Teman.. Cingu.. Friend..

Selamat berbuka saudara-saudara..

loh loh loh.. kok berbuka?? maksud saya, selamat berbuka-buka blog saya kembali, hehehe #ignore it! saya tau ini maksa banget joke nya!#.
Mumpung saya lagi dirundung antusiasme untuk menulis, dan sebelum kemalasan berabad kembali memasuki otak saya, maka saya putuskan untuk lagi-lagi buka blog ini.


Sama seperti blog yang saya miliki ini, awalnya saya membuka blog ini, jujur pengen punya teman baru, fans baru, atau sekedar menjadi terkenal seperti Raditya Dika (hidup famous!!!!), dengan cara tukar link atau ada follower yang setia tersesat di blog saya. Tapi ternyata selama lebih dari setahun pun, follower blog saya tidak bertambah. #kriikk kriikk kriikk.. serasa di kuburan#.

Dan hebatnya lagi itu tidak membuat saya berhenti untuk tetep curcol di diary elektronik saya ini. Karena dibanding banyak teman di dunia ini, blog saya tetap jadi temen paling setia dan gak pernah bosen mendengarkan cerita saya yang kebanyakan berisi hal-hal nyebelin dari diri saya sendiri, hehehe.

Cuma ya gitu, seperti yang kita tahu, dengan seonggok blog tak berdosa ini kita hanya bisa cerita, cerita, dan cerita tanpa tahu titik balik, atau saran, atau argumen, atau opini yang bisa menasehati tulisan kita sendiri, mungkin kalo ada yang berkomentar akan lain lagi ceritanya nasib blog ini, dan hal itu harus kita kembalikan lagi ke suara jangkrik di kuburan, kriik kriik., sepiiiii sendiriiii... . Akhirnya, karena sepinya blog ini, barulah saya nobatkan dan saya putuskan bulat-bulat bahwa teman 'makhluk hidup' masih menjadi teman terbaik yang bisa kita miliki. -_-" dibanding dengan teman bisu semacam blog saya. Ini apa sih mau nya, gak konsisten sama paragraf sebelumnya. Gak penting lagi.

Sudahlah, gak usah dibahas intro di atas. Sekarang saya lagi pengen cerita tentang teman nih. Ada banyak definisi dari sebuah kata 'TEMAN'. Menurut kamus bahasa Indonesia yang telah saya baca (gak tau lagi kalau ada kamus lain ya, hehehe), teman itu artinya kawan, sahabat, lawan bicara, bisa diajak berinteraksi dll. Cuma di sini yang saya kurang setuju adalah definisi teman dan sahabat yang menurut saya memiliki perbedaan pengertian tapi disamakan dengan arti harfiah di dalam KAMUS.

Dulu, jaman SD. Teman menurut saya adalah orang yang berlomba-lomba untuk dekat dengan saya, siapa sih yang tidak mau dekat dengan langganan rangking 1 di sekolah, paling tinggi, paling bersih, paling putih. Sebut saja saya sombong waktu itu, karena saya selalu jadi OBJEK yang DIPEREBUTKAN untuk menjadi teman. Tungguu.. tungguuu.. jangan keburu dilempari kolor ya saya, itu bukan karena saya punya aura kasih.. ehh salah.. aura susuk horor maksud saya, tapi semata-mata karena saya sekolah di SD Impress yang kebanyakan anak-anaknya berasal dari keluarga gak mampu baik dari segi fisik yang kebanyakan tidak 'bersih' seperti saya, finansial, maupun porsi 'kepandaian' yang jauuuhhh di bawah saya -_-", dan mereka saat itu menganggap kehadiara saya sebagai sosok yang bisa dikagumi (halah). 

Naik ke jaman SMP, saya mengartikan arti teman sudah berbeda lagi. Menurut saya, teman saat itu artinya adalah yang bisa diajak becanda bareng, ngumpul 'begejekan' bareng, sok-sok an bareng, iseng-iseng bareng ala ababil, dan yang bisa kasih tumpangan saat pulang dari kegiatan tae kwon do. Di situ saya baru menyadari bahwa saya bukan primadona tunggal lagi seperti di jaman SD dulu. Saya harus pintar-pintar bersikap agar saya tidak dijauhi. Dijaman itu saya mulai apatis terhadap teman berbentuk 'cewek'. Maklum sangat sulit berteman sama makhluk seperti itu, gampang marah, gak bisa mengimbangi keisengan saya, maen gosip di belakang ekor saya, dan bla bla bla. Maka pada saat itu, teman buat saya yang paling nyaman adalah cowok-cowok teman tae kwon do saya.

Merangkak naik lagi ke jaman SMA. Mendadak rasa kesetiakawanan saya menjadi tinggi, terbukti saya memiliki sebuah Gank karena ikut-ikutan sama si karakter Cinta dalam film AADC (ini nih kiblator alias awal mula gank-gank'an di sinetron indonesia yang ada sekarang). Gank saya bener-bener gank! Karena tidak hanya berisi 4 atau 5 cewek. Tapi 11 (SEBELAS) cewek! What the... Yupp! 11 cewek pemirsa. Dan kami menamakan diri kami 911. Betapa bangga nya kami saat itu, karena kami terkenal di seantero sekolah, gak tau ini perasaan kami saja atau memang kita terkenal ya, hehehe. Kami melihat keterkenalan kami adalah dari banyaknya kalimat ttg 911 di kamar mandi sekolah, tentu saja kalimat yang ditulis di sana adalah sebuah ejekan, wekekeke. Waktu itu kemana-mana barengan, grudukan, harus kompak, harus jujur satu sama lain, kalo punya musuh harus dihadepi rame-rame.

Menginjak bangku kuliah, saya sebenarnya baru menyadari bahwa definisi saya tentang teman di SMA masih sangat childish! Kenapa saya katakan childish?! Karena saya berasa pintar kalau memakai kata dalam bahasa inggris. #GUBRAAKK!!#, hehehe.. enggak kok, saya memang masih terlalu kekanakan dalam menggali arti teman itu sendiri di jaman SMA itu. Sadarnya gimana? ya saya mulai mengerti bahwa saya sendiri ternyata tidak nyaman selama berteman dengan beberapa oknum di dalamnya, mungkin lebih halusnya adalah, saya kurang bisa menerima mereka dari segi sifat, gaya hidup dan lainnya. Saya merasa tidak terlalu cocok berteman dengan mereka tapi saya terpaksa tetap terpaku di dalam pergaulan bersama mereka hanya karena nama besar 911 sudah terlanjur berkibar. Ujung-ujungnya sudah bisa ditebak bahwa memang ada banyak konflik dalam per-gank-an kami, sampai akhirnya 911 hanya tinggallah sebuah nama, tapi hakikatnya kami sudah tidak lagi sejalan seperti dulu. Lebih tepatnya, kami hanya kumpulan teman NGUMPUL, tidak lebih.

Di bangku kuliah juga saya merasa seperti terlahir menjadi makhluk baru yang bisa mengartikan apa arti teman secara lebih luas lagi. Selain teman adalah teman nongkrong, teman gila-gilaan, teman juga bisa dibuat untuk saling berbagi. Dan sayangnya saya dihadapkan ke permasalahan yang sama sekali lagi, entah bagaimana awalnya, saya ikut diseret ke dalam gank jaman kuliah (again!), awalnya saya sih asik-asik aja bersama dengan mereka, karena mereka memang teman yang asik buat jalan-jalan. Tapi tetap saja saya masih tidak bisa sepenuhnya mencurahkan apa yang ada dalam hati saya pada teman yang menamakan diri mereka sahabat bagi saya itu. Apalagi lagi-lagi karena beberapa oknum juga sering ribut dengan saya, hal itu tidak lebih karena saya benar-benar tidak mau hanya bergaul dengan mereka saja, saya tidak ingin dikotak-kotakkan seperti dulu, saya ingin berteman dengan semuanya, tapi sayangnya oknum di dalam gank saya satu ini tidak mengerti dan selalu mengintimidasi saya.

Lepas dari semua itu, beberapa tahun belakangan ini saya disadarkan oleh beberapa teman yang sudah saya anggap seperti sahabat saya sendiri, hal itu tentang sebuah ungakapan sederhana yaitu : teman itu bukan berarti sahabat. Telat memang saya menyadari makna kata-kata itu. Teman hanya batasan interaksi yang usual kita lakukan sehari-hari, tapi jika sahabat, itu lebih dari anggapan hati kepada lawan bicara kita yang bisa mengerti kita dengan baik, bukan hanya sekedar kuantitas, tapi kualitas. Kalau kita menganggap orang lain sebagai sahabat kita, maka itu adalah masalah hati kita, dan kita tetap tidak berhak 'memaksa' orang lain itu untuk menganggap kita sebagai sahabat mereka juga. Karena apa, kembali ke masalah hati pemirsa, kita bisa cocok dengan orang itu, tapi bukan berarti orang itu cocok dengan kita. Itu definisi yang berbeda dari saya tentang sahabat.

Have a nice friday...!!!! Ending ngambang gak pa pa deh, yang penting nulis. hihihihi.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
; //]]>