WELCOME OUR BELOVED “EYJAZ NAELL SYAINDRA” TO THE WORLD.. part 3

22 DESEMBER 2013



DINGINNYA MEJA OPERASI

dr. Ardian pun menyerah membujuk saya karena saya yang sekarat ini masih bisa tetap ngotot dan keras kepala menginginkan operasi. Akhirnya beruntungnya saya karena jadwal operasi dokter lain yang harusnya masuk di jam itu terlambat, maka saya dan dr. Ardian bisa melangsungkan operasi duluan.

Masih dengan menggigil hebat , saya dipasang kateter, lalu mbak perawat itu memasangkan selang infus pada tangan kiri yang sebelumnya sudah lebih dulu dipasang alat perantara suntik. Dan proses pemasangan infus itu saya rasa adalah masa paling menyebalkan, karena mbak suster membuat tangan kiri saya bengkak seketika . Akhirnya dokter anestesi mengecek kondisi saya dan bertanya apa pasien sudah siap? Mungkin karena susternya kelamaan memasang infus, jadinya si dokter ngecek sendiri tangan saya dan langsung menyuruh mbak suster itu mengganti memasang infus ke tangan kanan karena tangan kiri saya sudah bengkak duluan.

Sisa-sisa obat kontraksi masih membuat saya merasakan sakit hebat di rahim saya, dan tubuh yang menggigilpun berkali-kali mencoba tumbang bahkan saat perawat menyuruh saya berpindah dari kasur melahirkan ke kursi roda untuk diantar ke ruang operasi.

Saya pun masih sempat protes ke dokter saat masuk ke ruang operasi yang gak tahu nya lebih dingin dari ruang VK (bersalin).

“ Dok.. kok dingin banget! Saya gak kuat… “ kata saya waktu itu sambil berjalan dari kursi roda ke kasur operasi dengan meringkuk-ringkuk lemas seperti trenggiling yang sekarat.

Dan dokter itu malah ketawa ngakak sambil bilang : “ Ruang operasi memang harus dingin bu, supaya steril.. “
Busett!! Iyakah? seketika berasa bego saya.

Saya gak ingat persis ada berapa dokter yang saat itu menangani, yang saya ingat ada dr. Ardian dan dokter anestesi yang tadi ngecek infus saya, selebihnya ada 3 orang lagi berseragam hijau-hijau dengan masker penutup mulut.

Dokter anestesi itu menyuruh saya melungker lalu menyuntikkan sesuatu ke tulang punggung saya, dan setelah satu menitan, tubuh di bawah payudara sampai ke kaki serasa kesemutan dan akhirnya rasa dingin yang tadi saya rasakan hilang, selanjutnya saya gak bisa merasakan gerak kaki saya lagi. Owalaahh rupanya yang disuntikkan tadi adalah obat bius lokal.

Dr. Ardian pun mengatakan pada saya : “ Siap ya bu Wida, kita akan mulai operasinya. Jangan lupa berdoa ya bu.. “

Saya Cuma mengangguk saja, tak mau konsentrasi zikir saya kacau hanya karena saya grogi dan harus menjawab sapaan dr. Ardian. Sayangnya ada semacam pembatas yang dipasang diantara dada dan perut, sehingga saya tidak bisa melihat apa yang dokter-dokter itu lakukan di perut saya. Sepanjang jalannya operasi, para dokter itu malah becanda-becanda. Dokter anestesi juga sempat menanyai saya beberapa pertanyaan ringan, mungkin untuk mengurangi ketegangan saya dan membuat saya rileks. Padahal.. saya rileks kok dokter, saya diam bukan karena tegang, tapi saya lagi komat-kamit dalam hati untuk baca doa dan berzikir.

Kira-kira 15 menit, dr. Ardian mengatakan bahwa baby boy sudah dikeluarkan. Haahh?? Sudah? Kok gak kerasa? Dan gak lama kemudian si dedek nangis. Nangis nya gak kenceng, Cuma nangis tanggung dan membuat saya cukup yakin bahwa si dedek yang tadi bandel gak mau keluar lewat induksi itu kini sudah hadir di dunia. ALHAMDULILLAH… Kau lahir anakku… tersayangku…

Mungkin saking amaze nya, saya Cuma melongo begitu denger suara si dedek. Bahkan dr. Ardian sempat menggoda saya : “ loohh dedeknya lahir bu Wida malah gak nangis ya? Yang tadi kena sakit induksi malah  nangis.. “. #sungut-sungut#.. maakaassiiiii dokter, udah diingatkan soal yang tadi!

Setelah si dedek dibersihkan, mbak perawat membawa si dedek kepada saya untuk melangsungkan IMD. Si dedek dibawa ke dada saya untuk merangsang kemampuan mengenyot ASI dari saya. Tapi mungkin karena si dedek kecapekan kali ya, jadinya bukannya malah IMD, si dedek malah tidur. ZZzttt….

Mbak perawat akhirnya menawari saya masih pengen melakukan IMD lagi, atau si dedek ditimbang dan diukur dulu? Saya memilih pilihan yang kedua. Masih samar-samar saya dengar dokter mengatakan : “ lahirnya 14.25 ya sust, lalu kepala, panjang dan beratnya berapa? “

Disahuti sama mbak suster : “ LK 32, panjang 49, dan beratnya 2,8 dok. “

“ Okey, bawa ke keluarganya untuk dilihat “, balas sang dokter lagi. Dan selanjutnya saya gak ingat apa-apa lagi karena bangun-bangun saya udah di luar ruang operasi.

Dalam hati saya hanya bisa berbisik bahagia : Welcome my EYJAZ NAELL SYAINDRA…

Ini beberapa penampakan anak saya beberapa saat setelah dilahirkan

mukanya kok isa bengkak semua gitu ya?? hehehe

saat akan IMD


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
; //]]>