SURPRISING WELCOME HOME....

Dulu saya pernah cerita kan kalau suami saya mungkin hanya akan OJT satu bulan di Tangerang. Dan Alhamdulillah itu benar, tanggal 22 februari lalu dia pulang.

Awalnya saya memang kepikiran untuk mengadakan penyambutan yang tidak biasa, atau mungkin sedikit shock terapy sebelum dia kembali, tapi saya tidak pernah terpikir akan se-spontan ini. Hal ini dipacu akibat gagalnya surprise b'day dia september lalu.

Walhasil 3 hari sebelum dia pulang, saya memutskan untuk benar-benar membuat supertrap. Awalnya saya sih  lagi sebel beneran sama dia gara-gara dari subuh saya BBM, SMS, dan nelpon tapi gak nyambung-nyambung, padahal saya mau nanya ini printer di rumah kenapa ngadat padahal urgent mau dipake adek untuk ngeprint tugas sekolah. Saya mengira kalau dia pasti tertidur tanpa tahu kalau batre ponselnya habis, atau bisa juga suami saya bangun kesiangan dan lupa menyalakan ponselnya. Dan memang dugaan saya di atas benar semua.

Dengan trik ngambek karena SMS, BBM atau telepon tidak dibalas, maka terinspirasilah skenario penjebakan itu. Awalnya saya ragu karena saya merasa alasan untuk MUARAAHHH hanya karena SMS, BBM atau telepon tidak dibalas itu rasanya terlalu lebay gitu, sehingga saya agak ragu kalau dia akan terpancing. Tapi gak apalah, yang penting saya usaha dulu buat dia panik karena membuat saya marah. Apalagi keinginan memberikan surprise sudah makin menjadi di H -3 saat itu.*aish.. jinjja..!! saya tahu saya terkena syndrom alay-jablay ala drama korea*

Akhirnya, trik saya berhasil.. saya akting marah dengan memberondongi dia dengan tuduhan-tuduhan yang sebenarnya memang lebay, seperti contoh : selingkuh lah, sudah gak sayang saya lah, atau alasan-alasan kekanakan apapun yang saat itu terlintas di benak saya, dan ternyata dia benar-benar panik saat tahu saya BENAR-BENAR marah. 

Sementara saya akting marah, dia mencoba segala macam cara untuk bisa menghubungi saya, dan pastinya saya cuekin dia dong. Apalagi ditambah saya juga menyiapkan "setting" sedang sakit. Settingan itu saya perkuat dengan konspirasi bersama tante saya *yang juga menambah kepanikan suami* dengan memberi kabar kalau saya sakit dan gak mau disuruh ke dokter. Panik dong pastinya, gak bisa dihubungi, sakit pula, marah pula, haiiisshhh... *mianhaeyo papa*. Huakakaka, saya bayangin lucu aja gitu mukanya si Papa.

Aslinya sih tadinya cuma sekedar 'setting' aja.. tapi kayaknya saya kualat deh sama suami, karena besoknya saat saya mau masak nasi di rice-cooker, air yang biasa saya didihkan agar nasi cepat matang tiba-tiba mengguyur punggung tangan kiri saya. Luka bakar yang belum terlihat saat itu hanya menunjukkan beberapa bagian kulit yang dipastikan bakalan melembung, karena sangat perih saat kena udara sekalipun, maka saya membalutnya dengan pantyliner herbal yang katanya promonya dapat menyembuhkan 'beberapa' penyakit kulit, lalu saya balut lagi pake perban.

Ohya, untuk mendukung aktivitas kemarahan saya yang lebay itu, saya juga menghapus kontak BBM suami loohhh, biar makin panik dia, dan dari si Vita saya dapat kabar kalau suami saya nulis status-status yang bernada puitis, healaahh tiwas nulis-nulis ternyata lha kok dia gak tahu kalau saya gak bisa membaca status BBM dia karena memang saya menghapus kontaknya.

Akting Sakit sudah, hapus kontak BBM juga sudah, sekarang saatnya membeli roti taart bertema 'welcome home, papa' yang akan saya berikan saat eksekusi surprise berlangsung. Padahal sampe H-12 jam saya nih masih mikir mau dibuat kronologis kejutan seperti apa saat dia pulang nanti, setelah membeli makan malam dulu di PHD barulah saya dapati ide yang lumayan cemerlang untuk menyambut kedatangannya nanti, apalagi adek-adek saya juga sudah siap berkonfrontasi dengan saya.

Untuk proses penyembuhan pasca shock terapy nantinya, saya kok tiba-tiba pengen memanjakan hidungnya dengan aroma bunga-bunga di kamar saya, maksudnya sih biar aroma kamar saya wangi dan berkesan romatis gitu, tapi masalahnya saya gak tahu beli bunga mawar utuh dimana di waktu yang mepet ini, dan akhirnya saya putuskan membeli bunga mawar *siap tabur yang biasa dipake di kuburan* untuk disembunyikan dulu di bawah selimut kamar saya. Hmmm... aromaterapi separuh mistis nih kayaknya, hehehe.

Cuaca buruk yang terjadi di Surabaya sekitar jam 6 sore sepertinya akan membuat kedatangan suami tertunda, dan benar, di Soetta pun dia harus terkena delay *ini kabar dari adik saya yang memantau suami dengan cara SMS*. Kabar buruk lain pun datang, tante saya yang bagian eksekusi dan om saya yang bagian dokumentasi mendadak gak bisa pulang ke rumah tepat waktu karena harus ke dokter dulu, dan parahnya dokternya antri boo'.. saya sendiri mulai panik saat adek saya yang cowok tak kunjung datang, kan gak lucu kalau udah akting marah sampe kaya gini, 3 hari gak sapa-sapa'an, tapi gagal total rencana penyambutannya.
Yummy dinner...

Akhirnya detik-detik kedatangan suami saya makin dekat, dan kedua adek saya sudah berkumpul. Saat mendengar suara taksi berhenti di rumah, kami yang tadinya berkumpul di ruang tengah asik melihat tivi mendadak langsung semburat panik sambil memasang akting mimik serius, saya sendiri langsung kabur ke kamar pura-pura males menyambut kedatangan suami saya. Sampai di kasur pun nafas saya masih tersengal-sengal akibat sisa kepanikan tadi, takut kalau akting saya tidak meyakinkan.

Dan sesuai rencana saya, begitu menginjakkan kaki di rumah, sedikit basa-basi dengan adek saya yang menambahi kalimat : "mbak wida di dalam, gak mau keluar", sukses membuat dia makin be-te. Bingo again! ruangan pertama yang dia masuki memang kamar kami, of course! mana lagi coba? Setelah menaruh barang, dia sempetin untuk keluar lagi cuci tangan dan kaki serta melepas baju yang dia pakai, lalu mendekati saya yang masih meringkuk di atas kasur sambil memainkan mimik yang 'MUARAAHH'.

Dia mendekati saya, mencoba membelai kepala saya, saya marah, lalu dia mulai memohon pada saya agar memaafkannya, menggenggam tangan saya yang saya tolak berkali-kali, lalu kembali saya berakting dengan mengeluarkan argumen-argumen yang bernada emosi. Sampai saya menangkap dia sudah mulai mau menangis putus asa karena spontan terlecut kalimat dari saya : "aku mau pulang ke orang tuaku", barulah saya SMS si adek-adek untuk bersiap berdiri di balik pintu kamar saya sambil membawa kue taart welcome home nya.

muka setengah bete yang dipaksakan senyum
Begitu adek saya mengetuk pintu kamar, suami saya berdiri dari kasur dan membuka pintunya, lalu tidak lama kemudian saya mengikutinya dari belakang, dan saat pintu dibuka. Alangkah kagetnya dia melihat adek membawa roti taart dan saya berteriak penuh kemenangan sambil memeluknya dari belakang dengan bareng-bareng mengatakan : KENAAA DEEHHHHH!!!! WELCOME HOME PAPAAAAAAA!!!!!!

Suami saya separuh shock, no no no.. shock berat kayaknya. Seandainya ada kamera yang merekam itu semua, kalian pasti ketawa ngakak saat melihat wajah putus asanya, yang ditambal dengan rasa malu, jengkel, dan entah apa lagi yang dia rasakan saat saya cengengesan dan menepuk dada saya sendiri atas kehebatan saya berakting.

Hmmm.... malam itu, saya bahagia karena berhasil buat kejutan buat kedatangannya, saya sudah bilang, ini sangat-sangat cheezy. Tapi gak papa deh, toh berhasil juga. For the last surprise, saat di kamar. Hidungnya mulai mencium bau yang gak biasa :

Suami : "Sayang, ini bau apa sih? kok kaya bau kuburan??"
Saya   : *melotot jengkel* " Enak aja!!! Ini bau bunga mawar tauk!! "
Saya   : *membuka selimut memperlihatkan taburan bunga mawar*
Suami : *ikut melotot tak percaya* " Ooohh.. kalau ini sih Papa juga suka Ma... "
Saya   : *tersipu malu*
Saya dan Suami selanjutnya : .......................................................

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
; //]]>