my journey to conceiving

Hmmm... apa ya.... saya bingung nih mau mulai dari mana..

Seperti judul postingan di atas, saya ingin mulai cerita tentang perjalanan saya 'lagi' untuk program kehamilan. Sebenernya kali ini belum mulai program sih, cuma baru 'akan' memulai dengan cerita singkat yang mengawali semangat saya untuk merintis dari awal lagi dalam program untuk memiliki anak.

Seperti yang pernah saya tulis di postingan sebelumnya bahwa saya bukannya tidak bisa hamil, tapi saya pernah hamil dengan usia kehamilan selama 3 minggu saja, belum jadi apa-apa, hanya setitik telur yang baru berjalan dari ovarium ke rahim, dan itupun sudah gugur. Dari situ seharusnya bisa membuat saya  semangat karena Allah dengan baik hatinya memberitahu saya bahwa dalam penantian saya, harusnya saya tidak perlu khawatir karena saya nyatanya bisa hamil, hanya saja saya harus berlatih ekstra sabar dan berusaha untuk penantian itu. Mungkin bersabar adalah hal yang bisa saya lakukan, tapi untuk 'berusaha', saya benar-benar agak kesulitan melakukannya.


Kalau umumnya orang lain akan kesulitan dalam bersabar dan diberi kemudahan dalam berusaha, maka saya adalah sebaliknya. Bersabar bagi saya masih bisa dilatih karena sabar tidak perlu interaksi dengan orang lain, kita sendirilah yang bisa memimpin kesabaran dalam kasus seperti saya. Tapi lain hal nya dengan 'berusaha' di kasus saya ini, selain minimnya bajet untuk mengikuti program anak ke level tinggi seperti bayi tabung, jangankan level tinggi, level rendah seperti pemeriksaan sperma dan kandungan, apalagi ikut inseminasi saja saya harus menabungnya dan menyisihkan 'sebagian' pendapatan kami untuk memenuhi bajet level rendah itu. Selain itu, tanggung jawab sebagai pegawai kantoran yang memiliki beban kerja tinggi baik saya dan suami menjadi salah satu penyebab juga. Kondisi badan kami 'istimewa' tidak seperti orang kebanyakan yang meskipun mempunyai beban kerja yang sama tingginya tapi masih memiliki kemampuan untuk hamil atau menghamili, tapi kami khusus, kami special, kami tidak seperti itu.

Pernah dokter yang sempat menangani saya dulu berkomentar, memang ada harga yang harus dibayar 'dengan kondisi khusus ini' untuk memiliki keturunan, salah satunya kondisi badan yang jauh dari stress, kecapekan dan sejenisnya. Selama saya bekerja, oh bukan, maksud saya selama saya masih berada di unit yang sama, saya rasa kata 'istirahat' dan kalimat 'jauh dari stress' hanya akan menjadi angan-angan semata, karena di unit saya yang sekarang kerjaannya bener-bener kerja rodi, apalagi saya memegang pelelangan gedung yang tiap tahun selalu ada pembangunan atau sekedar renovasi di area institusi saya, mengurusi mulai pelelangan untuk konsultansi perencanaan di awal tahun, konsultansi pengawasan dan pekerjaan konstruksi di tengah sampai akhir tahun. Lembur atau tidak berhenti 'bekerja' sehari full saya rasa adalah hal biasa, sampai-sampai badan yang spesial ini memaksa rehat dengan absen sakit statis tiap satu atau dua bulan sekali.

Dan untuk tahun depan, saya bener-bener pengen berusaha lebih untuk program kehamilan, tentunya didukung oleh kondisi 'tempat penampungan janin' yang juga harus sehat. Dengan cara apa? Saya mulai berfikir dan membicarakan untuk pindah ke Unit lain kepada teman-teman di kantor terlebih pada Ketua Unit saya, minta dipindahkan tepatnya. Unit atau Jurusan yang sekiranya beban kerjanya tidak terlalu tinggi, tidak menguras pikiran, atau bahkan kecapekan menumpuk di bawah alam sadar. Tentang kepindahan ke Unit lain ini sebenernya terjadi setelah perdebatan sengit dengan 2 cecunguk itu, hehehe. Cecunguk yang sangat dekat di hati saya, yang selalu bisa kasih masukan objektif dan cenderung ke arah positif, memakai berbagai cara persuasif agar saya bersedia menurut meskipun sebelum pelaksanaannya saya mengaduk pikiran yang dalam sekali. (Thanks to Vita dan Dona : my partner in crime) Onion Head emoticon

Suami saya sebagai Estimator tunggal di sebuah perusahaan Swasta juga mulai mencari tempat menggali nafkah yang lain yang lebih bisa menghargai kinerjanya meskipun beban kerja serupa, asalkan adanya 'lebihan' bisa menutupi program kami yang akan berlangsung ini, suami saya rela katanya pindah ke tempat lain.

ini serbuk kurma mudanya, 
gambarnya saya ambil dari blog tetangga
Teman kantor saya yang baru pulang dari Haji pun menghadiahi saya sesuatu yang istimewa, yaitu serbuk kurma muda untuk kesuburan pasangan yang ingin segera mempunyai keturunan, meskipun cuma sebotol, tapi insyaAllah hal itu sangat membantu sekali untuk mengawali program kehamilan saya. Mungkin selanjutnya saya akan berusaha rutin lagi dalam mengkonsumsi vitamin E dan Kurma.

Mulai saat ini, saya mungkin akan menambah satu kategori lagi di Blog ini, yaitu 'journey to conceiving'. Buat teman-teman yang membaca ini, sekiranya minta doa juga agar saya bisa segera mewujudkan keinginan saya dan suami dalam memiliki seorang buah hati. Ingatkan juga saya kalau dalam tulisan saya ini mulai terlihat hal-hal yang menandakan keputusasaan.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
; //]]>