WELCOME OUR BELOVED “EYJAZ NAELL SYAINDRA” TO THE WORLD.. part 2

22 DESEMBER 2013

PERJUANGAN DIMULAI!

Suami saya akhirnya menandatangani beberapa berkas untuk persiapan persalinan saya, pemesanan kamar rawat inap (suami saya ngotot saya harus masuk kelas 2 yang isinya 3 bed, karna kamar kelas 3 isinya ada 6 bed, dia gak mau dengan alasan terlalu sesak nantinya), lalu persetujuan rangkaian tindakan induksi, IMD (Inisiasi Menyusui Dini) pasca melahirkan, dan permohonan Pro ASI atas permintaan pribadi saya sendiri. Harus ASI! Karna saya gak mau anak saya sampai mengkonsumsi susu formula di awal-awal hidupnya, padahal dia punya hak penuh untuk hidup dari ASI saya.

Masih di ruang bersalin, saya dipasang alat perantara suntik di tangan kiri, lalu disuruh ganti baju seragam pasien. Cukup gak nyaman, karena Cuma baju seperti piyama yang ada talinya, posisi depan tertutup sedangkan bagian belakang jadinya backless karena cuma ditutupi tali-temali dari piyama pasiennya. Sambil menunggu kamar rawat inap disiapkan, sekitar jam 10 malam saya diminumin obat bubuk yang ditaruh di bawah lidah yang ternyata adalah obat untuk memicu kontraksi, dokter sempat bilang juga obat ini untuk mematangkan mulut rahim saya yang secara waktu belum siap untuk melahirkan secara normal dan alami.

Informasi yang saya dapat setelah saya melahirkan dari kerabat yang seorang perawat, obat pemicu kontraksi ada 2 macam, obat yang dimasukkan lewat jalan lahir, dan lewat oral seperti yang diberikan ke saya. Dan ternyata obat yang lewat oral memiliki efek ‘kejut’ yang luar biasa sakit saat kontraksi dibandingkan dengan obat yang dimasukkan ke jalan lahir. Hmm.. really...

Suster bilang kalo ada reaksi apapun harap menghubungi perawat agar bisa dipantau, dan saya pun tidak boleh terlalu banyak berjalan agar ketuban saya gak semakin habis. Selanjutnya saya dikirim ke kamar rawat inap ditemani suami, dan ternyata disana sudah ada ibu saya tersayang yang datang khusus untuk menemani saya.

Sekitar jam 12 malam lebih suster datang untuk mengecek tekanan darah saya dan menanyakan apakan ada reaksi pasca saya meminum obat bubuk itu? Karena masih belum ada reaksi apapun akhirnya suster kembali memberikan saya obat yang sama, dan pesan yang sama pula jika ada suatu reaksi harap segera menghubungi perawat. Sampai jam 3 pagi pun suster yang mengecek saya masih belum mendapati laporan apapun tentang reaksi obatnya, dan saya akhirnya diberikan obat ketiga dengan cara minum yang masih sama.

Jam 4 pagi besoknya, perut saya mulai mules, tapi saya rasa itu karena pengen BAB, bukan pengen melahirkan. Suster mengijinkan saya untuk BAB tapi dengan beberapa syarat, jangan mengejan terlalu keras, dan jangan berjalan terlalu kencang, semua itu untuk menjaga agar ketuban saya tidak cepat habis.

Mulai jam 7 pagi, perut saya rasanya mules cenderung sakit, kalau satu jam sebelumnya saya masih bisa meringis-meringis cantik, dan masih bisa becanda-becanda sama ibu saya, maka detik itu juga rasa sakit di perut saya makin cepat dan membuat saya tersenyum pun susah. Kata suami kontraksi saya udah mulai 5 menitan. Pikiran saya waktu itu, dari cerita teman-teman yang lain juga, jika kontraksi makin cepat, maka bukaan jalan lahir juga makin lengkap. Jadi kalau sudah 5 menitan gini, pastinya bukaan saya udah makin banyak.

Sampai akhirnya perawat datang dan membuat saya down. Setelah dicek, dengan kontraksi 5 menitan itu, bukaan yang saya alami baru bukaan 1. WHAATTTSSS!!!! Sakitnya udah begini banget dan baru bukaan satu?! Ya Allah bener dah! Saya langsung panik, gak bisa mikir. Yang tadinya saya masih bisa mengatur ritme nafas dengan cara menarik nafas dari hidung dan mengeluarkannya lewat mulut saat terjadi kontraksi, selanjutnya gara-gara kabar itu saya jadi kacau, jangankan bernafas secara teratur, saya pengennya Cuma teriak-teriak aja. Istilah jawanya adalah proses ini sudah masuk fase ‘NGELARANI’

Kontraksi yang saya rasakan makin hebat, dan saya mungkin sudah hampir sinting. Saya masih sadar kalo adik-adik saya datang, bude saya juga datang, semua memberi saya semangat, mengelus-ngelus punggung saya, menuntun saya untuk istighfar, dan suami saya pun masih setia menunggui saya dan berusaha memompa semangat saya agar gak putus asa menjalani rasa sakit ini.

Awalnya saya manggut-manggut aja, masih bisa menuruti apa yang mereka semua ucapkan demi kebaikan saya. Tapi rasa sakit dan kontraksi yang udah makin sering membuat saya gak bisa berfikir jernih. Bawaannya kudu emosi. Mana maag saya kumat dan membuat saya memuntahkan segala macam makanan yang tadi pagi saya makan, termasuk susu coklat kesukaan saya yang masih sempat saya minum saat kontraksi 5 menitan tadi. Dan ternyata itu memang salah satu efek obat kontraksi, yaitu membuat si peminum muntah. Hasilnya, saya tambah lemes, gak bertenaga sementara sakit di perut yang saya alami makin hebat. Blank! Dan saya mulai berteriak kacau. Sempat saya berfikir apa seperti ini rasanya sakaratul maut, rasa sakit yang gak terkira dan dikelilingi orang-orang yang membantu kita menyebut nama Allah.

Belakangan setelah saya melahirkan, ibu saya sempat cerita bahwa beberapa kuku saya yang panjang sempat melukai suami dan adik perempuan saya yang berusaha memegangi saya saat mengalami kontraksi hebat. Wah.. maaf-maaf deh ya, saya beneran gak nyadar saat itu, hehehe.

Perawat pun datang setelah suami saya memencet tombol nursery call karena melihat kondisi saya yang mengkhawatirkan. Dan setelah dicek, kontraksi saya udah 1 menitan dan bukaan saya baru bukaan satu longgar! Artinya bahkan bukaan dua pun belum terjadi tapi rasa sakit yang saya alami sudah emejing gini. Saya kembali stress, dan muntah! AGAIN! Keringat dingin pun mengucur deras menemani rasa sakit yang makin sering saya alami di perut ini.

CENDERUNG GILA!

Akhirnya saya dipindah ke ruang bersalin sambil menunggu dr. Ardian datang. Di sana gak tau karena emang AC nya disetel dingin atau karena emang kondisi badan yang gak fit membuat tubuh saya menggigil hebat. Belum lagi saya harus menanggung rasa sakit yang luar biasa di rahim ditambah lambung yang kosong. Suster pun sampai mengatakan saya seperti mayat, karena tubuh saya membiru dan pucat. Lagi-lagi saya pun sempat muntah (lagi), tidak ada yang dikeluarkan karena sudah kosong perut ini, hanya busa-busa berasa asam yang berhasil keluar dari lambung saya. Saya pun masih sempat memaki seorang perawat yang berusaha membantu saya mengelus-ngelus perut saya, haduuhhh maaf banget mbak suster, saya beneran gak tau harus gimana lagi selain marah-marah.

Suami bolak-balik masuk dan mengecek kondisi saya. Entah karena saya sudah makin stress dan tidak kuat menahan kontraksi hebat yang mungkin sudah kurang dari satu menitan itu, saya akhirnya berkali-kali memohon ke suami untuk Caesar saja.

Sampai akhirnya sang dokter datang juga. Finally! Kalau suami tidak mau bilang ke dokter, biar saya sendiri yang memaksa dr. Ardian untuk mengoperasi saya. Tapi nyatanya dr. Ardian berubah sok cuek sama saya, mungkin beliau tau bahwa kalo membuka komunikasi sedikit saja sama saya, saya pasti akan memaksanya untuk melakukan tindakan operasi. Dan benar saja, beliau memeriksa bukaan saya tanpa ngobrol panjang lebar seperti biasanya, tapi wajahnya itu loh, tetep tersenyum teduh dan hangat membuat saya gak bisa protes!! Allahu Akbaarrrr!! Sakiiittttt….

Setelah 6 jam sejak mules-mules 5 menitan dan dicek, bukaan saya sudah bukaan 5, . Beuh! Baru 5 beta rasa sudah sakit dan hampir oleng. Dan dr. Ardian meyakinkan ke suami saya bahwa saya masih bisa melahirkan normal karena dari obat yang saya minum dan hasil pembukaan yang saya alami cenderung cepat. Padahal suami saya sudah bilang bahwa saya muntah-muntah parah dan sepertinya sudah tidak ada tenaga lagi untuk mengejan, tapi dengan yakinnya dr. Ardian masih yakin saya bisa lanjut. Subhanallah sekali kesabaran anda dokteeerrrr…. Tapi saya gak kuaaatttt… shaakiittnyaaaa... Kamu ngapain aja deekkk di dalem? Kok gak ndang keluar-keluar kamu toohh??

Dokter pun akhirnya membujuk saya :
“ Bu Wida, pembukaannya ini cenderung cepat sekali, posisi bayi juga sudah sangat bagus. Saya rasa sejak kematangan mulut rahimnya, pembukaan ini adalah pembukaan normal “
“ Tapi saya gak kuat dok! “, saya masih ngeyel tapi tanpa tenaga, lemes tak berdaya, dan tebak, beliau tersenyum lagi.
“ Ini belum saya induksi padahal bu Wida. “

WHAT DE….. apa kata nganaa?? Belum induksi?? Lah sedari tadi rasa sakit yang saya alami tuh sakit hasil apaan coba?? Jangan bilang Cuma sakit dari obat yang katanya dibuat mematangkan mulut rahim saya?! Duh gustiiii!!! Ini catatan ya sodara-sodara, gak tau gimana sama orang lain, yang jelas sakit yang saya alami itu SAKIT SEKALI! Kalau ada yang bilang proses melahirkan itu gak sakit, niscaya itu bohong dan sok kuat sodara-sodara.

Saya tetap menggeleng lemah, saya tetep ngotot mau Caesar saja karena rasa sakit yang sudah tidak kuat saya tahan lagi ini. Dan samar-samar saya mendengar dokter ngobrol dengan suami.

“ Ini buka'annya sudah separuh pak Didik, saya yakin bu Wida bisa. Tolong dibujuk lagi bu Wida nya, kalo iya saya akan segera drip supaya pembukaannya lengkap! “

Masih seperti dengan nada khawatir, suami saya mencoba bertanya : “ di drip itu… diapakan dok? Trus efeknya gimana sama istri saya? “

Dengan masih bernada tenang, dr. Ardian di balik tirai yang menutupi saya itu menjawab : “ Efek sakitnya memang luar biasa pak Didik, tapi itu efektif untuk membuka jalan lahir lebih cepat dengan kontraksi tanpa jeda. Obat yang saya drip akan dimasukkan ke dalam infus setelah saya beri vitamin. Tolong dibujuk lagi bu Wida nya, ini sudah separuh jalan, eman kalau nyerah… “ (kira-kira gitu yang saya dengar sambil kriyep-kriyep setengah sadar menahan sakit yang luar biasa)

Saya juga gak mau nyerah dokteeeerrr kalo bukan karena rasa sakit yang bikin nyawa saya keluar masuk hidung ini…. But, saya sudah menunggu si dedek selama 3 tahun, seyakin-yakinnya dokter tetap beliau tidak bisa menanggung resiko jika saya sampai stress, trauma, anfal, atau ‘lewat’ gara-gara proses induksi yang bukan ikut dirasakan dokter, tapi jelas saya rasakan ini. Saya mau berbahagia menyambut anak saya, bukan dengan perasaan membenci proses kelahiran yang menyakitkan ini. Saya tetap bulat untuk menyerah. Yah! Saya menyerah! Saya rasa psikologi saya sudah gak bisa tahan jika saya harus melalui rasa sakit yang lebih sakit dari yang ini lewat proses yang namanya DRIP itu.

MAAFKAN MAMA NAAAAKKK……..

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
; //]]>