Review Untuk Pilem Bioskop

Saya menulis ini bukan sekedar menulis, tapi lebih kepada keprihatinan saya terhadap tayangan-tayangan bioskop yang ada adegan ++plus-plus++ nya. Segimanapun sudah dilalui tahap sensor oleh lembaga perfileman Indonesia, tapi yang namanya adegan ranjang, adegan ciuman dengan tangan bergentayangan di beberapa bagian tubuh pada beberapa film tidak dapat mutlak dihilangkan. Okelah itu memang bagian dari suatu cerita dalam film itu, yang mau saya soroti di sini bukan bagaimana seharusnya adegan 'suangaaatt romantis' itu harusnya dipotong atau tidak, tapi adalah dari segi penonton. yah penonton, saya yakin pada bingung baca tulisan saya.


Oke, dimulai dari beberapa waktu lalu saya menikmati lagi yang namanya nonton di bioskop bersama suami tercinta (setelah sekian abad saya hampir lupa untuk menyambangi yang namanya bioskop saking 'sok' sibuknya), film yang saya tonton setelah saya vakum adalah filmnya Rowan Atkinson yang judulnya Johny English Reborn, di situ saya bisa pastikan bahwa meskipun filmnya action campur comedy, tapi adegan kemesraan tetap menjadi bumbu terutama saat Rowan berada di jacuzzi dengan cewek setengah bugil, oke itu adegan biasa aja sebenarnya, tapi saya terganggu sama seseorang yang membawa serta anaknya yang berumur sekitar 7 tahunan di seberang sana yang tidak berkedip sama sekali sampai adegan itu beralih. Itu kejadian pertama.

Lalu lanjut lagi pada film berikutnya yang saya tonton, saya ingat waktu itu saya nonton film yang dibintangi Taylor Lautner (mengingat dan menimbang bahwa saya memang nge fans banget sama ni bocah) judulnya ABDUCTION, filmnya genre nya action ringan lah dengan beberapa bintang ABG yang emang lagi beken di negerinya sono, dan di dalamnya terdapat adegan kissing di kereta api yang lumayan HOT dan cukup lama, yang membuat saya sedikit risih adalah saat melihat bahwa di depan saya persis seorang bapak dan ibu sedang berusaha menutupi mata anak lelakinya yang melumat mentah-mentah adegan di depannya itu. Itu kejadian kedua.

Terakhir itu kemaren saya nonton Twiligt saga 'Breaking Dawn' yang ada Taylor Lautner nya juga dimana pada seri pertama film terakhir ini digambarkan Bella dan Edward sedang menikmati bulan madu mereka di sebuah pulau, jelas-jelas banyak sekali adegan bugil tampak belakang dan samping dan beberapa yang menggambarkan adegan ranjang yang memang tidak terlalu vulgar menurut saya, tapi lagi-lagi pemandangan di depan saya membuat saya deg-deg serr, di mana seorang ibu mengajak serta anaknya yang masih berumur kira-kira tiga tahunan ikut menikmati mentah-mentah adegan itu. Itu kejadian ketiga sekaligus terakhir.

Dan bisa ditebak kan apa yang mau saya bahas? Yuppp... lembaga sensor saya rasa tidak akan berguna jika para orang tua itu malah mengikutsertakan anak-anak mereka yang belum bisa memilih mana yang bisa ditelan bulat-bulat dan mana yang harus disaring saat melihat tayangan di televisi atau malah tayangan 'khusus' seperti di bioskop itu. Saya heran gitu, apa sebenarnya yang ada dalam pikiran para orang tua itu saat mengajak anak-anak mereka menonton film yang harusnya masuk kategori +17, alasan tidak tahu bahwa akan ada adegan seperti itu dalam film saya rasa bukan alasan yang cerdas. Apa kabar sama mbak-mbak bagian penjual tiket. Bisa sebenarnya kan, untuk sekedar bertanya apakah di dalam ada adegan yang layak ditonton untuk anak-anak???? Kalau orang tuanya gak nanya, berarti sudah jelas bisa ditebak kecerdasan tingkat berapa yang dipunyai orang tua itu >:#

Seandainya ada bapak/Ibu pengelola ke-bioskop-an di Indonesia ini yang membaca coret-coret saya , saya mohon dengan sangat untuk menambahkan kebijakan baru dengan membatasi umur pada tayangan atau film tertentu yang sedang diputar, jangan hanya ingin mengeruk untung yang lebih tapi mengesampingkan efek yang akan didapatkan oleh penonton 'dibawah umur' yang hanya bisa ikut mempraktekkan adegan dalam gedung bioskop anda tanpa berfikir panjang.

Bisa saja anda berfikir bahwa 'anak-anak' itu adalah tanggung jawab orang tuanya, bukan tanggung jawab anda. Tapi tolong pikirkan bahwa jika mungkin sesuatu yang bersifat 'praktikal dari film' itu dilakukan oleh anak anda sendiri? Bukankah miris rasanya kita ikut andil dalam menciptakan generasi yang seharusnya belum matang tapi sudah duluan matang?

Sekian curhat dari saya, sekian dan terima kasih.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
; //]]>