HIKMAH...

Postingan berjudul 'Hikmah' ini bukan bermaksud pengen mereview judul sinetron lawas berjudul serupa yaaa, hehehe. Tapi lebih ke sesuatu nilai yang bisa saya petik dari setiap kejadian yang terjadi di hidup saya. Mungkin masih ingat kalau saya pernah membahas tentang hikmah sebelumnya, tapi itu dulu kejadian dari orang lain, dan kali ini saya langsung yang akan menceritakan hikmah yang saya alami selama saya menunggu untuk diberi kepercayaan berupa momongan.

Saya menikah tanggal 28 Februari 2010 bertepatan pada hari Ahad, dengan seorang laki-laki yang bertanggung jawab bernama Didik Indra Purnama yang umurnya lebih tua 6 bulan dari saya. Yuupp.. kami memang teman seangkatan selama masa kuliah, makanya jarak umur kami pun tidak berbeda jauh.


Saat saya menikah, jangan ditanya gimana keadaan ekonomi kami, saya yang lebih dulu bekerja sebagai pegawai honorer di instansi pendidikan memiliki gaji yang sudah jelas hanya cukup untuk saya buat hidup sendiri, sedangkan suami saya saat itu baru saja 4 bulan menjadi sebuah pegawai kontrak di perusahaan kontraktor pribadi dengan gaji yang.. yaahhh... namanya juga perusahaan pribadi ya, gajinya pun gak ikut standar kontraktor dengan grade di atas 7. Bahkan sering sekali suami saya lembur tanpa digaji, dan itu kadang memicu pertengkaran kami.

Sedangkan ibu saya, beliau menjadi tumpuan saudara-saudara nya untuk merawat Nenek dan adek bungsunya perempuan yang sudah beberapa tahun menderita penyakit jiwa 'berkala'. Bukannya saudara saya yang lain tidak mau merawat Embah dan Bulek saya ini, tapi memang si Embah dan Bulek paling cocok dirawat dengan Ibu, jadi bisa dibilang pikiran dan tenaga Ibu terkuras untuk menjaga mereka, sedangkan untuk biaya, semua nya masih ditumpu oleh saudara Ibu yang hidupnya lebih mapan, yaitu Pakde saya yang ada di Lampung dan Bulek saya yang di Madiun.

Bulek saya ini entah awalnya bagaimana, sejak saya SD kelas 5 dia dikirimi 'penyakit' oleh 2 orang yang tidak menyukai keluarga kami. Orang yang pertama adalah orang yang ingin membeli tanah Embah saya, tapi Embah saya tidak mengijinkan karena tanah itu memang masih akan digunakan untuk keperluan keluarganya. Orang ini mengirimkan 'sakit' tidak hanya ke Bulek, tapi juga ke saya dan saudara-saudara saya yang lain. Mungkin rencana dia adalah kalau satu keluarga besar sudah sakit, maka pasti tanah tersebut akan segera dijual padanya untuk memenuhi biaya berobat kami yang terkena imbas ini.

Sedangkan orang yang kedua adalah orang yang dulu sempat mengalami cinta bertepuk sebelah tangan berturut-turut dengan Bude saya, Ibu saya, lalu Bulek saya yang di Madiun. Entah mungkin sakit hati karena ditolak 3 kali oleh sesama saudara ini, makanya dia mengirimkan 'penghalang' untuk Jodoh bagi Bulek saya bungsu yang sudah lebih dulu dikirim 'penyakit' oleh orang pertama tadi.

Di sini bukan tentang dahsyatnya ilmu sihir yang akan saya bahas, tapi tentang kondisi rohani kami semua yang saat itu masih belum terlalu dekat dengan Tuhan. Kami masih menjadi orang Islam dan 'separo' orang Kejawen, sehingga masih tidak tahu bahwa Allah telah menulis semua obat bagi penderita sihir-sihir seperti tadi dalam Al Quran tanpa mendatangi orang yang disebut 'orang pintar' atau Dukun.

Alhamdulillah beberapa tahun terakhir kami sudah mulai ikut mengaji untuk membahas Al Quran dan Hadist, dan pelan-pelan mulai mengerti dan mempraktekkan dengan (insyaAllah) sungguh-sungguh apa yang telah kami pelajari. Dan itu pelan-pelan berdampak baik bagi kesehatan kami semua, dan kesehatan Bulek bungsu saya. Tapi sayangnya, di usia Embah yang sudah menginjak 70 tahun lebih, beliau mulai sakit-sakitan. Dan bulek saya sempat stress juga memikirkan kondisi Embah.

Lagi, Ibu saya seolah tidak berhenti mencurahkan segalanya untuk mereka berdua. Bahkan kadang waktu senggangnya hanya diisi ikut mengaji agar bisa menguatkan hatinya dalam menghadapi semua yang ia dapatkan saat itu. Dan, kembali Ibu saya diliputi dilema saat Embah sudah sakaratul maut di Jombang. Saya diminta Ibu untuk ikut menunggui Embah karena Ibu sendiri harus balik ke Surabaya untuk mengobatkan Bulek saya yang memang sudah waktunya kontrol.

Ibu sudah tahu bahwa waktunya Embah sudah dekat, betapapun ia ingin ikut mendampingi Embah saat ditariknya nyawa itu, tetap Ibu mengambil pilihan mengantarkan Bulek ke Surabaya untuk berobat. Karena di satu sisi Ibu khawatir Bulek akan 'kumat' karena telat berobat, apalagi Ibu juga khawatir tentang psikis si Bulek jika saat itu dia ada di sana dan melihat Embah meninggal.

Dan semua itu berlalu, Ibu sudah lulus untuk ujian merawat Embah karena Embah sudah kembali ke sisi Allah. Tinggal ujian selanjutnya yaitu merawat Bulek yang belum sembuh total dan sampai saat ini masih belum bertemu dengan jodohnya di usia yang sudah lebih dari 40 tahun itu.

Allah Maha Penyayang, Jodoh yang selama ini selalu pergi, selalu hilang, selalu dihianati itu, akhirnya muncul, iya untuk sang Bulek. Orang yang tidak pernah di sangka, karena jodohnya adalah saudara yang tinggal di seberang rumah Embah saya. Rupanya calon Om saya ini sudah lama menyukai Bulek saya, tapi karena saat itu Embah saya yang masih kejawen itu tidak mengijinkan si Om untuk mendekati Bulek karena dihitung-hitung masih saudara. Sampai akhirnya si Om menikah dengan orang lain saat itu dan menghasilkan 2 orang anak.

Setahun yang lalu, istri si Om meninggal karena terkena penyakit diabetes, dan cinta itu kembali tumbuh di hatinya saat melihat Bulek. Dia juga tahu keadaan Bulek yang kadang masih suka 'kumat' melamun jika waktunya berobat tidak dilakukan, dia menerima Bulek apa adanya seperti dulu, dan akhirnya Bulek pun menerima lamaran sang Om yang menikahinya 10 maret 2013 lalu.

Sementara Suami saya, seperti yang pernah saya singgung sedikit di postingan yang lalu. Bahwa dia telah diperluas riskinya dengan diterima kerja di Perusahaan Asing yang jelas memiliki sistem Organisasi perusahaan yang jelas dan dapat menilai kinerja dengan baik dari segi pendapatan maupun fasilitas pekerjaan. 

Dan setelah acara pernikahan Bulek saya, Ibu saya tiba-tiba mendekati saya dan bilang gini :

"Nduk, mungkin semua ini ada hikmahnya. Dimulai dari Ibu yang masih sibuk ngurusi Embah mu, lalu Bulekmu, Alhamdulillah Bulekmu sekarang pun sudah ada yang menjaga, sedangkan suamimu juga sudah bekerja di tempat yang lebih baik dan insyaALLAH akan berdampak baik buat ekonomi kalian. Mungkin siapa tahu kalau sebentar lagi Allah akan memberi kamu anak

Anak yang selama ini mungkin ditahan dulu olehNya karena menganggap bahwa Suamimu masih harus mendapat pekerjaan yang lebih layak, dan melihat bahwa Ibu juga tidak akan bisa fokus membantu merawat anakmu jika masih ada Embah atau Bulek. Semoga hikmah itu yang akan kamu dapatkan Nduk"

Dan.... sekarang, obrolan ringan saat itu saya rasa memiliki kekuatan Doa seorang Ibu yang amat sangat kuat. Terbukti, apa yang dikatakan beliau menjadi kenyataan. Allah Maha Tahu saat yang terbaik bagi saya untuk mendapatkan anak yang selama ini saya rindukan.

Dari hikmah yang dapat saya petik adalah :
  • Jodoh Bulek yang selama ini selalu gagal itu ternyata menunggu istri si Om meninggal dulu, jodoh itu juga baru datang saat Embah sudah meninggal, dimana Embah masih ada kemungkinan menolak Om karena masih sedikit kejawen dengan menimbang hubungan saudara mereka.
  • Anak yang selama ini kami tunggu benar-benar datang saat suami saya mendapatkan pekerjaan yang lebih kayak untuk menghidupi kami.
  • Anak yang selama ini kami tunggu dan kemungkinan akan kami titipkan di Ibu saya selama saya berangkat kerja sekarang sudah benar-benar ada di perut saya. Dan itu benar-benar menunggu Ibu saya free dari ujiannya terdahulu

Kami naik kelas setelah melewati ujian untuk masing-masing kami hadapi, bahkan di tengah-tengah ujian itu Allah masih sempat menghibur saya 2 tahun lalu dengan kehamilan saya yang meskipun pada akhirnya gugur. Dan kami harap di kelas kami yang baru ini akan ada hikmah yang lebih indah yang bisa kami jadikan pelajaran untuk hidup

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
; //]]>