaannya terlihat jelas di berat badan. Bayi-bayi yang mengkonsumsi ASI banyak terbukti memiliki kemampuan kognitif lebih baik dibanding yang diberi susu formula yang mengandung komponen susu sapi. Jangan khawatir jika berat badan bayi ASI cenderung stabil di garis grafiknya, karena ASI itu mengandung komponen yang baik untuk otak, sedangkan komponen dalam susu sapi lebih kepada pembentukan otot yang menyebabkan massa bayi yang mengkonsumsi susu sapi lebih cepat naik. Itu sebabnya anak manusia perlu waktu 180 hari untuk mencapai dua kali berat lahirnya, sedangkan anak sapi hanya perlu 47 hari. Lagipula secara ‘isi’ jelas bayi ASI lebih baik karena bukan dibentuk oleh formula buatan pabrik, tapi diisi oleh cinta kasih seorang ibu lewat ASI.

Berbeda pula dengan bayi sufor yang harus selalu dibangunkan tiap beberapa jam sekali untuk diminumin botol karena takut dehidrasi, bayi ASI saat tidur tidak perlu dibangunkan sebentar-sebentar hanya karena mereka harus segera minum ASI. Saat-saat mereka tidur adalah saat terbaik perkembangan otak mereka, dan tubuh mereka memberi sinyal jika sudah saatnya bayi harus minum maka bayi akan bangun dengan sendirinya, dan kandungan ASI kapanpun mereka minum menghindarkan mereka dari dehidrasi dan mengganti kebutuhan asupan mereka saat tidur.

So, be brave mother… berikan yang terbaik untuk bayi anda, minimal selama 6 bulan saja, pemberian ASI dapat meningkatkan kedekatan antara ibu dan anak. Ingat! Allah sudah begitu baik menganugerahkan si mungil ini untuk kita, jadi sudah seharusnya memberikan apa hak mereka yang ada dalam tubuh kita.

sesaat sebelum pulang dari RS


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
; //]]>