Semua Pasti Ada Hikmahnya...

Pagi kemarin saya datang ke kantor agak pagi karena mempersiapkan dokumen untuk keperluan pemeriksaan BPK di kantor, tapi ternyata di samping tegang mempersiapkan semua keperluan itu, ada kabar duka dari teman sekantor yang juga kakak kelas sewaktu kuliah dulu. Teman mas Fatur yang juga kakak kelas saya jaman kuliah dikabarkan baru saja dapat musibah suaminya meninggal. Mbak Rana, kakak kelas yang malang itu memang tidak terlalu dekat dengan saya semasa kuliah, tapi kami pernah beberapa kali dipertemukan dalam kegiatan kampus bersama sehingga sedikit banyak saya mengenalnya.


Wajahnya manis, tubuhnya juga mungil, serta cara bicara sedikit malu-malu kucing serta perawakan yang kalem benar-benar membuat saya tidak menyangka bahwa dia adalah langganan pemegang IPK tertinggi seangkatannya. Oke, balik lagi ke masalah mbak Rana yang kemarin pagi ditinggal pergi suaminya untuk selama-lamanya itu, akhirnya saya pun mencari kabar via facebook dan benar saja, di wall nya sudah banyak ucapan belasungkawa dari teman-teman dan saudara-saudara mbak Rana. Dari Wall itu juga saya tahu bahwa mbak Rana sedang mengandung, setelah mengucapkan turut belasungkawa juga di Wall Facebook nya saya segera menceritakan pada mas Fatur bahwa ternyata mbak Rana sedang mengandung usia 4 bulan.

Saya sih menceritakannya dengan santai cenderung happy, karena memang terakhir saya bertemu dengan mbak Rana, kita sedang saling mendoakan karena lumayan lama menikah tapi sama-sama belum dikaruniai momongan, begitu mendengar mbak Rana sudah mengandung 4 bulan saya rasanya juga ikut senang. Tapi di luar dugaan saya, ternyata teman-teman kantor yang sedang mendengarkan saya bercerita tentang kehamilan mbak Rana, mereka cenderung berfikir bahwa mbak Rana sudah ditinggal suami, mengandung pula. Loh kok? Pikir saya. Kok sepertinya mbak Rana itu terlihat sial bertubi-tubi di mata mereka dan mengundang mereka untuk mengiba.

Padahal menurut saya, Allah punya rencana lain dibalik ketetapannya. Dari mana saya punya pemikiran seperti itu, tentu saja dari percakapan terakhir kali saat saya bertemu dengan mbak Rana, di situ mbak Rana terlihat berharap sekali punya momongan tapi masih belum-belum juga, dan dia sadar bahwa mungkin belum waktunya dia punya momongan, bahkan dia sempat mengatakan sesuatu pada saya, " Iya Wid, mungkin ada hikmah di balik semua ini. " Kata-kata itu pula yang menyemangati saya karena saya ada di dalam situasai yang sama dengannya tentang momongan.

Setelah kejadian meninggalnya sang suami, maka saya mulai mengerti hikmah yang dimaksud mbak Rana itu. Menurut saya, hikmah pertama yang bisa saya petik adalah, Allah menunda memberi momongan pada mbak Rana karena Allah sudah menetapkan umur suami mbak Rana hanya sampai sini, sehingga Allah mengganti kesedihan perginya suami dengan anak yang ada dalam kandungannya, kelak anak itu bisa melindungi dan menghiburnya untuk menggantikan sang suami yang tidak lagi bersamanya. Hikmah yang kedua mengapa dia ditinggal sang suami saat usia kandungannya mencapai 4 bulan adalah karena mungkin mbak Rana tidak akan kuat menahan rasa sedih di awal kehamilannya sehingga dapat menyebabkan dirinya kehilangan sang jabang bayi di usia yang masih sangat muda. Dan hikmah terakhir yang bisa saya petik adalah, saya tahu Allah sedang menguji mbak Rana karena Dia merasa bahwa mbak Rana adalah orang yang dapat melalui semua ini dengan rasa ikhlas dan sabar.

Ya, sekarang saya mulai mengerti bahwa segala sesuatu yang ditetapkan Allah pasti ada hikmahnya, dan itupun menjadi pembelajaran saya pribadi agar tidak mudah mengeluh terhadap apa yang sedang terjadi atau apa yang sedang saya alami dalam hari-hari saya. 
Terakhir buat Mbak Rana, yang sabar ya mbak sayang, InsyaAllah akan ada pengganti yang sudah disiapkan oleh Allah untuk menjalani hari-harimu ke depan..


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
; //]]>