perhaps that dream could be true...

Ini cerita sudah 2 minggu lalu sih, cuma saya kelupaan mau cerita di sini. Mendadak saya sempatin untuk menulisnya karena kemarin malam saya mimpi indah. Tapi yang namanya mimpi seindah apapun kalau kita sudah terbangun dan tahu bahwa itu semua tidak sesuai kenyataan, itu pasti bisa menyebabkan rasa kesel yang keren luar biasa. Hmm.. saya bangeeetttt...

Mungkin ini semua akibat saya terlalu kepikiran tentang kehamilan. Saya ingin segera merasakannya dan itu menjadikan hari-hari saya makin gelisah, apalagi saat saya iseng-iseng baca status facebook seorang teman lama saya yang menikah tidak lama setelah saya, 4 bulan lalu berhasil hamil. Saya mungkin ikut senang dengan kehamilannya, tapi selanjutnya saya kembali mengkhawatirkan diri saya sendiri, " Duhh.. si W, si T, si A udah hamil, trus saya kapan?? ".


Pertanyaan sederhana itu yang selalu mengisi otak saya, saya bosan sendiri sebenernya, cuma mau gimana lagi? Menghapus pertanyaan sial itu bukan pekara gampang. Saat sholat saya selalu mengadu pada sang Pembuat Hidup, bahwa saya iri dan ingin seperti mereka, saya juga tidak sabar menunggu Nya mengabulkan seluruh doa-doa saya. Dan di akhir doa itu, hanya sebuah jawaban singkat yang selalu saya tangkap. " Sabar Wida". Kalimat singkat tapi bermakna luas.

Malam itu akibat baca status dari teman yang hamil itu, saya mimpi bahwa saya terbangun di pagi hari dengan rasa mual luar biasa, saya sampai bingung kenapa saya bisa semual ini, kepala pun pusing, badan lemas. Suami saya membawa saya ke dokter, dan si dokter bilang : " Selamat bu, usia kandungan ibu sudah 2 bulan ".

'Makdeg!' Saya speechless. Saya hampir tidak percaya dokter bilang begitu, wajah suami saya pun sumringah, kami seharian menikmati sebaris kalimat dokter yang melambungkan kami. Kami akan punya anak. Tapi sedetik kemudian, saya terbangun dan tidak merasakan apa-apa, rasa mual atau pusing. Just another dream, and at that time, that's really hurt me.

Kita kembali ke cerita 2 minggu lalu. Saat itu saya dan suami akan pergi rafting dengan beberapa teman kantor saya. Kami berkumpul di rumah mertua si Em sambil nunggu yang lain datang. Tiba-tiba para cowok diributkan dengan datangnya seekor burung cendet yang tiba-tiba menclok di pohon depan rumah si Em. Yang lain pada diam saja, dan cuma suami saya yang mendadak balik lagi seperti anak kecil dengan mengejar burung itu lalu menangkapnya. Hap!! Dia berhasil. Saya heran, cowok-cowok yang lain kan ngerti juga tentang per-burungan kok gak ada yang mau nangkap tuh burung, padahal kalau dijual katanya si cendet ini bisa sampai 300 ribu. Lumayan kan? Si burung yang telah ditangkap terpaksa dititipkan di rumah si Em karena kami harus berangkat menuju Probolinggo untuk rafting, setelah balik dari rafting baru suami saya akan mengambilnya lagi untuk dibawa pulang.

Suami saya cuma pengen nangkap trus dijual sama teman di kantornya yang memang mayoritas pecinta burung, tapi mendadak malam itu saat kami dalam perjalan pulang dari rumah mertua si Em, dia mengubah pikirannya. Belum sampai rumah, pak Suami sudah langsung belok ke pasar burung di daerah belakang terminal Bratang untuk membeli pakan burung dan kandangnya. Hmmm.. niat banget nih orang, dan sesuai prediksi saya, suami saya pasti sayang untuk menjualnya lalu memutuskan untuk memelihara si cendet yang kini dikasih nama Kiko.

Beberapa hari kemudian, si Em cerita tentang obrolannya dengan sang mertua yang kemaren dititipi si Kiko saat kami rafting. Bapak mertuanya tanya, apakorang yang nangkap tuh burung belum punya anak? Si Em kaget dong! Kok bapak mertuanya bisa tahu ya kalau suami saya memang belum punya anak. Ternyata menurut cerita orang-orang tua jaman dulu, kalau ada burung lepas dan diantara seseorang lelaki ada yang menangkapnya, itu menandakan lelaki itu akan segera diberi anak. 

Itu mungkin sedikit mengobati rasa heran saya kenapa dari sekian banyak cowok-cowok di situ hanya suami saya yang gencar banget nangkap tuh burung. Tapi tunggu. Di sini saya tidak bermaksud syirik ya! tolong di bold dan digaris bawahi. Suami saya menangkap itu burung gak punya niat apapun, dan gak tau apapun yang dipikirkan orang-orang tua jaman dulu. Kecuali kalau saya tahu tentang mitos itu lalu saya berusaha mati-matian menangkap burung itu demi mewujudkan impian saya untuk punya baby, maka itu jelas syirik dan itu salah! Tapi ini kondisinya saya gak tahu sama sekali, suami saya juga.

Dari cerita si Em itu, saya seneng banget. Mungkin tidak bisa dipercaya 100%, tapi paling tidak itu memberi harapan baru kepada saya bahwa mitos itu mungkin bisa jadi benar, saya kembali menghidupkan pemikiran positif ke arah conceiving, lalu bulan depan bersiap pelan-pelan memulai programnya lagi. Semua itu, mitos itu, saya anggap sebuah do'a dan penyemangat bagi kami.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
; //]]>