Inspiring me..



Kapan hari saya mampir ke sebuah blog yang menurut saya sangat Inspiring. Dari judul blog nya saja sudah membuat saya tertarik, MY JOURNEY TO CONCEIVING.. Memang itu hanya sekedar blog pribadi berisi pengalaman seorang wanita dalam berusaha dan menantikan seorang jabang bayi, tapi begitu saya membaca cerita-ceritanya sampai akhir, saya menemukan tulisan terakhir dari postingannya bener-benar membuat saya merasa bahwa saya tidak boleh berputus asa.


Usia pernikahan saya tahun ini adalah 2,5 tahun (saya menikah 28 februari 2010). Usia dimana kematangan pernikahan harus mulai ditingkatkan, usia pernikahan dimana segalanya terasa lempeng-lempeng saja, usia pernikahan di mana rasa pacaran sudah mulai terlupakan dan tergantikan oleh rasa takut akan masa tua yang entah akan dihadapi bersama atau tidak. Di usia pernikahan kami ini, kami masih belum diijinkan untuk menerima pelengkap dalam keluarga yaitu seorang ANAK.

Kalau boleh menceritakan sedikit keluhan saya, tahun pertama pernikahan saat Hari Raya Idul Fitri tiba dan saya harus ikut pulang ke kampung halaman suami saya, saat itu adalah saat paling horor dalam hidup saya. Banyak yang selalu bertanya kepada saya : " Udah isi belum? ".. atau " Kok belum isi ya? "... atau " Emang sengaja ditunda ya?". Pertanyaan itu mungkin bagi orang lain hanya sekedar pertanyaan basa-basi, tapi tidak bagi saya. Pertanyaan itu seolah menjadi pertanyaan 'akhirat' yang harus segera saya pertanggung-jawabkan.

Di Tahun awal pernikahan, mungkin pertanyaan itu masih terdengar belum terlalu mengerikan, tapi begitu menginjak tahun berikutnya, pertanyaan itu jelas-jelas membuat saya tidak bisa lagi tersenyum seperti dulu dalam menanggapinya. Apalagi ada salah satu family yang mengeluarkan kalimat yang menurut saya menjengkelkan... "Kok gak hamil-hamil sih mbak, mbak pipit sama mas farid (kedua anaknya) aja begitu setelah nikah langsung hamil..". Sungguh kata-kata itu bukan saja menyinggung saya.. tapi juga membuat saya marah pada suami, kenapa dia tidak membela istrinya sama sekali saat itu? Dia hanya terdiam dengan muka masam pada famili nya itu, dan hal tersebut mengakibatkan kemarahan saya berujung pada tangisan. Sungguh saya tidak habis pikir, sejak kapan hamil adalah kompetisi tentang pernikahan?

Ibu saya sendiri sering mengatakan, bahwa pertanyaan seperti itu harusnya pertanyaan wajar, yang setiap orang pasti tanyakan untuk pengantin baru, atau pasangan yang 'terlihat' belum menggandeng seorang balita lucu. Tapi entah mengapa hal-hal yang dianggap orang lain wajar itu sangat mengganggu saya. Kadang saya bertanya dalam hati, apakah suami saya juga merasakan hal yang sama seperti itu? Atau hanya saya yang memang kelewat sensitif?

Sebenarnya bukannya saya tidak bisa hamil, saya juga pernah hamil di tahun kedua pernikahan saya, hanya saja hanya bertahan selama di usia 3 minggu.. karena dokter mensuspect saya dua kemungkinan, yaitu kista dan hamil di luar kandungan. Wallahu'Alam yang mana menurut dokter saya tidak terlalu peduli, karena perasaan saya saat itu campur aduk. Antara senang karena Allah membuktikan saya bisa hamil, dan sedih karena Allah secepat itu mengambilnya dari saya sebelum saya dapat melihatnya.

Mungkin selanjutnya saya juga akan sedikit berbagi dengan memposting tulisan tentang perjalanan saya dalam berusaha memenuhi impian saya untuk memiliki anak, dan semoga saja kejadian BLOG INSPIRING saya di atas juga bisa tertular pada saya suatu hari nanti dalam ujung penantian saya pada pernikahan ini.





Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
; //]]>