Berubah Lebih Baik itu >>> IT MUST !!!

Saya adalah seorang muslim sejak lahir, wanita yang sudah baligh, dan punya kewajiban penuh untuk menutup aurat terlepas itu siap atau gak siap, ikhlas atau gak ikhlas, tetap saja yang namanya kewajiban walaupun terpaksa harus segera dilakukan.

Dulu... saya gak tau gimana cara pake kerudung yang bener sampai akhirnya di SMA saya ikut kegiatan OSIS dan ditaruh di SKI (Sie Kerohanian Islam). Kenapa saya masuk ke sana? karena memang di SMA dulu cewek yang berkerudung masih jarang, dan jadilah kami yang berkerudung ini kebanyakan dimasukkan dalam SKI.

Selama mengikuti kegiatan SKI, mau gak mau saya juga bergaul dengan kakak perempuan senior yang lebih 'islami' dengan potongan baju seragam yang kedodoran dan kerudung panjang, disitu pula saya tahu bagaimana seharusnya memakai kerudung yang syar'i. Saya pun akhirnya tau bahwa yang dimengerti orang tentang Jilbab sebagai penutup kepala adalah salah! arti Jilbab sesungguhnya adalah pakaian panjang dari leher hingga menyentuh tanah, longgar dan tidak menerawang. Begitupun dengan kerudung atau khimar, syaratnya agar menjadi sesuai syari'at adalah harus tebal dan menutupi dada, bahkan kalau bisa menutupi tangan, karena yang boleh terlihat dari wanita hanya muka dan telapak tangan. Ingat! Telapak tangan ya, it means, punggung tangan pun termasuk aurat. #BenerGakSih

Cuma yang bikin saya gak nyaman sama mereka adalah, mereka terlalu 'kumuh' kesannya. Maksud saya, cuek sama penampilan mbok ya jangan keterlaluan, sampe baju seragam itu warnanya jadi putih tulang, kaos kaki bolong masih juga dipake, bahkan ada dari mereka yang gak pake deodorant dan hasilnya adalah bau badan yang gak sedap kalo deket orang.

Selepas SMA, saya pun menjadi mahasiswi yang masih tetap berkerudung tapi juga masih ingin tampil stylish, bahkan saya suka sekali mengumpulkan uang saku untuk membeli baju dan kerudung agar tidak ketinggalan jaman. Tapi anehnya saya masih tetap mengikuti kegiatan BEM yang berhubungan dengan kegiatan keagamaan di mushola kampus di jurusan saya, yaitu JMAA (Jama'ah Mushola Al Azhar).

Entahlah, meskipun kadang saya gak nyaman sama komunitas mahasiswa mushola yang terkesan kaku dan kurang gaul itu, tapi seperti ada magnet yang membuat saya selalu kembali ke sana, mungkin secara tidak saya sadari, hati saya sangat membutuhkan ketenangan, dan harus saya akui dibalik ketidaknyamanan saya bersama orang-orang ini, saya menemui ketenangan kalo berada di dekat mereka, saling berbagi ilmu agama, belajar membangun kebersamaan, juga adanya perasaan bahwa mereka selalu melindungi saya dari perbuatan yang 'bandel'.

Menjelang akhir masa kuliah saya, saya sempat belajar memakai kerudung yang sesuai syari'at, yaitu kerudung panjang menutupi dada, dan baju-baju longgar, dan mulai hanya memakai rok saja. Itu semua karena saya mulai intensif ikut ngaji salaf yang membahas seluruh tata cara hidup sesuai syari'at Qur'an dan Hadist-hadist sahih bersama Ibu saya yang lebih dulu ikut ngaji. Tapi mungkin saat itu saya salah niat dan tidak benar-benar 'ingin' melakukannya. Saya melakukannya hanya karena menuruti emosi sesaat, emosi apa itu? Tidak bisa saya jelaskan di sini, yang jelas itu hanya bertahan sebentar, kurang dari setahun saya pun kembali memakai kerudung dengan ukuran standar yang kadang menutupi dada, dan kadang tidak, baju pun kadang longgar, kadang ketat, meskpiun saya masih memakai rok bila keluar rumah, tapi tidak jarang juga saya memakai celana bahkan legging jika ke luar rumah.

Sampai saya menikahpun, keinginan untuk merubah diri memakai baju yang lebih syar'i pun ada, tapi saya merasa tidak ada dukungan penuh dari suami saya. Bukan melarang! Bukan.. tapi suami saya malah bilang : yakin mau seperti itu dan gak balik lagi kaya gini??? Lah makanya saya maju mundur. Padahal yang saya harapkan jawaban dari dia adalah : Alhamdulillah ma! Mama akhrinya terbuka hatinya untuk meringankan beban Papa di akhirat nanti. Hohoho, itulah contoh sepasang suami isteri yang kurang ilmu, jadi sama-sama gak bisa saling ngingetin kalau ada salah satu yang salah.

Lepas dari dukungan suami atau tidak, seharusnya saya tetap melakukan kewajiban saya sebagai muslimah, suka atau tidak, ikhlas atau tidak. Sampai akhirnya saya hamil, dan mungkin ini jadi pembuka hidayah yang selama ini saya cari.

Saya telah lama menginginkan seorang anak, dan Allah pun dengan baiknya mengabulkan do'a saya selama ini. Lalu apa balasan saya sebagai seorang hamba kalau bukan menjadi hamba yang bersyukur? Dengan apa saya mewujudkan rasa syukur itu? Bukan dengan acara syukuran lah, tapi dengan cara berubah menjadi lebih baik, hamba yang lebih baik. Lagipula impian saya adalah memiliki anak yang sholeh. Sungguh saya begitu takut dan serem dengan pergaulan anak-anak jaman sekarang, saya dulu sudah sangat 'nakal' dan tidak menginginkan anak saya menjadi senakal saya atau papanya.

Ibu saya bilang, kalo keluarga adalah contoh terdekat seorang anak untuk membangun karakter dirinya, dan kalo menginginkan anak yang sholeh, maka sebagai orang tua, saya punya kewajiban untuk mencontohkan hal yang baik dan bisa jadi panutan. Tidak mungkin saya menginginkan anak yang mengerjakan amalan sesuai syari'at jika ibu nya sendiri tidak mengerjakan hal kecil yang sebenernya sangat  simpel yang sesuai syari'at, yaitu memperbaiki PENAMPILAN sesuai dengan identitas di KTP, yaitu MUSLIM.


Sejak saat itu, saat mulai hamil 5 bulan, saya mengecek isi tabungan saya lalu mulai gugling baju2 panjang dan kerudung panjang pula, belanja! Yes it is. Apalagi saat itu lagi booming gamis ala OKI, itu tuh Oki Setiana Dewi bintang film dan sinetron muda yang berkerudung panjang. Karena saya hampir tidak punya simpanan baju panjang untuk dipakai keluar atau ke kantor, makanya selagi saya masih punya tabungan, saya langsung belanja baju-baju itu. Motto saya saat itu, selama ini tabungan dibelin barang-barang gak berguna aja bisa, masa beli hal yang berguna masih pikir-pikir juga. Saya mulai pelan-pelan merubah penampilan dengan menggunakan baju terusan dan kerudung yang panjang, saya rasa saat itu adalah momen yang pas untuk bermetamorfosa.


Kalau dulu saya merasa bangga memakai baju sesuai dengan mode, tampil cantik dengan kerudung dimodel-model seperti hiasan, tapi tidak bisa saya pungkiri bahwa dalam hati saya masih belum merasa tenang apalagi merasa aman, saya merasa orang-orang masih tetap memandang saya tidak ada bedanya dengan wanita lain yang tidak berkerudung. Tapi kalau sekarang, saya bisa merasa sedikit tenang.

Selama memakai baju panjang seperti ini, saya selalu tersenyum sendiri melihat teman-teman yang masih tetap modis seperti belum berkerudung, dengan berbagai mode dan kerudung yang gaul, sampai-sampai mereka belain tidak menyempurnakan wudhunya saat akan sholat hanya karena takut kerudung gaul mereka rusak. Dan kadang saya dulu adalah bagian dari orang-orang yang tidak menyempurnakan wudhunya karena kerudung gaul.

Ohya, saya ingat banget saat Ust. Felix Siaw (satu-satunya ustad 'TIVI' yang saya suka banget dengan cara menyampaikan dakwahnya, gamblang, dan berani, mungkin karena do'i Chinesse yang biasa ceplas-ceplos kali yeee...) berkata : hanya wanita di Indonesia yang gemar sekali memakai mukena saat sholat, karena apa? Karena mereka sadar betul bahwa pakaian mereka tidak sesuai syariat atau tidak sesuai syarat beribadah menghadap Allah. Padahal jika para wanita ini memakai pakaian yang sesuai dengan syari'at, sudah cukup untuk sholat memakai pakaian itu saja, tanpa harus memakai mukena.

Hmm... bismillah Ya Allah, saya masih belum sempurna, tapi saya ingin berusaha menjadi sempurna demi masa depan saya sendiri di akhirat dan tentu saja demi Naell. Saya masih belajar memakai pakaian panjang dan khimarnya secara bertahap. Mudah-mudahan saya dan keluarga segera dapat masuk ke dalam Islam secara keseluruhan.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan(kaffah),”(QS. Al-Baqaroh[2] : 208)


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
; //]]>