Ketika aku tak muda lagi

Suatu hari saya melihat gambar milik teman yang diedarkan lewat BBM, gambar seorang nenek tua (setelah dipikir-pikir ya jelas lah nenek itu 'tua', hehehe) yang jadi guyonan teman-teman, mereka saling mengejek : " Cuy, ini gambar pacarmu besok kalau tua, jadi nikmatin masa mudanya sebelum alot ". Hmm.. percaya atau tidak, teman-teman yang lain pada guyon membahas itu tapi saya sama sekali tidak ingin menanggapi candaan mereka, saya malah terdiam dan mencoba memahami pose kaku seorang nenek dengan raut wajah yang susah ditebak karena mungkin ekspresi wajahnya telah tertutup oleh keriput sana-sini sehingga sulit menemukan ekspresi yang sedang dirasakannya.



Sejak melihat gambar itu, entah mengapa saat saya menghadap ke kaca saya selalu tersenyum melihat diri saya sendiri. Saat ini saya yang baru genap berusia 25 tahun  ini, dengan wajah yang orang bilang SENSUAL (don't try to show me how absurd your face right here, okay!), badan juga proporsional, dan insyaAllah sehat jasmani (dan rohani tentunya, no! yah, saya belum gila!). Saya yang bisa dibilang masih tergolong muda ini juga memiliki karir kerja yang yaaaahh.. lumayan lah daripada pengangguran, daripada yang kerja serabutan, saya yang tergolong manis ini juga memiliki suami yang sabar, halus dan lembut seperti semen yang belum tercampur air (excusme?! cement right?!). Saya yang masih seperempat abad ini lambat laun akan beranjak ke umur yang sama seperti sang nenek (itupun kalau umur saya nyampe segitu), lalu saya berfikir sejak saat itu, apa hal berguna yang sudah saya lakukan untuk hidup saya sendiri atau untuk hidup orang lain, lalu apa yang akan saya lakukan untuk menjamin masa depan saya kelak, masa depan di dunia dan di akherat, atau mungkin masa tua saya di mana saya seharusnya menikmati sisa hidup yang sudah ada dengan banyak berdzikir dan bertahmid mensyukuri nikmat yang telah saya dapatkan.

Saya juga tiba-tiba mengingat nasib-nasib nenek-kakek tua yang pernah saya temui bernasib kurang baik, jauh kurang baik mengingat yang saya bayangkan tentang masa tua saya adalah masa yang indah-indah saja, dimana ada saya dan suami yang duduk di depan rumah sambil bercerita atau menunggu anak dan cucu untuk berkunjung, terkadang menyalurkan kegiatan dengan berkebun, atau bahkan hanya sekedar untuk melihat televisi sambil mengelus kucing-kucing peliharaan kita. Yah, itu hanya gambaran singkat mengenai masa tua saya bersama suami, dimana saya dan suami tidak lagi memiliki tubuh yang menawan atau bugar seperti saat masih muda, di mana suami dan saya tersenyum melihat potret masa lalu kami yang sudah tertinggal jauh, dimana senyum itu tersungging pada masing-masing keriput di wajah kami.

Tapi saya kadang dibenturkan kenyataan dengan nenek-kakek yang tidak seberuntung imajinasi saya tadi. Saya pernah menemui seorang nenek tua bertongkat kayu yang usianya menginjak 96 tahun di Jombang, kota kelahiran ibu saya. Nenek itu merasa kesepian karena dia sudah menjadi janda di usia yang masih tergolong muda dan tidak menikah lagi, anak-anaknya pun berada jauh dan jarang bisa pulang karena terkendala biaya, dia tinggal di gubuk reot yang lebarnya hanya seukuran kamar mandi saja, hanya ada 1 kasur kapuk yang sudah keras, meja yang juga sudah reot, serta kursi yang jarang diduduki karena sang nenek tidak tahu kursi itu ada, iya.. sang nenek memang buta. Suatu hari dia mengeluh pada ibu saya saat kami sekeluarga berkunjung di hari raya : "Nduk, nenek kok gak mati-mati ya? badan nenek sudah capek semua, nenek capek sendirian, nenek juga capek hidup gelap terus.. ". Segitu putus asakah sang nenek ini sampai mengharapkan malaikat maut menjemputnya lebih cepat, padahal jika dipikir lagi, apakah dia sudah siap menjawab pertanyaan malaikat di kubur sana dan apakah dia sudah cukup punya amal untuk menemani tidur panjangnya di kamar yang lebih gelap, sempit, dan hampa udara.

Ada juga nenek-nenek di panti jompo yang pernah diceritakan teman saya, bahwa saking kesepiannya, sang nenek suka sekali mengoleksi barang-barang yang mungkin bagi kita itu harusnya dibuang tapi malah dikumpulin, dengan sepolos anak kecil dia berceloteh bahwa barang itu mengingatkannya akan keluarganya yang sudah lebih dari 5 tahun tidak menemuinya. Bagaimana dengan yang ini, kemana sang anak sesungguhnya hingga menjenguk ibu nya pun dia tak sempat, tak bisa, atau tak mampu. Apakah sang anak malu karena tak bisa merawat sang ibu sehingga memilih jalan akhir menitipkannya di sini, atau mungkin sang anak pergi ke luar negeri untuk jadi TKI dan tidak ada kesempatan pulang, ataukah sang anak merasa dendam kepada sang ibu karena mungkin dulu memperlakukannya dengan buruk dan di masa tuanya selalu merepotkan. Entahlah, sang ibu pun juga tidak tahu mengapa dia berada di panti jompo ini.

Nenek berikutnya yang saya temui adalah nenek-nenek yang sering terlihat tidur di bangku panjang sebuah terminal di daerah Bratang, saya pernah melihatnya bangun dengan kondisi terkaget-kaget karena ada kendaraan lewat yang mengklakson keras, membuatnya terbangun dari tidur lalu terbatuk-batuk karena mungkin badannya memang sakit-sakitan. Yang ini membuat hati saya sedikit teriris, kemana sang anak? apakah dia tidak punya anak sama sekali? Ataukah anak-anaknya pergi meninggalkannya? Ataukan dia terpisah dari anak-anaknya dan membuatnya menjadi nenek-nenek gelandangan yang membuat orang miris jika melihatnya. Lalu bagaimana dia bisa bertahan hidup hingga serenta itu? Lalu apa yang dilakukan pada masa mudanya dulu hingga dia menjadi seperti ini? Tidak punya rumah dan hanya tidur di kursi pinggir jalan sebuah terminal dan selalu terkaget-kaget saat di klakson, dan bahkan mungkin repot menghangatkan badan saat yang lain enak-enaknya berbaring di ranjang empuk yang hangat, atau kepanasan saat yang lain berlindung di balik gedung ber AC.

Nenek berikutnya adalah nenek dengan badan mungil yang sudah bungkuk dan sangat hebat menurut saya, dia selalu saya temui tiap pagi berjualan koran di lampu merah, meskipun tubuh rentanya menurut banyak ahli genetika sangat tidak memungkinkan untuk bekerja lagi, tapi nyatanya dia masih bisa berjualan koran dengan lincahnya dan menawarkan koran tak kalah semangat dari penjual koran lain yang usianya jauh lebih muda darinya. Semangatnya untuk bekerja membuat saya iba tapi juga bangga, dia benar-benar memilih untuk bekerja keras daripada hanya menadahkan tangan sambil membawa gelas plastik kosong untuk memohon belas kasihan orang-orang, seperti yang dilakukan pengemis-pengemis muda berbakat saat ini.

Berikutnya adalah seorang kakek pengangkut sampah di komplek rumah ibu saya, dia adalah sosok yang mengagumkan juga menurut saya, meskipun anak-anaknya sudah berkeluarga dan mungkin bisa menanggung hidupnya, tapi dia tidak mau berhenti menjadi pengangkut sampah di komplek rumah ibu, selain tidak mau merepotkan sang anak, dia juga berpendapat bahwa pekerjaan ini dulu adalah pekerjaan yang bisa menjadikan anak-anaknya tidak hidup susah, dia juga beranggapan bahwa mengangkut sampah bisa menuai banyak pahala, dengan langkah yang berat tiap hari yang ia rasakan saat mendorong gerobak sampah, itu selalu mengingatkannya akan hidupnya yang pernah sangat berat, dan dia hanya mau bersyukur untuk itu.

Lalu kakek satu ini hampir sama dengan nenek yang pertama kali saya ceritakan tadi, dia hidup sendirian dan jauh dari sang anak, hanya saja cerita sang kakek ini sangat... entahlah, saya hanya bisa mengela nafas berat saat mengingat cara apa yang dia pakai untuk mengakhiri masa tuanya, yeah.. dia putus asa dan akhirnya memutuskan untuk gantung diri dengan alasan dia tak mau merepoti siapapun.

Dari cerita nenek dan kakek di atas, saya atau mungkin kamu juga akan berfikir "oh iya ya.. ntar kita pasti akan tua". Lalu apakah kalian semua tahu bagaimana kita akan menghabiskan masa tua kita, apakah kita akan berhasil mendidik anak-anak kita untuk mau berbakti pada kita, apakah kita akan bisa menyiapkan masa depan yang baik untuk anak cucu kita, apakah kita akan bisa menjadi sesuatu yang dihormati oleh orang-orang di sekitar kita? Entahlah, mungkin hanya waktu esok dan usaha kita sekarang yang bisa menjawabnya.

Saya tidak punya point apapun dalam tulisan ini, saya hanya ingin mencoba meraba masa depan saya sendiri apakah akan sama seperti yang saya imajinasikan, atau menjadi salah satu nenek atau kakek di atas. Yang jelas, tidak ada orang yang menginginkan hidup serba mengenaskan di dunia ini dan saya satu diantaranya. Nenek beken di BBM itu mengingatkan saya untuk tidak sombong di masa muda saya, karena semua pasti akan lewat masanya, semua yang kita lakukan akan bisa dilihat pada masa tua nanti, semua perbuatan, amal dan ibadah akan dapat dilihat saat kita berada pada tidur panjang kita. Lalu apakah kita sudah siap menghadiri ruangan pribadi yang bernama TAK MUDA LAGI? Who knows? no one know..

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
; //]]>