Anak Baru Jangan Berulah deh..

 

Sejak awal bulan ini, kantor saya ketambahan 2 anak baru untuk ditempatkan di posisi administrasi pelelangan Gedung yang otomatis mejanya jadi satu dengan kita-kita, sedangkan satunya lagi di posisi administrasi E-Proc yang kantornya di luar kantor induk kita. Untuk masalah anak baru yang menangani E-Proc sih gak ada masalah ya, nah yang satunya lagi ini nih, entah saya yang terlalu sensitif, menjunjung tinggi senioritas atau apalah itu, yang jelas satu kantor sepakat dengan apa yang saya rasakan tentang si anak baru. Oooh.. anak baru...


Hari pertama dia masuk kerja, okelah pagi-pagi belum terlihat gejala apapun dari gerak geriknya. Menjelang makan siang dia mulai berani bercerita dan mungkin maksudnya dia sih sedang berusaha mengakrabkan diri dengan kita-kita yang lebih dulu di sini, Okey bisa diterima. 

Sampai tiba saatnya setelah makan siang dia mulai berceloteh kepada salah seorang teman, panggil saja mbak Yani (yang notabene gualak dan super tuueeggaaaa kalo sama orang yang gak disukainya *Pisss mbak, aku udah membuatmu terkenal di sini ^_^). Dia mulai membanggakan kantornya yang lama yang menggajinya sebesar berapa juta rupiah per bulan, lalu mulai bertanya (lebih tepatnya menyelidiki dengan sedikit nada memaksa untuk dijawab) tentang berapa gaji di sini. Buseeettt.... nih anak baru kerja aja belom udah tanya gaji segala, emangnya gak dikasih tahu ya sama orang kepegawaian. Ya sama mbak Yani dijelaskan panjang kali lebar kalau gaji di sini cuma setengah dari gajinya di kantor lama, dan tebak pemirsa, dia memasang wajah kaget sekaget-kagetnya. Setelah dia mendapatkan info tentang gaji, ganti lagi dia mengorek tentang insentif, tentang apakah sering dapat 'insentif' dari rekanan, tidak lama kemudian si anak baru mulai menginterogasi satu-satu teman-teman yang lain tentang 'alasan' kami awet di sini padahal gajinya kecil. Busyyyeeettt.... (kali ini pake triple Y), Gila amat nih cewek, kelewat berani amat berbicara sesuatu yang sebetulnya bisa dia tahu sejalan dengan waktu dia kerja di sini, justru hal-hal yang menyangkut apa yang akan dia kerjakan di kantor ini saja dia gak nanya sama sekali, eh malah hal yang menyangkut privacy keuangan yang diselidiki.

Saya sampai heran, mestinya dia tahu di kantor instansi pemerintah apalagi di instansi pendidikan seperti ini gajinya pasti kecil, lha trus kenapa resign toh ya? Mana dia juga dengan bangganya bercerita bahwa perusahaannya siap menebus 10 juta rupiah (honorer kalau mau resign sebelum 2 tahun masa kerja, maka harus membayar uang pengganti sebesar 10 juta rupiah!) untuk menariknya kembali ke perusahaan yang lama, Hmmm... silahkan ajalah, mungkin itu lebih baik. 

Yang bikin saya sedikit geleng-geleng kepala lagi adalah pertanyaan dia tentang bagaimana caranya penyetaraan ijazah supaya gajinya sedikit naik. Lha wong dia kerja aja belum satu bulan udah tanya penyetaraan, entar lah kalo udah lima tahun baru nanya begituan. Tanya lagi tentang gimana caranya biar diangkat jadi PNS. Beuh! Saya pun kalau tau caranya pasti saya bakal jadi PNS sekarang ini. Dari situ saya berfikir jangan-jangan nih anak baru pastinya orientasinya buat jadi PNS, ckckck.. kejauhan bu.. hehehe. Dari situ saya mulai mereka-reka kalau orientasi si anak baru ini udah menyangkut masalah gaji dan PNS, wah jangan harap pekerjaannya (yang digaji kecil ini) akan beres nih. Memang sih, kita bekerja itu tujuannya untuk memperoleh penghasilan dan masa depan yang gemilang (ciee..), tapi kalau orientasinya dari awal sudah melulu uang, maka dalam bekerja saya tidak yakin akan dikerjakan sepenuh hati kalau mengingat penghasilannya nanti tidak sesuai dengan yang dibayangkan.

Mulai hari ke lima saya sudah mulai memberi perkerjaan yang ringan untuk menge-set suatu kontrak, jadinya bener-bener mengecewakan, seolah dia mengerjakan asal-asalan padahal sudah ada contoh dan list yang saya berikan, tapi hasilnya masih juga belum sesuai, ya sudah lah mungkin karena masih baru pikir saya. Besoknya saya kasih lagi kerjaan yang sedikit menguras pikiran untuk menjadwalkan suatu pelelangan dan menyediakan nomor untuk di keep. Setelah saya lihat kali ini pekerjaan-nya lumayan beres, maka saya bisa sedikit tenang. Tapi dari yang saya nilai, nih anak kok gak ada inisiatif-inisiatifnya sama sekali yak untuk menawarkan bantuan apalagi setelah pekerjaannya beres lebih awal? Bahkan untuk makan, pulang kerja dan apapun kita tidak dipamiti. Saat anak-anak pulang agak 'malam' untuk menatakan tempat baru untuk dia, dia malah ngacir pulang, padahal tuh meja buat dia, nawarin untuk membantu pun enggak. Beberapa hari kemudian dia rewel minta ganti meja karena menurutnya tempatnya yang langsung di bawah AC itu membuatnya kedinginan, Duh! Moga-moga saya sebagai cewek ini terlalu sensitif untuk menilai orang seperti itu. hehehe.

Maka dari itu, saya mau memberi saran sama teman-teman lain jika memasuki tempat kerja baru sebaiknya apa yang harus dilakukan untuk menghindari santapan cibiran dari orang-orang yang sejenis dengan saya, bahkan mungkin lebih ekstrim.

  1. Anak baru sebaiknya sering menyapa orang-orang lama, untuk sekedar menawari makan yang kita bawa, atau mungkin hanya sekedar tersenyum.
  2. Jangan pernah menanyakan gaji kepada orang-orang lama, karena menurut saya itu kurang pantas! Kalau mau tahu berapa gaji yang kita dapat, sebaiknya menunggu sampai akhir bulan.
  3. Jangan mengajak ngobrol orang-orang lama jika terlihat bahwa mereka sedang sibuk.
  4. Jadilah orang yang ingin tahu tentang apa yang harus kita dikerjakan, bertanya kepada orang lama jika orang itu tidak sedang sibuk tentunya.
  5. Jadi orang yang tanggap dan menawarkan bantuan jika memang apa yang kita kerjakan masih belum banyak. ex. angkat telpon, membantu serabutan pekerjaan kecil yang bisa kita lakukan, atau apalah yang bisa kita lakukan daripada kita cuma diam menunggu apa yang akan diberikan kepada kita. karena bisa jadi kita tidak diberi pekerjaan karena dianggap belum cukup tanggap untuk mengerjakannya.
  6. Cari tahu sendiri kebiasaan orang dikantor apa, lalu belajar menyesuaikan diri tanpa merubah jati diri kita supaya tercipta suasana kantor yang kondusif. Ingat! Kita yang memasuki kantor baru, jadi sudah seharusnya kita yang menyesuaikan diri, bukan sebaliknya.
  7. Menerima fasilitas apapun asal fasilitas itu bisa mendukung pekerjaan kita, jangan rewel minta ini itu dengan spek yang tinggi padahal fasilitas yang ada masih bisa digunakan.
  8. Tidak usah berkomentar atau ikut bercanda jika kumpulan orang lama sedang bercanda, karena kita masih belum tahu situasi, bisa jadi komentar kita itu malah merusak suasana di antara mereka.
Sudah, sementara itu tips dari saya. Dan semoga bisa dicoba ya.. GUD NITE ALL..



4 komentar:

  1. aq aja yg udah ratusan taun belum jd pns.... cewe br yg mn sie wid? cakep gs? hehe

    BalasHapus
  2. wes duwe bojo maaasss.... wes duwe anak sisaaaann.. jauh-jauh deh, ingat anak istrimu..

    *seplak

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.
; //]]>